
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya guys untuk cerita halu author yang masih kurang dari sempurna ini....š¤š¤
Selamat membaca semuanya....semoga tidak mengecewakan....ššš
"Za..." panggil Fahri.
Zahida seolah tak mendengar panggilan Fahri. Fahri yang sadar diacuhkan Zahida, segera menarik tangan istrinya dan mencium punggung tangannya dengan berjongkok agar sejajar dengan Zahida yang sudah duduk di kursi rodanya.
"Mas....apa yang mas lakukan"
Tanpa menjawab, Fahri langsung mendekap kepala Zahida di dadanya. Dan mencium beberapa kali pucuk kepala Zahida. Aroma shampo dan wangi tubuh Zahida menjadi aroma yang menenangkan untuk Fahri.
"Za.....besok saya akan ke pengadilan agama, besok saya sudah milik kamu seutuhnya"
"Ya Allah..apa ini, kenapa aku nyaman di dekatnya, apa aku sudah....ah tidak tidak...tidak mungkin" batin Zahida
"Za...."
"Hem...."
"Saya masih mengantuk...saya akan tidur lagi, kamu temani saya ya"
"Deg"
Temani...maksudnya...iiih mesum....apa menemani tidur, aduh bagaimana ini, mau kabur tapi mbak Indah belum ada tanda - tanda akan kemari" batin Zahida
"maaf mas...saya mau ke dapur dulu, saya haus".
"Temani saya di sini dulu Za...apa kamu tidak mau menemani saya. Kamu tentu paham jika ini salah satu kewajiban kamu sebagai istri".
Sudah menjadi kewajiban seorangĀ istriĀ untuk mematuhi dan taatĀ kepada suami. ...Ā dalamĀ keyakinan yang kita anutĀ telah dijelaskanĀ dalam kitab suci kita, yaitu, āmakaĀ istri-istriĀ yang saleh itu ialah yang taatĀ kepadaĀ Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya 1Allah telah memelihara (menjaga) mereka,ā - (QS. An Nisa: 34).
Penuturan Fahri sangat jelas di telinga Zahida sehingga menyurutkan niatnya untuk menghindari Fahri.
"Astaghfirullah" batin Zahida.
"Maaf mas"
"baiklah...Za..." Fahri bangkit dari duduknya, menghampiri istrinya dan mengangkat istrinya tersebut untuk duduk di sofa.
Zahida yang terkejut menunduk malu. Suaminya itu adalah lawan jenis pertama yang dekat dengannya.
"Za...."
"Iya"
"Ikutlah denganku Za"
Zahida hanya menunduk tanpa menjawab. Ia tidak tahu mau menjawab apa, tapi yang pasti ia hanya tidak mau menjadi beban ornag lain karena kekurangannya.
"Za....." suara Zahra dari luar kamar.
" I iya mbak" Zahida berusaha berpindah dari sofa ke kursi roda.
Fahri tanpa aba - aba langsung mengendong Zahida dan membuka pintu. Lagi - lagi wajah Zahida bak kepiting rebus, merah kanan kirinya.
"Mas...malu" ucap Zahida.
"Sudah halal kok, ngapain kamu malu" jawab Fahri
"Ceklek"
"Iya mbak...."
"Za...pak Fahri...." spontan pekik Zahra yang terkejut melihat pemandangan di depannya. Zahra yang digendong pak Fahri, wajah Zahida pun bersembunyi di dada suaminya.
"Mbak...Zahida malu...mbak kenapa ke kemari?"
"Maaf...ya...ayo sarapan dulu" ucap Zahra.
"I iya mbak"
"Mbak tunggu di bawah ya" ucap Zahra sambil meninggalkan Zahida dan Fahri diambang pintu.
"Terimakasih" jawab Fahri datar tanpa ekspresi.
Sedangkan di meja makan, Zahra yang malu melihat adiknya langsung duduk dan munjm air untuk menetralkan keterkejutannya. Adam dan Aisyah yang sudah menunggu melihat itu dengan heran.
"Ada apa Umi?" tanya Adam.
"mata Umi tercemar Bi"
"Maksudnya?" ucap Adam sambil mengeryitkan satu alisnya.
"Za sedang digendong suaminya Bi di depan mata Umi"
Adam hanya senyum - senyum sendiri melihat dan mendengarkan Zahra istrinya.
"Umi mau Abi gendong?" tanya Adam senyam senyum.
"tidak ah Bi, umi berat tidak seperti dulu Bi" jawab Zahra.
" Biarkan saja Mi, mereka lagi temu kangen, seperti Abi yang kangen Umi kalau Abi tinggal keluar kota". Ucap Adam.
"Ih Abi" sambil senyum - senyum.
Hai guys...bantuin author like dan vote ya. ššš. komentar juga ya...Syukur kalau dijadikan fav juga. bye bye...di up selanjutnya .