
Hai...author up lagi ya...mohon maaf jika cerita ini jauh dari sempurna.🤗🤗🤗. Jangan lupa tinggalkan jejak ya....
"Silahkan duduk" Ucap Arif.
Mereka masuk dan menerima penjelasan dari Arif bagaimana teknis pengobatan Zahida. Dan pengobatan ini berkelanjutan. Indah yang sedari tadi mendengarkam Arif sesekali curri pandang pada dokter muda itu. Tapi Indah cukup tahu diri karena Arif tidak akan mungkin menyukainya.
Arif yang menjelaskan juga sesekali curi pandang ke Indah.
"Cantik" gumamnya dalam hati.
"Indah...apa kamu mengerti dengan penjelasan saya?" tanya Arif. Pertanyaan yang seharusnya dilayangkan kepada Fahri ternyata di tujukan untuk Indah.
Fahri dan Zahida saling pandang, tatapan mereka menyiratkan keheranan kepada Arif.
Dapat pertanyaan itu Indahpun kalang kabut. .
"Maaf....sa...saya in sha Allah mengerti." jawab Indah tersipu malu karena pandangan Arif yang tidak beralih darinya.
"Ehem...." deheman Fahri membuyarkan interaksi keduanya.
Akhirnya Fahri dan Zahida tahu jikaIndah dan Arif saling tertarik.
"Rif, kamu gak salah bicara kan?" tanya Fahri.
"Tuan kok lihat saya, pak Arif ada di depan tuan?" tanya Indah sambil gugup seperti maling yang tertangkap.
"Suka - suka saya" jawabnya datar.
Arif hanya menggaruk tekuknya yang tidak gatal.
"Mas Arif, saya dan mas Fahri ada di sini, tapi sepertinya kami tidak dianggap oleh mas Arif" ucap Zahida tersenyum simpul .
"Eh iya..maaf...saya salah bicara ya". ucap Arif.
"Kapan mulai terapinya?"
"Sekarang"
Zahida diantar oleh Indah ke ruang terapi. Zahida mulai melakukan gerakan - gerakan kecil di kakinya dengan bantuan suster dan dokter spesialis Ortopedi.
"Pelan - pelan nyonya"
"Mbak... Za ingin bertanya, apa boleh?"
"Iya nya...boleh - boleh aja asalkan nyonya tidak minta uang aja ke Indah, Indah kan gak punya uang yang banyak." jawab Indah
"Bukan masalah uang mbak. Tapi masalah hati"
Hening sejenak.
"silahkan nya"
"Mbak tertarik dengan mas Arif?"
Yang ditanya hanya tersipu malu mendengar pertanyaan itu. Akhirnya ia ketahuan jika tertarik pada Arif sang dokter muda yang tampan dengan sejuta pesona.
"Saya hanya tertarik mbak, tidak berniat memiliki karena pasti tidak akan mungkin" ucap Indah lirih.
Hening
"Tadi ada dr Kamila di ruangan mas Arif, apa ini alasan mbak Indah mangatakan itu"
"Nyonya jangan tanya itu lagi, saya dan mas Arif seperti langit dan bumi. Saya hanya perawat miskin, tidak sederajat dengan mas Arif" ucap Indah.
Derajat manusia di sisi Allah Swt adalah sama. Tidak ada istilah pilah-pilih kasih dari Allah Swt. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Allah Swt. tidak membedakan-bedakan makhluknya. Mau lain suku, ras, partai, almamater, bangsa, dan lain sebagainya, semua bernilai sama. Dalam artian tidak ada yang lebih diunggulkan. Hanya saja secara personal tentunya masing-masing makhluk berbeda tingkat pengabdiannya atau penghambaan kepada-Nya. Oleh karena itu, ketakwaanlah yang menjadi tolak ukur derajat manusia. Bukan ketampanan, kekayaan, atau kedudukan. Semakin tinggi ketaqwaannya, maka semakin tinggi pula derajatnya. Allah Swt. Berfirman dalam Surat Al-Hujurat (49): 13,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
Zahida menjelaskan bagaimana derajat seseorang diukur.
"Jadi mbak Indah jangan berkecil hati ya" pekik Zahida.
"Tapi...." ucapan Indah menggantung.
"Tapi apa mbak?"
"mas Arif dan dr Kamila sepertinya akan kembali bersatu" ucap Indah lirih.
Sebelum nyonya mudanya bertanya,Indah menjelaskan apa yang ia lihat dan dengar di liby rumah sakut saat menunggu Zahida dan Fahri datang.