Zahida

Zahida
Perseteruaan dua sepupu



Sesampainya di Surabaya, Ryan dan Mirna sepakat langsung ke rumah Fahri untuk menemui bunda.


"Assalamualaikum... pekik Ryan dan Mirna setelah melewati pintu utama.


"Hellooooo.... any body home? yuhuuuuuuuu Mirna yang syantik datang"


"Ih kepedean lu" sahut Ryan.


"Biarin napa yang penting syantik.... weeeeek" timpal Mirna dengan menjulurkan lidahnya.


Setelah memasuki ruang tengah tanpa sahutan, Ryan dan Mirna segera ke taman belakang. Biasanya keluarga Fahri suka menghabiskan waktu disana karena suasana yang tengan dengan banyaknya tanaman hias bunda dan kolam ikan hias.


Tapi raut wajah mereka sendu kembali setelah melihat taman belakang sepi.


"Hoalah sepi... aku mau ke kamar mama dulu"


"Ikuuut.... "


"Mooh males (tidak mau malas)"


"Mboh sak karepmu"


Mirna dan Ryan saling berbalas candaan dengan bercampur candaan dan kejengkelan. Antara Ryan Mirna da Fahri memang yang sangat aktif berbicara adalah Ryan dan Mirna. Fahri yang dingin bagai es kutub utara yang tak mungkin bisa di hangatkan oleh orang lain kecuali oleh bunda dan dua sepuppunya itu.


"Assalamualaikum..... mbak Mirna mas Ryan"


"Zaaaaaaa...... darimana aja... rumah kok sepi, kamu sehat, mamaku bagaimana?" tanya Mirna beruntun.


"Heh Mirna alias Painem.... pertanyaan kamu buat Za bingung jawabnya" timbah ryan.


Zahida melihat tingkah mereka hanya geleng - geleng kepala.


"Bunda sedang mngunjungi saudara yang sedang sakit dengan ibu mas Ryan. Jadi Za saja yang berada di rumah. Sedangkan mas Fahri sudah berangkat ke kantor" terang Zahida panjang lebar dan hanya diangguki oleh kedua orang di depannya.


"Sek sek... pegel sikilku, luwe wetengku (sebentar - sebentar, pegal kakiku, perutku lapar) " jawab Mirna sambil berlal menuju dapur dengan harapan ia dapat memakan beberapa makanan di meja makan.


"Mir.... kamu akan gendut jika kamu makan terus, pipimu akan berjerawat dan kamu akan frustasi karena Rama akan memilih perempuan yang seksi, cantik, dan adikku yang malang akan jadi jombloooooo" suara Ryan terus diucapkan untuk memepengaruuhi Mirna agar segera ke kantor.


"Nyebeliiiiiiiiin" jawab Mirna dari ruang makan.


Za dan Fahri duduk di ruang tengah sembari menunggu Mirna.


"Za.... bagaimana hubunganmu dengan Fahri? apa dia berlaku baik padamu?"


"Mas.... aku baik baik saja... terimakasih atas perhatiannya, mas Fahri sangat baik padaku dan calon anakku" jawab Za.


"Akan aku jaga kamu adikku. adik kesayanganku" batin Ryan.


"Perhatianmu membuat aku seakan memiliki saudara lelaki. Andai saja aku dibesarkan oleh keluargaku sendiri, mungkin aku akan memilki saaudara." Zahida mulai perang batin. Beberapa hari teraakhir memang pikirannyaa terusik dengan jati dirinya. Zahida mengetahui jika Fahri akan mencari jati dirinya dengan mengutus Ryan dan Mirna ke Bandung.


Suara gesekan peralatan makan sudah tidak terdengar lagi, menandakan Mirna sudah selesai dengan ritual makaannya.


Mirna datang dari arah ruang makaan, dengan wajah berseri seperti orang yang mendapatkan hadiah besar. Yah, Mirna memang tidak bisa lepas makan walaupun badannya tetap proporsional. Perutnya tidak bisa bekerja sama dengaan baik walaupum ia sedang sibuk sekalipun.


"Yan.... ayooo..... " ajak Mirna.


"mager"


"Dasar pemalas"


" biarin, kita nunggu bunda saja disini"


"Healaah tahu begitu aku tidak mempercepat mekanisme penghancuran makanan yang ada dalaaaam mulutku" sahut Mirnaa dengan kesal.


"Bunda mungkin segera pulang, karenaa tadi hanya pamit jika pergi sebentar." timpal Zahida.