
Hari ini kepulangan Zahida karena kondisinya telah dinyatakan lebih baik oleh Kamila.
Dalam kamar rawat, Zahida hanya sendiri tatapannya lurus menjelajah ke dalam ingatan masa lalunya. Kenangan dengan keluarganya dulu bersama ayah, ibu dan kakaknya muncul bergantian. Sehingga membuat buliran air lolos dari kelopak matanya.
"Ceklek.... "
Tanpa di sadari Fahri masuk ke dalam, Zahida terhanyut dalam kenangannya. Fahri duduk di sofa dengan tangan mendekap pada dadanya dan melihat ke arah Zahida.
"Ehem... "
Zahida tetap tidak terganggu dengan deheman Fahri. Fahri sangat jelas melihat bahwa Zahida tengah menangis dalam keadaan melamun.
"Zahida... " ucap Fahri dengan nada lumayan tinggi.
"I iya" Zahida menjawab karena terkejut dan dengan nada terbata - bata.
"Bagaimana keadaanmu? " tanya Fahri kemudian beranjak mendekati Zahida.
"Baik pak" menjawab dengan menunduk.
"Zahida... nanti kamu akan tinggal bersamaku dan juga bundaku."
"Tapi pak.... saya ingin tinggal di rumah saya sendiri." jawab Zahida menunduk.
"Tidak ada penolakan" jawab Fahri tegas.
Mendengar perkataan Fahri, Zahida kembali terisak, pipinya sudah basah karena sedari tadi menangis ditambah dengan intruksi Fahri yang memaksa tanpa menerima pertinbangan darimanapun.
Fahri mengeluarkan benda pipihnya.
"Yan... tunggu urus urusan di kantor"
"Pak... apakah kita pulang sekarang? "
"Ya"
"Apakah bisa bapak keluar dulu?"
"Kenapa? "
"Saya mau ganti jilbab saya"
Tanpa memberikan jawaban, Fahri beranjak keluar.
Di luar kamar..
Mirna datang bersama bundanya Fahri yaitu bunda Ani. Mereka datang untuk menemui Zahida. Bunda Ani ingin mengetahui bagaimana Zahida. Karena anak semata wayangnya tertarik Pada Zahida. Fahri sudah menceritakan semuanya kepada bundanya, bagaimana keadaan rumah tangganya dengan Kamila yang selama ini ia tutupi dengan rapi.
Flasback On
"Assalamualaikum.... bunda... " ucap Fahri ketika memasuki rumah bundanya. Bunda yang ada di dapur segera menghampiri putra semata wayangnya tersebut.
"Wa'alaikumsalam... Fahri."
"Bun... Fahri akan memberitahu bunda sesuatu dan meminta saran dari bunda"
"Ayo duduk ada apa Fahri? Apakah ada masalah di kantor? atau dengan Kamila? " tanya bundanya dengan lembut.
Fahri menceritakan semuanya termasuk keadaan Kamila. Penyebab ia dan Kamila sampai saat ini belum memiliki anak, ia ceritakan semuanya. Bahwa keadaan rumah tangganya sedangv tidak baik - baik saja. Dan Fahri menceritakan tentang Zahida. Dengan antusias dan wajah merona ia menjabarkan sosok Zahida yang telah mencuri hatinya. Ibunya yang melihat rona wajah Fahri menjadi mengerti bahwa anaknya sedang jatuh cinta.
"Bun... Zahida kecelakaan karena aku" ucap Fahri.
"Lalu? " jawab Bunda.
"Aku ingin bertanggung jawab bun?"
"Apakah kamu yang menyebabkan kecelakaan terjadi nak? apakah kamu melakukan sesuatu padanya? "
"Bun... Fahri menyuruh Zahida mengantar dokumen penting ke perusahaan XXX dan diperjalanan ia kecelakaan"
"Berarti bukan kamu yang menyebabkan kecelakaan itu, itu takdir Tuhan"
"Tapi bun" ucapan Fahri terhenti.
"Bunda tahu kamu mencintainya, jangan bermain api dengan kehidupanmu nak, jamu sudah memiliki istri yang baik, jangan sampai kamu menyesal dengan perilakumu" ucap bunda dengan lembut namun tetap menunjukkan ketegasan dalam kalimatnya.
Dengan penuh kelembutan bunda memeluk Fahri dan berucap "Jadilah laki - laki yang baik, jangan menjadi laki - laki yang mudah menyakiti perempuan walaupun perempuan itu telah menyakitimu."
"Iya bun".
"Jadi bagaimana kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada Zahida? " tanya Bunda.
"Aku akan merawatnya dirumah bun."
"Merawatnya di rumah? "
Sedikit terkejut bunda mendengar pernyataan Fahri.
Hening
Hening
Hening
"Baiklah Fahri, dengarkan baik - baik keputusan bunda. Zahida akan tinggal bersama bunda di rumah ini, karena bunda tidak mau anak bunda menjadi suami yang dzalim pada istrinya. Bunda juga hanya bertiga dengan mbok inem dan pak paijan. Bunda akan merawat Zahida dengan baik".
"Tapi.... "
"Tidak ada penolakan.
Flasback Off
"Fahri.... " panggil bundanya dari kejauhan.
"Bunda... Mirna.... "
"Kenapa kamu di sini Ri? " tanya Mirna.
"Zahida sedang ganti pakaian" jawab Fahri.
"Oh... baiklah biar aku yang masuk. Tante tunggu disini atau ikut masuk" tanya Mirna pada bunda Fahri.
"Tante ikut saja" jawab bunda dengan lembut.
"Ceklek"
"Assalamualaikum.... "
"Wa'alaikumsalam... "
"Mbak Mirna.... "
"Hai.. bagaiamana keadaanmu Zahida? "
"Lebih baik mbak"
"Syukurlah"
"Zahida... kenalkan ini bundanya Fahri"
"Assalamualaikum nak"
"Wa'alaikumsalam... Baik tan... "
"Panggil bunda saja"
"Ehm.. baiklah bun"
"Kamu cantik sekali Zahida, dari wajahmu yang teduh, memberi kenyamanan bagi setiap orang yang ada didekatmu, pantas saja Fahri suka denganmu. Tapi sepertinya aku familiar dengan wajah ini" batin bundanya Fahri.
Kedatangan bundanya Fahri dan Mirna membuat Zahida salah tingkah. Ia berfikir apa yang membuat ibu dari atasannya itu sampai menjenguknya.
Beberapa menit kemudian Fahri masuk dalam ruang kamar Zahida bersama dengan Ryan.
"Hai Zahida apa kabarmu? " tanya Ryan.
"Baik pak"
"Aku sangat merindukanmu Da" celeuntuk Ryan.
Semua orang seketika melotot ke arah Ryan begitu juga Fahri menatap dengan tatapan tajam membunuh.
"Eileh... aku becanda.... tapi Zahida seperti adikku sendiri, jadi aku merindukannya sebagai kakak" ucap Ryan.
😃
Hai teman - teman bantu author dengan like, vote dan komentarnya ya.
Dukungan dari teman - teman sangat membantu author.
makasih ya....
😀