
Hai teman-teman selalu dukung author dengan meninggalkan jejak ya... terimakasih. 😄
"Zahida...” lirih Ryan.
“Apa yang terjadi dengan saya mbak, ini dimana? Kaki saya kenapa tidak bisa digerakkan?”
“Pak Ryan....” lirih Zahida dengan lemah.
Ceklek....
Fahri datang dengan wajah datarnya, ia mendekat di ranjang milik Zahida. Tidak dapat dipungkiri hati Fahri sangat bahagia melihat gadis yang telah menarik hatinya tersebut telah sadar dan keadaannnya sudah lebih baik.
“Zahida... bagaimana keadaanmu?” tanya Fahri.
Zahida kaget dengan pertanyan Fahri karena selama ini Fahri selalu bersikap dingin dengannya. Berbeda dengan kali ini, bosnya tersebut menanyakan keadaannya.
“Apa aku mimpi” batin Zahida. Zahida menatap Mirna dan Ryan secara bergantian seolah menanyakan sikap bosnya padanya.
“Ehem”.
Tersadar dengan deheman Fahri, Zahida menjawab “Alhamdulillah pak”.
“Maafkan saya, karena saya semuanya jadi disini” ucap Zahida sambil menunduk. Perasaan Zahida saat ini memang merasa sangat bersalah pada Mirna, Ryan, dan terutama Fahri.
“Maafkan saya” ucap Fahri datar.
Semua orang yang ada disana terkejut mendengar permintaan maaf dari seorang Fahri. Pasalnya presdir mereka itu sangat dingin pada orang lain.
“i...i...iya pak”
“Sementara waktu kamu di bawah pengawasan saya, dan kamu akan tinggal di rumah saya” titah Fahri.
Ryan dan Mirna terkejut dengan penuturan Fahri. Mereka tidak menyangka bahwa niat Fahri membawa ke rumahnya benar – benar ia lakukan.
“Ri...kamu apaan sih? Biarkan Zahida bersamaku, ada mama sama adikku yang akan menjaga Zahida.” Ucap Mirna
“Zahida akan tinggal bersamaku, kasihan jika tinggal dengan kalian, dia akan emnjadi obat nyamuk saja. Mama akan senang jika Zahida ikut denganku, mama sangat merindukan adikku, Zahida kuanggap sebagai adikku. Dan kalian tahu, mama sudah mengetahui jika wajah Zahida mirip dengannya, mama berharap Zahida adalah adikku yang hilang dulu” ucap Ryan.
Mendengar perdebatan mereka Zahida memejamkan matanya, dan tak terasa buliran air lolos melewati kelopak matanya begitu saja. Dia memiringkankan tubuhnya dan mulai terisak. Semua orang yang melihat Zahida terhenyak.
“Ibu... bolehkan aku ikut denganmu? Aku kangen ibu." batin Zahida
Fahri yang melihat sikap Zahida, hatinya begitu miris. “Maafkan aku Zahida, kamu adalah jantungku, aku tidak bisa jauh darimu maka inilah yang bisa aku lakukan” batin Fahri
Mirna mengelus tangan Zahida dengan lembut, “ maafkan kami Zahida, kami sangat menyayangimu, kami ingin menjagamu”
Zahida menoleh “ mbak, aku ingin pulang kerumahku”
“Bagaimana mungkin kami meninggalkanmu sendirian di rumah”
“memangnya ada apa denganku mbak?”
Mereka bertiga memang belum menjelaskan kepada Zahida tentang keadaan yang sebenarnya, mereka ingin mencari waktu yag tepat agar Zahida tidak kaget dengan keadaannya dan tidak menimbulkan trauma pada dirinya.
Hening
Hening
Hening
Ceklek....
“Mas Fahri, Mirna, Ryan, Alhamdulillah Zahida sudah membaik dan besok pagi sudah bisa pulang” ucap Kamila dengan lembut.
“Zahida...bagaimana perasaanmu setelah bangun tadi?” tanya Kamila dengan senyum manisnya.
“Dok...mengapa kakiku sulit digerakkan?” tanya Zahida
“ Em begini zahida, untuk sementara kakimu masih belum bisa digerakkan namun kamu tidak usah khawatir, dengan terapi rutin maka kakimu akan kembali seperti sedia kala” jawab Kamila
“Jadi...aku lumpuh...” ucap Zahida lirih dengan buliran air yang semakin deras emmbasahi pipinya.
“ Tenanglah Zahida, kami siap membantu untuk terapi agar kamu bisa berjalan kembali”.
“Terimaksih dok”
“sama – sama”
Setelah kepergian Kamila, Fahri ikut keluar dari kamar Zahida. Fahri menemui istrinya Kamila di ruangannya. Fahri ingin memberitahu niatnya mengajak Zahida untuk tinggal bersama ia dan Kamila. Walaupun Kamila sangat mengecewakannya namun ia tetap akan meminta izin istrinya tersebut.
Fahri yang masuk ke ruang kerja Kamila tanpa permisi duduk di sofa dekat meja kerja Kamila.
“Mil, setelah Zahida sadar, ia akan tinggal bersama kita, apa kau setuju?” tanya Fahri dengan wajah yang datar dan dingin.
"Kenapa dia tinggal dengan kita?" tanya Kamila.
“Kamu harus tahu jika akulah penyebab ia mengalami kecelakaan, jadi aku harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi padanya” jawab Fahri dengan nada datarnya.
”Benarkah itu mas? Tidak ada alasan lainnya?” tanya Kamila penuh selidik.
“apakah kamu setuju dia tinggal bersama kita?” tanya Fahri lagi.
"Apakah jawabanku akan mengubah keputusanmu?" ucap Kamila.
Dengan tatapan tajam dan penuh penekanan Fahri kembalo berucap" Apa maksudmu Nur Kamila Febriantiiiiiii".
“Apakah pantas dia bersama kita? Dia masih gadis sedangkan kita dua orang pasangan suami istri? Apa kata orang jika mengetahui ada gadis dirumah kita? Tapi aku ingin tahu kenapa kamu memngkhawatirkannya? kamu menyukainya hikz hikz... " ucap Kamila dengan terisak. Nyatanya buliran air yabg tertahan di kelopak matanya tidak mau diajak bekerjasama lagi.
“kamu masih memperhatikan omonga orang hah? Apa kamu tidak ingat jika semua orang tahu perbuatanmu di luar sana sebelum menikah denganku, apa yang akan dikatakan orang padamu dan terutama pada keluargamu? Jawab Fahri dengan nada agak tinggi.
“Kamu...mengapa tidak kau buka hatimu sedikit saja untukku? Aku istrimu, istri sahmu!” jawab Kamila dengan sesenggukan.
“bagaimana perasaanmu jika sebelum menikah dengam aku sudah berhubungan dengan waita diluar sana seperti yang kamu lakukan?”
Hening....
Satu menit
Dua menit
Lima menit
“Kamu tahu Mil, aku menjaga diriku dari wanita agar aku bisa memberikannya untuk istriku, tapi nyatanya adalah istriku tak pantas mendapatkaku karena ia tidak bisa menjaga kehormatannya” kata Fahri bagaikan pedang yang menghunus dada sang istri, istri yang tak pernah diharapkan untuk menemani kehidupannya. Kemudian Fahri beranjak dan keluar dari ruangan Kamila.
Sedangkan Kamila menangis meratapi hidupnya. Ia ingin mengakhiri pernikahannya namun ia tidak tega menyakiti hati ibunya yang sangat bahagia mengetahui jika menantunya adalah laki – laki yang baik.
Hai teman – teman bantu author vote, like, komentarnya ya....🤗
Terimakasih...
Bye...bye...