Zahida

Zahida
Kedatangan Kamila



Hai sahabat reader 🤗


kembali lagi dengan aku


Bismillah author mau rajin up karena kemarin kerjaan di dunia nyata semakin menyita apalagi sambil mengurus dua balita yang sangat gemessh...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan vote nya yah....


Selamat membaca....😃


"Sudah nyonya muda..." ucap Indah.


"Terimakasih mbak Indah" ucap Zahida.


"Hem nyonya sebaiknya jangan memanggil mbak...saya kan hanyaa pelayan di sini" Indah kembali menyahut.


"Jangan mbak..mbak Indah kan lebih tua dari saya, terimakasih ya mbak mau membantu saya"


"Sudah tugas saya nyonya"


Fahri masuk tanpa permisi namun ia tak lupa mengucap salam. Walaupun di luar sikap Fahri sangat dingin pada siapapun namun itu tidak berlaku saat ia bersama keluarga.


Fahri yang dididik oleh ayah dan bundanya dengan nilai agama yang ia anut.


"Indah kamu ke bawah bantu mbok masak makan malam" titah Fahri.


"Baik tuan muda"


Indah segera keluar dari kamar dan melakukan apa yang diperintahkan padanya.


"Hem...."ucap Fahri pada Zahida.


"Tu tuan.."


"Sudah selesai mandinya?"


"Sudah tuan"


Fahri segera menuju lemari dan mengeluarkan mukena dan sajadah dan memberikannya kepada Zahida.


Fahri berjongkok dan memakaikan mukena kepada Zahida.


Zahida kembali meloloskan buliran air yang ada dikelopak matanya.


"Maaf"


"Sudah jangan menangis, jangan cengeng" ucap Fahri.


Fahri memakaikan mukena Zahida dengan hati-hati karena ia tahu istri barunya tersebut terlihat canggung. Mungkin belum terbiasa. Sedangkan Zahida hanya diam dan memejamkan matanya saat dipakaikan mukena oleh Fahri.


"Sudah"


"Terimakasih"


"Sama - sama"


"Tu tuan..."


"Ya..."


"Ceraikan aku"


Jedeeeeeerrrrrrrrrrr


Fahri terkejut dan berjongkok kelihat Zahida.


Dengarkan aku baik - baik "Kita akan terus bersama"


Lagi dan lagi cairan bening lolos dr kelopan mata Zahida.


"Aku sudah berjanji dan berikhar dihadapan Allah"


Zahida yang takut melihat wajah Fahri hanya tertunduk.


"Lihat saya"


"Tu tuan...bagaimana dengan dokter Kamila?"


Tiba - tiba Mirna datang, dan mengajak Fahri dan Zahida ke mushola yang ada di dalam rumah dekat dengan ruang keluarga.


Semua orang sudah berkumpul disana. Memang kebiasaan di rumah bunda ketika sholat semua berkumpul dan melaksanakan peribadahan bersama.


Kali ini Fahri yang menjadi imamnya, menempuh pendidikan akademis dan non akademis di pondok pesantren menjadikan ia fasih dalam melafalkan surat.


"suaranya sangat merdu" batin Zahida.


Setelah selesai, mereka makan malam dan semua berkumpul di meja makan.


"Assalamualaikum...." ucap seseorang yang baru datang dengan nada yang lembut.


Semua orang menoleh kepada siapa yang memberi salam. Dan ternyata yang datang adalah dokter Kamila istri pertama Fahri.


"Wa'alaikumsalam" jawab semua orang yang ada meja makan.


"Semua pada berkumpul rupanya, maaf mungkin kedatangan menganggu" ucap Kamila.


"Ayo Mil, duduk sini kita makan bersama" ajak bunda.


Sedangkan Fahri hanya menatap tajam istri pertamanya itu.


Sedangkan Zahida hanya tertunduk. Perasaannya saat ini sudah dibilang tidak karuan karena saat ini merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.


"Maafkan saya dokter" ucap Zahida sambil terisak.


"Saya tidak apa - apa Zahida, kamu tenang saja ya, semua bukan salah kamu mungkin mas Fahri sedang khilaf" ucap dokter Kamila.


"Mas, bun saya mau mengambil baju saya yang ada di rumah ini dan saya minta tolong dan untuk mas Fahri harus bisa membagi semua hal secara adil."


"Baiklah sayang, tapi jika bunda boleh memberikan saran maka bunda tetap meminta Kamila menjadi menantu bunda tapi bunda akan tetap menghargai keputusan kalian berdua" ucap bunda.


"Mbak Mirna minta tolong mengantar saya ke kamar, saya ingin ke kamar mandi" ucap Zahida memecah ketegangan yangvada di ruangan itu.


"Ayo..." Mirna langsung berdiri mendorong kursi roda Zahida.


Mirna mengantar ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Zahida masuk dan menyalakan shower. Zahida menangis sesenggukan. Yah, niatnya ke kamar mandi hanya alasan agar ia leluasa untuk menangis, menangisi takdir hidupnya.


10 menit...


20 menit...


30 menit...


60 menit...


Zahida masih di dalam kamar mandi. Dan ia pingsan dalam kamar mandi dengan keadaan shower masih menyala.


Mirna yang sudah kembali ke meja makan kemudian ke ruang tengah bersama Fahri, Bunda, dan Kamila. Suasana sangat canggung. Karena Fahri hanya diam, sedangkan bunda masih menasehati agar anak dan menantu pertamanya tidak berpisah.


"Yan, kayaknya ada yang aneh deh" ucap Mirna


"Apaan sih Mir" jawab Ryan dengan mengernyitkan salah satu alisnya.


"Sedetik...


dua detik


tiga detik


"Mir...apakah Zahida di kamar?" tanya Bunda.


"Astaghfirullah....Zahida tadi Mirna tinggal di kamar mandi"


Mendengar penuturan Mirna, Fahri langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke kamar mandi yang terletak di kamarnya.


😄😄😄


jangan lupa tinggalkan jejak ya guys


bye......


😄😄😄