Zahida

Zahida
Pingsan



hai teman - teman ketemu lagi...


maaf tidak bisa up tiap hari karena kesibukan di dunia nyata.


Selamat membaca....😀


"Ceklek"


Fahri membuka pintu kamar dengan kasar, matanya mencari Zahida di seluruh ruang kamar, tapi tidak ia temukan. Mata Fahri tertuju pada pintu kamar.


Dengan cepat Fahri melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Zahida......." teriak Fahri.


Semua orang terkejut dengan teriakan Fahri. Dan berlari ke arah kamar.


Zahida sudah tergelatak di lantai kamar mandi dan shower dalam keadaan menyala.


"Bunda....Mirna...." teriak Fahri.


Bunda dan Mirna yang datang dengan tergesa - gesa langsung membantu Fahri mengangkat tubuh Zahida. Sedangkan Ryan hanya melihat pergerakan semua orang. Karena ketika ia hendak mengangkat tubuh Zahida, tatapan tajam sudah ia dapatkan dari sang pemilik.


"Zahida....Za...." teriak Fahri.


"Bun....Kamila dimana bun? tanya Ryan.


"Entahlah..." jawab bunda bingung.


"Panggil dokter Heri kesini" teriak Fahri pada Ryan.


"Siap bos"


Ryan yang sibuk menghubungi dokter Heri, tiba - tiba semua orang dibuat terkejut dengan kedatangan Kamila yang masuk kamar.


"Biar aku periksa" tawar Kamila


"Jangan sentuh" teriak Fahri dengan tatapan tajamnya.


"Mas...kasihan Zahida" ucap Kamila lagi.


"Diam...." teriak Fahri lagi.


Kamila yang merasa ditolak, ia pun pergi namun ia berpamitan kepada bunda Fahri terlebih dahulu.


Fahri yang sedari tadi memeluk Zahida terus memanggil manggil nama istrinya itu. Raut kekhawatiran sangat jelas terlihat.


"Sayang....bangunlah...maafkan sikap saya padamu" ucap Fahri.


"Haaaaaah" Celentuk Ryan dan Mirna...


"Sayang....opo kowe krungu..." Ryan bersenandung.


"Kau bisa diam tidak?" teriak Fahri pada Ryan.


"Iya ya bos...bos songong...bos galak... sama Zahida aja sayang - sayangan..lah sama aku dan Mirna kagak ada sayangnya"


"Apaan sih...nglantur aja kamu" Mirna menimpali.


Bunda yang melihat interaksi anak dan keponakannya tersenyum simpul sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Kalau kalian tidak diam...gaji kupotong 30%"


"Dasar bucin"


"Apaan"


"Budak cinta songong..."


"Diaaaaam"


"Tuan Fahri..." pekik dokter Heri yang beberapa menit yang lalu datang


"Dokter....periksa istriku dok?"


"Istri tuan Fahri bukannya dokter Kamila tapi ini siapa? istri kedua? ah tidak mungkin seorang Tuan Fahri memiliki istri lebih dari satu" gumam dokter dalam hati"


Gayung bersambut, akhirnya pertanyaan dokter Heri dijawab oleh Fahri.


"Bagaimana keadaan istriku dok?" tanya Fahri.


"Ampun deh Ri, bisa diam tidak? tanya mulu kayak emak-emak? kamu gak lihat jika dokter sedang memeriksanya. Istri kedua kamu akan baik - baik saja." omelan Mirna pun keluar tanpa jeda.


"Diam..." sambil menatap Mirna dengan tatapan tajam ingin menerkam.


"Mata mau di congkel?" tatapan Mirna tak kalah tajam.


"Maaf bisa diam?" ucap dokter Heri.


Sehenak mereka diam sambil melihat pemerikasaan yang dilakukan oleh dokter Heri.


Kamila yang semula berniat pergi mengurungkan niatnya karena ia ingin melihat bagaimana Fahri memperlakukan Zahida yang tengah sakit.


"Bagaimana Her?" tanya Kamila kepada dokter Heri yang notabene adalah sahabatnya selama menempuh pendidikan kedokteran dan kebetulan juga bekerja dalam satu rumah sakit. Jadi ia tidak canggung walau hanya memanggil nama.


"Hem....sebentar" jawab Heri.


Setelah memeriksa Zahida, dokter Heri menjelaskan bahwa Zahida hanya pingsan namun yang paling dikhawatirkan adalah psikologisnya. Ia tertekan jika dilihat dari keadaannya yang tak kunjung sadar.


"apa dia tertekan dengan pernikahan ini? nyatanya akulah yang memaksanya untuk menikah denganku" gumam Fahri.


"Baiklah tuan Fahri, segera bawa ke rumah sakit jika sampai 3 jam ke depan beliau belum sadar" ucap dokter Heri.


Setelah kepergian dokter Heri, semua orang berkumpul di ruang utama namun tidak halnya dengan Fahri. Ia terus menggenggam tangan Zahida, sesekali ia membacakan doa untuk istri kecilnya agar ia lekas sadar.


"Sayang.... maafkan aku...selama ini sudah terlalu kasar padamu, tolong bukalah matamu. aku janji tidak akan membuatmu tertekan lagi" ucap Fahri sembari mengecup punggung tangan Zahida berulang kali.


Di ruang utama...


"Bunda...."


"Iya nak"


"Kamila mau izin pulang bun."


"Iya hati - hati ya nak"


"Kamila...kamu tidak tidur di sini?" tanya Ryan.


"Tidak...aku akan ke rumah sakit"


Sebenarnya Kamila sangat ingin jika mertuanya menghalanginya untuk pulang karena ia ingin dekat dengan Fahri. Namun kenyataan sangatlah berbeda. Sedangkan hati bunda Fahri sekarang tidak karuan memikirkan nasib anak dan menantunya. Ia bingung harus bersikap bagaimana terhadao Kamila sang menantu pertama.


"Mirna...Ryan kalian menginap di sini kan?"


Mirna dan Ryan saling pandang.


"Kalau Miran sepertinya tidak bun, kan mama ada di rumah baru kembali dari luar kota. Kasihan kalau sendiri di rumah" jawab Mirna.


"Mbak Ratna sudah pulang ya, bunda kangen banget" ucap Bunda.


"Ratna adalah adik dari bundanya Fahri sedangkan ibu Ryan adalah kakaknya. Mereka 3 bersaudara. Dan daru ketiganya memiliki masing - masing satu anak yang seumuran yaitu Mirna, Ryan, dan Fahri.


Pandangan bunda tertuju kepada Ryan.


"Iya bun...Ryan menginap disini, ibu dan ayah kan ada di rumah nenek di Surabaya.".


Di kamar Fahri.


Fahri masih mengelus tangan Zahida dan sesekali mencium punggungnya.


Fahri terus memandangi Zahida dan ia menangkap buliran air menetes di ujung kelopak mata istri kecilnya itu.


Dengan lembut Fahri mengusap air mata itu.


"Sayang...sadarlah. ". ucap Fahri lirih.


Beberapa menit kemudian.


"Tu....tu....tuan"


"Zahida..."


Fahri sontak memeluk Zahida dengan erat seakan ia tak mau kehilangan.


"Sayang... jangan sakit lagi, saya tidak mampu melihatnya" ucap Fahri kemudian merenggangkan pelukannya.


"Kena apa ya dia, kok jadi lembut dan manis begini, aku jadi terhura..eh terharu" gumam Zahida.


"Sa...saya "


"Diam"


"benar - benar berkepribadian ganda nih orang, tadi lembut sekarang keras seperti bunglon aja ganti - ganti" guman Zahida lagi.


"Apanya yang sakit?"


"Tidak ada tuan"


"Kamu ingin apa? biar saya kabulkan keinginan kamu asalakan kamu sembuh?" Fahri berkata seperti itu tidak tanpa alasan, ia teringat perkataan dokter Heri yang mengatakan jika Zahida tertekan.


Berfikir sejenak...


"Cerai" jawab Zahida lirih dan menunduk, ia takut kena larva panas dari suaminya itu.


"Tidak...." jawab Fahri datar. Sebenarnya ia sangat terkejut karena Zahida meminta cerai tapi dengan cepat ia menguasai keterkejutannya.


Hai teman - teman...jangan lupa tinggalkan jejak ya...😀