(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Keduapuluh empat



Felitha dengan keberanian penuh, menyelidiki dan mengikuti jejak darah itu hingga berhenti tepat di depan pintu ruangan milik Alto. Kenapa ini seperti alur dalam mimpi Felitha, hanya saja dalam mimpinya Felitha tidak mengikuti jejak darah seperti ini. Matanya menangkap pintu ruangan itu terbuka sedikit.


Tangannya membuka pintu ruangan itu secara perlahan, dan terkejut bukan main melihat seorang entah siapa, menggunakan pakaian pelayan perempuan dengan tubuh yang berdarah, sosok perempuan itu masih hidup, dia bahkan masih bisa menatap ke arah Felitha, dan seakan meminta bantuan. Ruangan didalam sangat gelap, hanya ada satu lampu utama di bagian atas tubuh perempuan itu, lampu itu saja pencahayaannya remang-remang.


"To..tolong aku.." Dengan tatapan penuh harapan, dan tangan terangkat seakan minta tolong pada Felitha, sebagai sesama perempuan rasa belas kasih tentu saja dia rasakan. Dan keinginan kuat untuk membantu perempuan pelayan itu, tanpa memikirkan kondisi sekitar.


Tanpa berfikir panjang, Felitha memasuki ruangan dan mendekati perempuan yang terlihat sudah tersiksa dengan luka sayatan di setiap tubuhnya. Felitha menundukkan tubuhnya menatap dengan penuh rasa bingung, dan takut, serta penasaran apa dan siapa yang melakukan ini padanya.


"Ba..bagaimana bisa ?? Siapa yang melakukan ini padamu ??"


"Me..mereka.. Melakukan ini padaku.. Tolong, telfon ambulan.. dan polisi.."


Felitha mengangguk, dia segera bergerak keluar dari ruangan tapi seorang lelaki menghadangnya dari luar, dan langsung menangkap Felitha kemudian mengurung perempuan itu dengan tubuhnya, dan juga dinding. Tidak lupa, kedua tangannya menjadi pembatas untuk menahan di kanan dan kiri.


Gadis itu membuka matanya, dan terkejut melihat sosok yang menghadangnya. Wajahnya dipenuhi oleh cipratan darah, juga baju lelaki itu, senyuman licik, serta tatapan nya yang berbeda dari biasanya.


"Kak...Kak Arjun ??"


Arjun menyeringai licik, sementara Felitha merasa sangat ketakutan dengan melihat Arjun yang dipenuhi darah, dan sosok perempuan pelayan itu. Otak nya bekerja, dan langsung mengetahui siapa yang menyiksa dan hendak membunuh pelayan perempuan malang itu.


"Kak.. Arjun.. apa yang kau lakukan ??" Felitha memberanikan diri untuk bertanya meskipun sebenarnya tubuhnya sudah bergemetar ketakutan saat ini.


Tidak ada jawaban, justru Arjun mulai memaksa memeluk tubuh Felitha, dan membuat gadis itu memberontak. Tanpa diduga, sosok Arjun yang dia pikir adalah lelaki lembut berhati malaikat itu justru menampilkan hal yang berbeda malam ini. Arjun terlihat seperti sosok sadis yang sangat kuat dan tangguh. Felitha bahkan tidak berdaya di pelukan yang diberikan oleh Arjun.


Tidak hanya pelukan, kini Arjun mulai menghirup aroma dari bagian leher milik Felitha, dan membuat sensasi rasa geli, dan takut menjadi satu dalam tubuh Felitha saat ini.


"Ka..Kak Arjun.."


Tanpa di duga, Arjun mendekatkan wajahnya pada telinga Felitha. Gadis itu terkejut bukan main saat mendengarkan suara rendah dan mendesis, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dari Arjun sendiri.


"Fe...li...tha~"


"Kak... Arjun ?? bisa bicara ??"


Arjun tidak menjawab apapun, dan hanya mengecup bagian telinga Felitha. Hingga suara pintu ruangan tertutup dengan suara, dan lampu di dalam ruangan menyala semua. Membuat Felitha kini menyadari jika didalam ruangan tidak hanya Arjun, tapi juga Alto, Altan, Adnan, dan juga Arya.


"Kau terlalu bersemangat, Arjun." Ujar Adnan menatap saudara kembarnya itu memeluk Felitha dengan posisi yang.. Err.. sedikit ambigu itu.


Arjun hanya menatap datar, dia pun melepaskan Felitha dari sana. Dari sanalah gadis itu menyadari tidak hanya Arjun yang memiliki bercak darah, tapi juga Adnan dan Altan di sana, keduanya bahkan membawa pisau lipat berlumuran darah.


"Kenapa, Felitha ?? Kau suka dengan kejutan kami ??" Ujar Adnan dengan menyeringai licik di sana.


Sementara Alto kemudian berdiri di tengah dan berseberangan dengan Felitha, sementara pelayan perempuan yang sekarat itu berada di tengah-tengah Alto dan Felitha.


Alto mulai mengeluarkan sebuah pistol di sana, dan mengarahkannya pada pelayan perempuan itu, dan tersenyum dengan puas.


"Felitha, sekarang kau tau kegunaan pistol di laci ku, bukan ??"


"Kak.. Ja..jangan.."


Felitha tahu apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu saat menodongkan dan mengarahkan pada sosok pelayan yang sudah tidak berdaya itu. Bahkan yang ditodongkan hanya bisa pasrah dan menutup matanya, mengetahui ajal sudah didepan mata.


Dor !!!


Felitha menutup mulutnya sendiri, melihat Alto menembak pelayan perempuan itu tepat di bagian jantungnya, hingga darah sempat muncrat di sekitar lantai. Kakinya lemas melihat peristiwa pembunuhan kejam yang ada di depannya sendiri, dia tidak bisa berfikir dengan jernih saat ini, hanya ada ketakutan dalam hati dan pikirannya.


Alto melangkah melewati mayat itu dengan santai, seakan sudah terbiasa dengan mayat yang berada di lantai. Lelaki itu berada tepat di depan Felitha, menundukkan tubuhnya sendiri. Dengan ibu jari dan telunjuk, dia menjepit dagu Felitha, dan mengangkat wajah gadis itu menatap ke arahnya. Felitha masih melihat wajah dengan kain yang tetap menutupi bagian matanya itu. Alto menyeringai licik di sana, Dia tahu Felitha saat ini begitu ketakutan dan menangis hanya dari suaranya.


"Ja..Jangan bunuh aku.." Felitha ketakutan saat melihat Alto masih membawa pistol di tangannya yang lain.


"Tidak, kami tidak menginginkan kematian mu Felitha.. Kami menginginkan mu !" Alto berbicara dengan nada rendah, dan berdesis penuh obsesi dan keinginan yang kuat.


"A..apa ??" Felitha membulatkan matanya, bahkan suaranya hampir tidak ada dalam berbicara, karena otaknya kembali menerima sesuatu yang salah dan berbeda, dia berfikir akan mati begitu saja mengetahui aksi mereka, tapi kenyataannya ??


"Apakah kau ingat Felitha, aku pernah bertanya mengenai psikopat yang jatuh cinta padamu." Ujar Arya mengingatkan Felitha akan perkataannya sendiri, membuat gadis itu mulai terkejut, jadi ucapan Arya adalah sebuah petunjuk yang tidak pernah dia duga sebelumnya ??


"Itulah kami, kami sudah lama menginginkanmu." Lanjut Arya dengan nada penuh obsesi. Felitha terdiam, tidak menyangka jika selama ini secara diam-diam kelima lelaki ini menginginkannya dan terobsesi padanya, tapi.. Apa yang mereka lihat dari Felitha ?!


"Felitha.. jadilah kekasih kami berlima, dan tutup mulut atas kejadian yang kami lakukan. Maka kami tidak akan pernah menyakitimu, bagaimana ??" Ujar Alto memberikan sedikit penawaran yang tentu saja, itu hanya akan memaksa gadis itu untuk menuruti mereka. Karena Felitha tahu, jika dia menolak maka satu-satunya pilihan lain adalah kematian.


Felitha tidak tahu, apakah dirinya harus menjadi kekasih dari lima psikopat gila ini, atau memilih untuk mati ditangan kelima lelaki ini dengan cara yang cukup sadis ??


"Ba..baiklah.. Tapi berjanjilah.. untuk tidak menyakitiku."


Jawaban itu membuat kepuasaan tersendiri bagi kelima lelaki itu, sementara menjadi sebuah perubahan besar kehidupan Felitha untuk sekarang ini.