(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketiga puluh



Momen kebersamaan Arya dan Felitha tidak sia-sia, meskipun membawa Damar dan Grace di sana. Tapi momen kedua pasangan itu sama sekali tidak terganggu, malah di taman itu Arya sengaja memamerkan keromantisan dan perlakuan lembut kepada Felitha.


Hampir semua pengunjung di sana terpaku dan takjub akan perlakuan Arya kepada Felitha, mereka tidak lagi memikirkan kekurangan fisik dari Arya yang duduk di kursi roda, melainkan memperhatikan perhatian dan perlakuan manis kepada Felitha. Jujur itu membuat beberapa kaum hawa ingin memiliki kekasih yang mirip seperti Arya dalam memperlakukan mereka, juga kaum adam yang begitu mengagumi Felitha, gadis yang menerima kekurangan fisik dari kekasihnya.


Disisi lain, Damar dan Grace hanya menggelengkan kepalanya, rasanya Felitha dan Arya kini seperti artis yang sedang dikagumi dan dilihat oleh beberapa pengunjung taman.


Wah, Kak Arya pasti belajar dari Kak Arjun nih.. Awalnya aja dingin kaya es, eh sekarang jadi hangat kek matahari Batin Damar menatap Arya yang bisa bertingkah romantis seperti Arjun.


Disisi lain, Grace bersyukur sahabatnya mendapatkan kekasih yang baik dan sangat perhatian, dalam hatinya berharap dirinya juga mendapatkan kekasih yang lembut dan perhatian seperti Arya.


Tiba-tiba sesuatu dirasakan oleh Arya sendiri, lelaki itu merasakan ada seseorang yang mengintai mereka. Entah siapa, tapi sepertinya Arya mengetahui siapa pelakunya. Lelaki itu menyeringai dalam hati, dia seperti sudah menduga kejadian ini, dia kemudian menarik Felitha ke dalam pelukannya, sejenak orang disana sedikit histeris senang dengan.


Tapi kesenangan itu berakhir, setelah sebuah peluru melesat dan mengenai tangan Arya, jujur itu adalah detik-detik menegangkan untuk Felitha dan semua yang ada disana.


dor !!


Suara tembakan terdengar, lalu darah dari tangan Arya mulai bercucuran keluar. Seketika ada pengunjung yang langsung memanggil petugas, dan kemudian suasana sedikit ricuh dan takut, akan terjadi penembakan lagi.


Di tengah kericuhan, Damar dan Grace mendekati ke arah Arya. Segera Felitha kemudian melihat sebuah perban yang memang disediakan di kursi roda, dan juga obat merah. Sementara beberapa polisi menenangkan para pengunjung yang ketakutan, dan sebagian dari mereka menelusuri seluruh daerah taman, takut jika pelaku penembakan masih ada disekitar sana.


"Aku akan mengobati luka mu." Ujar Felitha dengan sedikit rasa takut karena melihat darah yang bercucuran, Felitha memang seorang perawat tapi dia sedikit takut dengan yang namanya darah.


"Kau yakin ?? Apakah kau bisa ?? Kau tidak takut ??" Ujar Arya melihat sedikit rasa ngeri di mata indah Felitha saat melihat lengannya yang terluka.


"Percayakan padaku."


"Baiklah.


Arya hanya mengangguk saja, lalu Felitha kemudian membersihkan darah yang keluar begitu banyak membasahi lengan lelaki itu, kemudian memberikan sebuah kapas khusus luka yang sudah di tetes obat merah, lalu dengan kain khusus mengikatnya disana.


"Ayo kita kembali ke rumah." Ujar Arya.


Felitha, Damar, dan Grace mengangguk. Lagipula suasana berubah begitu saja akibat penembakan yang terjadi pada mereka. Mood mereka seketika berubah dari yang tadinya senang dan ceria, kini sedikit khawatir dan takut.


Beruntung Felitha dan Grace merupakan tipe perempuan yang cukup tenang, meskipun banyak orang berkeluyuran sembari berlari ketakutan, mereka tetap tenang berada disisi Damar dan Arya, selagi kedua lelaki itu masih ada, sepertinya keduanya tidak akan mudah takut begitu saja.


SEMENTARA..


"Betapa manisnya, masih belum mau berbicara ??"


"Akhh !!"


Sosok yang memakai pakaian tertutup, hanya bisa pasrah. Setelah mencoba melakukan penembakan pada Arya, sosok itu ditarik oleh kedua orang yang tidak lain adalah Altan dan Adnan, mereka berdua sudah merasakan sesuatu yang salah, jadilah keduanya secara diam-diam pergi mengikuti mereka. Oh iya, Arya mengetahui itu semua, dan bertingkah seakan dirinya tidak mengetahui apapun.


"Katakan, siapa keparat yang menyuruhmu ?!" Ujar Altan dengan tidak sabar, melihat sosok itu diinjak dengan kasar oleh Adnan, dan disiksa hingga berdarah tapi, dia enggan mengatakan apapun disana.


"A..aku tidak akan...mengatakan.. apapun pada kalian.."


"Sialan !!!"


Altan kemudian memukul bagian kepala sosok bertudung itu dengan tongkat baseball cukup keras, sehingga sosok itu hanya bisa menggigit bibirnya sendiri agar dia tidak bisa berteriak.


Bugh !!! Bugh !! Bugh !!


Hingga beberapa pukulan dan itu membuat sosok itu tidak bergerak sedikitpun. Setelah diperiksa ternyata sosok itu meninggal dengan kondisi mengenaskan.


"Ah, sial !! Kita tidak mendapatkan informasi apapun !!" Ujar Altan kesal.


"Tenang, dia benar-benar bodoh. Aku menemukan rekaman suara di kantong bajunya, serta beberapa bukti transfer kepadanya." Ujar Adnan dengan santai menunjukkan bukti itu kepada Altan.


"Suaranya terlalu indah untuk di lewatkan. Sudahlah, lagipula dia sudah mati." Ujar Adnan dengan santai.


"Aku yakin, diantara kita berlima. Hanya kau yang memiliki jiwa psikopat paling tinggi."


"Heh ?! katakan itu pada seseorang yang menusuk mata pelayan, hanya karena dia menumpahkan minuman ke baju." Cibir Adnan mengingat perlakuan sadis Altan kepada pelayan beberapa bulan lalu.


"Ya.." Ujar Altan dengan kesal, kenapa dia malah mengingat peristiwa tidak penting itu.


"Lebih baik kita pulang, sebelum mereka datang ke rumah." Lanjut Altan menatap ke arah Adnan yang membersihkan beberapa pisau dan juga tongkat baseball yang sudah berdarah disana.


"Oke."



"Kenapa mereka mendadak menembak Kak Arya ??" Tanya Damar sembari mengemudikan mobil dan terus bertanya-tanya, meskipun Arya yakin sebenarnya Damar tahu, tapi akting lelaki itu jauh lebih pintar dari yang dia duga.


Seharusnya Damar menjadi artis saja, dia bisa menjadi aktor terbaik dari Indonesia, siapa tahu dia disewa dan dipanggil oleh sutradara luar negeri.


"Entahlah.. Atau mungkin orang yang salah sasaran ??" Ujar Arya dengan menggelengkan kepalanya sendiri.


"Ya sudahlah, bagaimana jika setelah ini mampir beli ice cream, ya hitung-hitung nenangin diri dulu sebelum pulang." Saran dari Damar, dan diterima oleh Felitha dan Grace, Arya tidak mengutarakan rasa keberatan, itu berarti dia secara tidak langsung menyetujuinya.


"Boleh deh, Kak Damar."


"Ice cream enak."


"Terserah aja sih."


"Tumben gak nolak, biasanya Kak Arya paling gak suka ice cream."


"Gak papa."


"Atau karena ayang Felitha kepengen, jadi nurut sama ayang ?? Emang harus gitu, apalagi kalau nikah, suami harus nurut sama istri." Celetuk Damar panjang lebar, dan jujur itu membuat Arya kesal.


"Diem !! daripada ini sepatu melayang di udara !!"


"Iya, Kak Arya paling ganteng sedunia."


"Najis !"


"Halah, dipuji Felitha ganteng aja pasti klepek-klepek."


Arya memutar matanya malas, meskipun apa yang dikatakan Damar ada benarnya. Jika yang memuji adalah Felitha, tentu saja Arya akan dengan senang hati mendengarkannya setiap hari. Tapi karena Damar adalah lelaki, terlebih dia adalah saudaranya sendiri, tentu saja jijik mendengarkan pujian tampan darinya.


~ ~ ~


Hey semua.. Apa kabar kalian hahahaha..


Aku berniat pengen sih, publish cerita baru lagi, menurut kalian gimana ?? Ya, sehari sekali sih, dalam dua cerita itu.


Paling libur seminggu sekali aja, gak berkali-kali.


Itupun kalau kalian mau, hehehe..


Udah ya sekian..