
Hai teman – teman…jangan lupa tinggalkan jejak ya…biar jadi moodbooster buat author …😃😃😃
Selamat membaca…😀😀😀😀
Mirna langsung menjalankan otak kirinya. Dan tersenyum simpul menemukan ide di kepalanya.
“Bos…biar saya saja yang ke Bandung. Kan ada cabang kita di sana. Dan aku bisa menemani istri cantikmu disana sambil mendampingi untuk pengobatan kakinya” ucap Mirna.
“Alah modus aja kamu…” celentuk Ryan.
Mendengar Ryan dan Mirna rebut sendiri, Fahri malah berdiri dan keluar ruangannya.
“ Eh dia pergi, dasar bos tidak tahu terimakasih, main pergi – pergi aja tanpa permisi” sungut Mirna.
“Eh nyadar dong, dia bosnya suka – suka dialah” ledek Ryan.
“idiiih….bos songong”
“ kamu sebenarnya ada maksud apa ke Bandung, jangan – jangan kamu mau menemui …..” tanya Ryan.
“ Enggak…” jawab Mirna ketus.
Ryan dan Mirna akhirnya diam dan sibuk dengan benda pipihnya masing – masing. Tak lama kemudian Fahri kembali.
“Mir…belikan aku tiket pesawat ke Bandung dan hotel milik Rama. Usahakan malam ini berangkat” titah Fahri.
“Ri….serius? “
“Iya “ jawab Fahri datar sambil menatap luar jendela.
“semoga ini keputusan yang benar ya Za…” batin Fahri bermonolog .
“ Ryan..kamu urus perusahaan sampai aku tiba, sesekali aku akan ke kantor dan untuk semua file yang membutuhkan keputusanku, kamu bisa kirim data ke emailku” titah Fahri berlanjut.
“ Huh… kerja rodi lagi” batin Ryan.
“ Mir..kamu ikut ke Bandung” titah Ryan kembali.
“ haaaaaa…….jangaaaan” teriak Ryan.
“ Eh Yan, aku sama si bos gak tuli, jangan teriak – teriak, wah enaknya ke Bandung…pasti bisa ketemu” ucap Mirna sambil cengar-cengir.
“ketemu siapa?” tanya Fahri
Mirna yang kaget dengan pertanyaan Fahri, akhirnya ia mengalihkan pembicaraan.
“Ketemu bapak penjual siomay yang ada di ujung jalan kampus kita he he he” jawab Mirna.
Fahri, Ryan, Mira adalah alumni sarjana dari salah satu universitas ternama kota Bandung sebelum meneruskan S2 ke luar negeri. Dari julai mereka TK sampai lulus kuliah pun selelu bersama.
“ Siaaaal” teriak Fahri sambil melempar benda pipihnya. Hal itu membuat Mirna dan Ryan terkejut tapi mereka hanya memilih diam. Benda pipih keluaran terbaru itu nyatanya masih utuh tanpa cacat.
Di Bandung…
Zahida mulai melakukan pengobatannya dengan dibantu Arif dan didampingi Indah. Semua pemeriksaan telah dijalaninya. Semua benda pipih di silent sehingga tidak tahu jika ada panggilan dari Fahri.
Pemeriksaan selesai hampir petang. Dan hasil pemeriksaan akan diberitahukan 2 hari kemudian dan akan diambil oleh Arif.
Sesampainya di rumah, Zahida segera membersihkan dirinya dengan dibatu dengan Indah. Karena kakinya masih belum bisa digerakkan sama sekali akibat kecelakaan itu. Arif hanya mengantar Zahida dan Indah sampai parkiran rumah sakit karena ia harus bertugas lagi.
Setelah Indah dan Zahida sudah jauh dari penglihatannya dengan taxi online, Arif mengeluarkan benda pipihya dan menghubungi seseorang di seberang sana.
Panggilan kesatu berdering…..
Panggilan kedua masih juga bordering…
Panggilan ketiga masih saja bordering…
“ Dimana dia?” batin Arif kesal.
Malam harinya, semua makan malam dengan tenang, hanya Arif yang tidak ada karena masih di rumah sakit.
“Za….bagaimana hari ini pemeriksaannya?” tanya Zahra.
“ baik mbak”
“ Maafkan mbak ya Za…. Mbak belum bisa mengantar kamu karena tiba- tiba tadi mbak mual.”
“ Iya mbak”
“ Assalamualaikum….” Salam Arif yang baru saja datang.
Semua menjawab salam Arif. “Semua sudah makan ya rupanya”.
“Assalamualaikum….” Suara perempuan yang datang bersama Arif. Zahida yang fokus pada makanannya menoleh pada perempuan tadi.
“ibu…….” Celentuk Adam.
“ jawab dulu salamnya atuh” celentuk ibu Adam dengan senyum simpulnya.
“ Wa’alaikumsalam” jawab semua orang serentak.
Teman – teman jangan lupa tinggalkan jejak ya…terimakasih
😄😄😄