
Hai teman - teman jangan lupa tinggalkan jejak ya....like, komentar dan votenya ya...😁😁😁😁
Kembali ke ruang utama, semua orang khususnya Fahri dan bundanya sedang meyakinkan jika Zahida akan baik - baik saja di rumah bundanya Fahri. Namun tidak demikian dengan Adam dan Zahra. Mereka sudah mengambil keputusan untuk membawa Zahida pulang.
"Mbak Indah...saya ingin ke ruang utama" ucap Zahida kepada Indah dii belakang kursi rodanya.
"Baiklah nyonya muda" jawab Indah.
"Aduh apa yang akan terjadi ya. .jadi deg degan begini" batin Indah
"Aku mau pulang" batin Zahida
"Mbak Zahra...Mas Adam....aku mau pulang ke Bandung" pekik Zahida. Semua orang terkejut dengan ucapan Zahida.
"Za ..... kamu tidak boleh pergi." pekik Fahri.
"Maaf... saya ingin mengakiri semuanya, saya mohon biarkan saya pulang" ucapan Zahida dengan nada bergetar karena menahan tangisnya. Namun matanya tidak bisa berbohong karena tetesan air udah jatuh dari kelopak matanya.
"Zahida... dengarkan suamimu nak... kamu masih sakit dan akan berobat ke Singapura minggu depan agar bisa pulih seperti sedia kala" ucap bunda sangat lembut membuat Zahra bersalah dalam hati kecilnya.
"Maaf bunda...."
"Mbak Indah tolong siapkan pakaian saya sekarang, saya ingin pulang"
Indah tak bergeming menunggu keputusan dari tuan dan nyonya besarnya.
"Za....." pekik mbak Zahra.
Tiba - tiba Fahri berdiri dan mendorong kursi roda Zahida kembali ke dalam kamar.
"Za... jangan pergi...minggu depan kita akan ke Singapura untuk mengobati kakimu ini. Aku suamimu Za ...jangan menjadikanku suami yang melalaikan kewajibannyakepada istri. Sungguh aku tidak mau berdosa akan hal itu" ucap Fahri dengan membungkuk di depan Zahida dan memegang tangan Zahida.
Mata Zahida terus mengeluarkan air dari kelopak matanya, saat ini perasaan Zahida berkecamuk. Ia ingin pergi tapi ia harus menurut kata suaminya walaupun di hatinya tidak ada perasaan apapun kepada suaminya itu. Sebuah pilihan yang sulit baginya. Terlebih lagi ia hanyalah istri kedua.
"Tolong biarkan saya pergi...saya janji tidak akan merepotkan anda lagi dan mari kita berpisah" ucap Zahida dengan menutup wajahnyabdengan kedua telapak tangannya. Ia semakin terisak.
Tanpa aba - aba, Fahri memeluk tubuh istrinya. Tercium bau tubuh istrinya yang membuatnya tenang.
Dengan keadaan seperti ini tidak mungkin Fahri memaksa istri kecilnya tersebut. Ia tidak tega memaksanya lagi.
Dengan mengeluarkan nafas berat Fhari berucap " Baiklah jika itu keinginanmu"
Fahri beranjak dan keluar dari kamar.
Sesampainya di ruang utama. "Indah, siapkan keperluan nyonya muda ke Bandung" titah Fahri.
"Fahri....." pekik bunda
"Biarkan dia pergi bunda, ternyata aku salah mengambil keputusan selama ini" ucap Fahri sambil menatap bunda dan menatap smeua orang secara bergantian.
"Silahkan pak Adam membawa istri saya, Saya serahkan semua kepada Allah, jika kami berjodoh kami akan dipersatukan kembali. Untuk saat ini saya tidak bisa memaksanya"
"Alhamdulillah... terimakasih pak Fahri" ucap Adam.
"Umi...pergilah ke kamar Zahida, ambil Aisyah dan Zahida kita puoang sekarang" titah Adam.
"Baik bi..."
Fahri dan semua orang yang ada di ruang utama hanya bisa diam dan melihat setiap pergerakan yang dilakukan Zahida setelah keluar dari kamarnya.
"Bunda...Za pamit pulang, semoga bunda selalu sehat, dan maafkan Za yang belum bisa membuat bunda bahagia." ucapan Zahida membuat semua orang sedih terutama Fahri.
"Tuan Fahri, Nyonya besar...kami permisi dulu" pekik Adam.
"Zahida ingatlah kamu masih menjadi istri saya dan saya berhak melalukan apapun yang terhadapmu. Indah biar ikut kalian ke Bandung" titah Fahri dan beranjak ke kamar.
"Bunda...." ucap Zahida sambil berkaca - kaca.
"Hati - hati" ucap bunda lembut sambil mengelus pundak Zahida dan mencium kening Zahida.
"Zahida...pikirkan lagi tindakanmu ini, kasihan Fahri" ucap Mirna dan diangguki oleh Ryan.
Hai teman - teman bantuin author like, vote dan komentarnya...