Zahida

Zahida
Penjelasan Bunda



Wajah semua orang tampak menegang. Hanya Zahida dan mama Ryan yang tidak tahu tentang kebenaran Zahida adalah Maya, adik Ryan. Di saat semua orang kalut dengan pikiran masing - masing, tidak dan Za dan mama Ryan. Mereka berada di taman brlakang, bercanda tawa dengan berbagai cerita dari Za. Sedangkan mama Ryan sudah mulai bisa merespon sedikit demi sedikit.


Di taman belakang...


"Maya.... maya.... anakku" ucap mama Ryan sambil mengelus pipi Za.


"Tante... ini Za... bukan Maya."


"Tidak sayang... kamu Maya anak mama"


Zahida berfikir jika tantenya masih belum bis melupakan Maya maka ia mengangguk pelan.


Sedangkan di ruang kerja Fahri. Semuanya terdiam menunggu bunda menjelaskan, tapi entah menjelaskan apa, karena wajah bunda sendiri memperlihatkan wajah datar tanpa ekspresi.


"Baiklah... dengarkan bunda baik - baik dan bunda mohon jangan mencela sedikitpun, dan Fahri panggil istrimu dan tante kesini"


"Tapi bun.... "


"Sudahlah nak... biarkan mereka tahu"


Wajah Fahri sudah pucat pasi memikirkan semuanya, memikirkan bahwa istrinya ternyata adik sepupunya. Fahri beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan dengan wajah sendu.


Beberapa menit kemudian...


Semua orang telah duduk di ruang itu. Bunda mulai menjelaskan sedetail mungkin tanpa ada informasi yang terlupakan. Bahwa 48 tahun yang lalu, kakek dan nenek Fahri menemukan bayi di pinggir jalan bersama beberapa korban kecelakaan lain di pinggir jalan dan dikerumuni banyak orang serta polisi dan satlantas. Semua korban kecelakaan meninggal hanya satu ayng selamat yaitu bayi perempuan. Bayi itu tak lain adalah mama Ryan. Kakek dan nenek merasa iba terhadap bayi tersebut. Akhirnya. kakek dan nenek mengadopsi bayi tersebut dan menjadi anak bungsu dikeluarga bunda. mama Ryan adalah anak angkat di keluarga bunda.


Setelah bunda menceritakan peristiwa itu, giliran Ryan yang menjelaskan pencarian adiknya yang hilang. Ryan menjelaskan mulai dari penculikan Maya sampai dengan pertemuannya dengan Zahida beberapa bulan yang lalu di kantor saat Zahida tidak sengaja menabrak Fahri di loby kantor.


Sejak bertemu dengan Zahida, kesehatan mama Ryan semakin membaik. Sehingga membuat ketiga saudara itu curiga. Dengan paras yang dimiliki Zahida yang mirip denhan mama Ryan sewaktu muda sudah membuktikan bahwa Zahida adalah Maya.


"Mas.....Zahida langsung berhambur di pelukan Fahri. Tangis yang tertahan pecah dengan isakan yang begitu menyesakkan bagi yang mendengarnya. Fahri mengelus punggung Zahida dengan lembut.


"Sayang... sekarang kamu senang? lihatlah kakakmu dengan menatapku tajam sepertinya ia iri padaku yang telah memilikimu lebih dulu." Fahri mulai mengurai pelukannya.


Zahida masih sesenggukan, air di pelupuk matanya tak bisa berhenti, hidungnya sudah merah. Zahida tak menyangka akan bertemu keluarga kandungnya saat ini setelah sekian lama ia menanti.


"maya.... ini mama" ucap mama Ryan.


"Tante... tante sudah sembuh?" tanya Mirna.


Mama Ryan mengangguk pelan.


"Alhamdulillah.... "


"Ini abang Za" ucap Ryan.


Zahida masih tak bergeming di samping Fahri, hatinya senang namun ia masih terkejut dengan semua yang ia dengarkan.


"Peluklah mama Za, ia merindukanmu" ucap Fahri berbisik.


"Mas... Za... Za... ingin ke kamar"


Fahri tak percaya atas apa yang ia dengar.