Zahida

Zahida
Canggung.



Maaf pak Adam, Bu Zahra kami menganggu malam - malam.


Mirna menjelaskan maksud dan tujuan Fahri datang ke Bandung. Selain ingin mengurus cabang Bandung yang ada masalah juga mengurus perpisahannya dengan dr Kamila. Dan malam ini ingin bermalam di rumah Adam karena ingin melihat keadaan istri mudanya.


"Bagaimana apakah diijinkan?"


"Boleh mbak Mirna...tuan Fahri juga keluarga kami sekarang"


"Terimakasih"


"Oh iya mbak...panggil saja kami mas dan mbak...kalau pak dan bu terkesan kami lebih tua. 😀😀😀" ucap Adam.


"Siap 86" reflek Mirna berdiri dan menempelkan tangan kanannya pada dahi.


Semua tertawa dan datang Indah ingin bertanya pada Adam untuk mengizinkan Indah bermalam di kamar lain yang kosong.


"Pak Adam...apakah saya boleh bermalam di kamar lain yang kosong?" tanya Indah sambil menunduk karena merasa tak enak hati pada sang pemilik rumah.


"Eh Indah, ikut saya saja ke hotel Rama" ucapan Mirna langsung disetujui oleh Indah. Indah berfikir biarlah tuan dan nyonya menghabiskan malam ini berdua. Mereka bisa mendekatkan diri satu sama lain.


Adam dan Zahra saling pandang.


"Bi, apa abi mengizinkan pak Fahri bermalam disini?"


"Kalau tidak diizinkan abi akan dosa umi"


"Terimaksih bi"


"Ehem..."deheman Mirna sukses membuat Zahra dan Adam terkejut.


"Kami permisi Assalamualaikum"


"Kalau kalian bermalam disini juga tidak apa- apa, kami ada kamar tamu yang kosong" ucap Adam.


"Tidak terimakasih bu eh mbak, kami ingin menikmati kebebasan kami yang singkat ini" ucap Mirna cengengesan.


Di dalam kamar, Fahri memandang wajah sang istri begitu teduh, damai, namun terlihat ada buliran air yang lolos dari kelopak matanya. .


"Dalam tidurpun ia bersedih, apa yang kau pikirkan Za...aku disini Za" batin Fahri.


Fahri merebahkan tubuhnya di samping Zahida. Wajahnya kini berhadapan dengan wajah Zahida.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Adzan shubuh berkumandang, Zahida mulai mengerjapkan matanya pelan.


"Astaghfirullah..." pekik Zahida. .


"Za... jangan teriak, malu Za sama kakak kamu"


"Sejak kapan mas di sini?"


"Tadi malam"


"Kok kesini?"


"Memang kamu suruh kan, saya tidak tega membiarkan istri saya sendirian, jadi saya datang kemari!


"Idih percaya diri banget mas Fahri, aku mapah senang tidak ada dia, aku lebih leluasa melakukan banyak hal" batin Zahida.


Tidak mau berdebat, Zahida bangkit san berusaha berpindah tempat di kursi roda. Ia bingung dimana Indah saat ini. Melihat pergerakan Zahida yang akan melakukan kewajiban shubuhnya, Fahri dengan cepat membantu Zahida dengan menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


Zahida tak menolak dan lebih memilih menundukkan kepalanya. .


"Kita sholat berjama'ah, sekarang ayo saya bantu ambil wudhu". pekik Fahri


Setelah sholat, Fahri duduk di sofa membuka benda pipihnya, ia melatunkan ayat Al Quran. Sedangkan Zahida mendengarkan sambil melipat mukenanya.


Sesudah mengaji, Fahri mendekat ke Zahida, berjongkok setara kursi roda Zahida.


"Za....mas boleh peluk kamu?"


"Siilahkan mas" ucap Zahida. Ia tidak mau berdosa terhadap suaminya.


"Mas sangat rindu kamu Za, baru dua hari kita tidak bertemu," bisik Fahri.


"Iya mas"


"Mas...dimana mbak Indah?"


"Entahlah"


Percakapan mereka tak berlanjut. Za...mas beberapa bulan akan tinggal dikota ini. Apalah kamu mau saya dampingi untuk terapi berjalan kamu"


Sebenarnya Zahida enggan menerima tawaran dari Fahri tapi ia tak enak hati.


"Terserah mas"