
Assalamualaikum….” Suara perempuan yang datang bersama Arif. Zahida yang fokus pada makanannya menoleh pada perempuan tadi.
“ibu…….” Celentuk Adam.
“ jawab dulu salamnya atuh” celentuk ibu Adam dengan senyum simpulnya.
“ Wa’alaikumsalam” jawab semua orang serentak.
"Adam berdiri diikuti dengan Zahra mencium punggung ibunya. Indah pun mengikuti. Kalau Arif sudah lebih dulu dari Adam.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya ibunya Adam dengan lembut.
"Baik bu...Alhamdulillah" jawab Adam.
Pandangan ibunya Adam beralih kepada Indah.
"Ini siapa Rif, Dam?" tanya ibu Adam
"Dia Indah bu, perawat Zahida" jawab Adam.
"Zahra?" tanya bunda seolah olah menanyakam siapa Zahida.
"Bu....saya Zahida, adik mbak Zahra yang di Surabaya" ucap Zahida lembut.
"Za...Zahida...kamu ada di sini nak?"
"Iya bu...maaf saya jadi merepotkan mas Adam dan mbak Zahra".
"Tentunya Adam dan Zahra senang kamu di sini, begitu juga ibu."
Ibu Adam sudah mengetahui keberadaan Zahida dirumah Adam dari Arif.
Setelah kedatangan ibunya Adam, semua berkumpul di ruang utama.
"Za...besok kita mulai terapi untuk kakimu" pekik Arif.
"Iya mas"
"Indah kamu ikut"
"Siap tuan"
"Jangan panggil saya tuan, saya tidak mempekerjakanmu"
"Ba baik tuan...eh...pak...eh...mas"
"Saya suka panggilan terakhir yang kamu sebutkan untuk saya" pekik Arif.
Blush....wajah Indah bersemu merah bak tomat. Di ruangan itu seperti hanya ada mereka berdua. Yang lain mah lewat.
"Ehem...." deheman ibu Adam mengejutkan semua orang khususnya Arif dan Indah yang saling menatap beberapa detik.
"Bu...mari saya antar ke kamar untuk istirahat" ajak Zahra.
"Ayo nak..."
Sementara Zahra mengantar mertuanya ke kamar, Adam memilih ke kamar Aisyah. Dan tinggallah Arif, Zahida dan Indah.
Zahida yang seakan sudah mengetahui jika Arif dan Indah saling tertarik satu sama lain akhirnya memberikan mereka ruang walaupun hanya sekedar berbincang.
"Nya...saya antar"
"Tidak usah mbak, saya mau ke dapur haus, bisa sendiri kok mbak". jawab Zahida sambil menahan tawanya.
Arif dan Indah di ruang utama hanya berdua, nampak kegugupan dalam tingkah Indah.
Hening...hening....hening
5 menit
10 menit
"Ehem...." Arif berdehem.
"Eh i iya" jawab Indah gugup.
"Indah...apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Saya tidak tahu" sambil menunduk dan meremas ujung bajunya.
"Tapi wajah kamu seperti tidak asing"
"Kamu sudah lama kerja dengan Fahri?"
"Baru 5 tahun"
"Lama ya"
"I iya"
"Dulu kamu kerja dimana?".
"Sebenarnya saya asli Bandung mas, sebelum bekerja dengan tuan Fahri, saya adalah perawat di rumah sakit XXX di kota ini. Saya dulu asisten dokter Ajeng Primiastusi yaitu dokter bedah jantung". ucap Indah.
Mendengar penjelasan Indah, Arif terkejut. Ajeng Primiastuti merupakan kakak sepupu dari Arif. Dan dulu ia magang di tempat kakak sepupunya itu.
"Jadi kamu asisten mbak Ajeng"
"Mas mengenal dokter Ajeng?"
"Dia kakak sepupu saya dan mungkin kamu ingat dokter muda yang magang disana 6 tahun lalu itu adalah saya".
"Maaf saya belum ingat mas"
"Tidak apa - apa"
Sementara di bandara Husein Sastranegara, sebuah senyuman tergambar pada sosok pria tampan yang baru turun dari pesawat. Sedangkan wanita di belakangnya tergesa - gesa mengikuti pria tampan di depannya.
"Boooos....tunggu "
"Lelet"
"Idih...galak amat si bos"
"Ayo cepat"
.Hai teman- teman bantuin author dengan like, vote dan komentar.