
Harap bijak dalam membaca....segera klik like dan bubuhkan komentar ya.... 🤗🤗🤗
🏵🏵🏵🏵🏵
"Mbak Indah...." panggil Zahida lirih.
"Iya nya..."
"Mbak, jangan panggil saya nyonya lagi, panggil Zahida aja. Sy lebih muda dari mbak Indah"
"Mana bisa nya...bisa digantung di Monas kalau saya panggil langsung nama"
"Hehehe" Zahida terkekeh geli.
"Mbak..."
"Apa suami saya ada pesan untuk saya?" tanya Zahida.
"cie...udah mengakui nih kalau udah jadi istri"
"Mbak...." wajah Zahida bersemu merah.
"Tidak ada nya, tuan tidak pesan apa-apa" ucap Indah.
"Za...." tiba - tiba suara Arif terdengar dan sudah berada di depan pintu.
"iya mas" jawab Zahida.
"Nanti sore kita ke rumah sakit ya, mas mau kamu periksa agar segera diambil tindakan"
"Ta tapi mas...."
"Tapi....?" Arif mengernyitkan satu alisnya.
"Za ...belum ada biaya, nanti jika Za sudah ada Za akan berobat"
"Za...suamimu telah menghubungi mas tadi pagi ketika di rumah sakit, dia yang menanggung semua biayanya" jawab Arif cengengesan.
"Mas Arif...apa boleh saya minta tolong" pinta Zahida ragu - ragu.
"Ayo kita ke ruang tengah" ajak Arif
"Iya mas"
Indah otomatis langsung mendorong kursi roda Zahida sesuai ajakan Arif.
"Mbak Indah... silahkan duduk juga" ucap Arif memandang Indah sekilas.
"Aduh...tampannya" batin Indah
"Mbak Indah..." pekik Arif.
"I iya...pak..eh ...mas....eh...tuan" ucap Indah gugup.
"ehem..." Deheman Zahida membuat Indah dan Arif gugup.
"Ada yang mulai tertarik nih"
"Apa Za?"
Spontan Aruf melempar bantal sofa ke arah Zahida. Badan Zahida melengos ke kiri dan terkena Indah"
"Aduh....udah lempar - lemparan" celentuk Zahida.
"Apa nya..."
"Ndak kok mbak...itu ada yang lempar batu..."
"Udah deh...ayo kita serius" celentuk Indah. Ia gugup dan mengalihkan Zahida agar tidak menjahilinya lagi.
"Mas Arif...boleh tidak saya memintabtolong untuk menolak dibiayai suami saya? saya akan menjual rumah yang di Surabaya. Saya tidak mau berhutang budi kepada orang lain dan kasihan terhadapku".
"Za....za....dia suamimu Za...dia sudah memiliki kewajiban di mata Tuhan untuk menjagamu, melindungimu. Jangan berfikir terlalu jauh" ucap Arif tegas.
"Kalau mas Arif tidak mau, aku tidak mau. Biarlah seperti ini ini kakiku" jawab Zahida tak kalah tegasnya.
Pandangan Zahida beralih pada Indah. Ia ingin Indah memberitahu Fahri tentang penolakan biaya kakinya.
Indah yang sudah tahu arah pandangan Zahida, ia hanya mengangguk. Lebih tepatnya ia terpaksa mengangguk.
"Huh...kamu keras kepala Za...andai kamu bukan adikku, aku tak mau mengurusmu" batin Arif.
Di tempat lain.
Kantor Fahri.
Fahri sudah diberitahu Indah tentang penolakan Zahida. Moodnya berubah, ia seakan kembali kepada Fahri yang dulu, Fahri yang dingin, datar, irit bicara pada siapapun termasuk kepada Mirna dan Ryan.
"Ri...kamu kenapa? sakit gigi?" tanya Ryan.
"Iya tuh, diam aja seperti patung" cslentuk Mirna.
Kebetulan Mirna dan Ryan ke ruangan Fahru, tidak untuk bekerja namun untuk.melepas penat sebentar. Karena waktu sudah menunjukkan kepulangan karyawan.
"Istriku...."
"Kamila?" tanya Ryan.
Fahri menggeleng.
"Zahida?" tanya Mirna.
"Dia tidak mau menyembuhkan kakinya dengan biaya dariku. Dia sangat keras kepala.Kenapa susah sekali melukuhkannya, aku suaminya, aku sudah banyak mengalah, sabar menghadapinya tapi mengapa dia tetap tidak bisa menerimaku" ucap Fahri kesal dan mendudukkan dirinya di single sofa.
"Karena kamu menikahinya tanpa ada rasa darinya, dia terpaksa menjadi istrimu" ucap Ryan gamblang dan sesuai dengan isi hatinya.
"Lagian kamu nikah masih berstatus suami orang, mana mungkin dia mau" ledek Mirna.
Mirna langsung menjalankan otak kirinya.
Dan ia tersenyum simpul menemukan ide di kepalanya.
🏵🏵🏵
minta dukungan vote dan likenya ya kak...terimakasih 😆😆😆😆😆