
Tuan, nona Zahida tidak memiliki keluarga dan kerabat di kota ini, ayahnya sudah menikah kembali dan kakaknya berada di Bandung. Sudah saya hubungi semua namun belum bisa karena nomor teleponnya sedang tidak aktif semua. ucap Faiz
"Semua ini salahku" batin Fahri.
Fahri, Ryan, Mirna masih setia di depan ICU. Menunggu kejelasan kondisi Zahida. Dan lampu ICU pun mati menandakan jika aktifitas di ruangan tersebut sudah berakhir.
"Ceklek... "
"Deg"
"Kamila sedang apa dia disini?" batin Fahri
"Mas Fahri.... " ucap dokter yang keluar dari ruang ICU dengan keringat yang membasahi beberapa bagian wajahnya.
"Kamila" ucap Fahri
Mirna dan Ryan terkejut melihat Kamila. Pasalnya rumah sakit Zahida di rawat bukanlah rumah sakit tempat Kamila bekerja. Yah, Kamila yang merupakan istri Fahri adalah seorang dokter bedah. Namun Fahri tidak tahu jika istrinya seorang dokter. Selama ini Fahri enggan mengetahui semua informasi tentang istrinya. Ia menikah dengan Kamila akibat perjodohan yang di lakukan oleh ayah Fahri karena Kamila telah menolong ayah Fahri pada saat jatuh di depan rumah sakit tempat kerja Kamila sebelumnya.
"Mengapa kamu disini?" ucap Fahri datar.
"Aku bekerja di sini mas" ucap Kamila menunduk. Kamila begitu takut menatap wajah suaminya. Semenjak menikah ia tidak pernah berani menatap suaminya karena sikap Fahri yang dingin padanya.
"Jadi dia dokter" batin Fahri.
"Ehem.... " deheman Ryan memecah keheningan.
"Maaf kalian menunggu siapa? " tanya Kamila kepada mereka bertiga.
Hening
Hening
Hening
"Menunggu Zahida, bagaimana keadaannya? " ucap Ryan
"Oh pasien atas nama Zahida, dia.... " jawab Kamila menggantung.
"Mengapa suamiku disini menunggu gadis itu? apa hubungannya dengan gadis itu? " batin Kamila.
"Mari ikut denganku ke ruangan, saya jelaskan semuanya" ucap Kamila.
Fahri, Ryan dan Mirna mengikuti Kamila dari belakang layaknya gerombolan anak yang mengikuti ibunya.
Kamila duduk di kursinya. Diikuti dengan Fahri dan Ryan duduk di depannya namun Mirna hanya berdiri karena tidak tersedia kursi yang lain.
"Begini kondisi pasien sudah melewati masa kritis. Kami memasang pen di kakinya karena kakinya mengalami cidera. Jika tidak kami pasang maka akan semakin lama untuk bisa berjalan normal kembali." ucap Zahida.
"Maksudnya Zahida tidak bisa berjalan normal? " tanya Ryan dengan raut wajah terkejut.
"Sementara dia mengalami kelumpuhan" ucap Kamila kembali.
Mendengar itu wajah Fahri berubah, seakan menahan kesedihan yang mendalam. Matanya mulai berembun dan satu tetes lolos jatuh dari kelopak matanya. Namun Fahri langsung mengusap tanpa disadari Mirna dan Ryan. Namun tetesan air matanya disadari oleh Kamila istrinya.
"Siapa dia? sampai suamiku bersedih atasnya" batin Kamila.
"Permisi" suara parau Fahri mengejutkan Kamila dan melihat Fahri keluar ruangan.
"Tolong jelaskan kepada kami apa yang terjadi pada Zahida" ucap Mirna.
"Zahida mengalami kelumpulan namun tidak permanen, ia bisa berjalan kembali dengan melakukan terapi" begitulah penjelasan dari Kamila, sedangkan Fahri sudah keluar ruangan terlebib dahulu.
Di luar ruangan.
Seorang laki - laki, pemilik perusahaan besar dengan anak cabang diberbagai provinsi seluruh Indonesia tengah tertunduk lesu dengan beberapa kali mengusap wajahnya.
"Zahida..." lirih Fahri.
Beberapa menit kemudian.
Mirna dan Ryan keluar dari ruang Kamila.
"Ri... ayo kita lihat Zahida" ajak Mirna
"Mir, Yan, ini semua salahku. Gadis itu harus lumpuh karenaku" lirih Fahri.
"Hei... Fahri, ini bukan salahmu, ini adalah takdir. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sudahlah jangan meratapinya, yang harus kita lakukan adalah membuat dia pulih seperti sedia kala." ucap Ryan sambil menepuk punggung Fahri. Ia tahu sahabatnya itu sangat terpuruk atas keadaan Zahida. Ryan dan Mirna sudah mengetahui jika sahabatnya Fahri telah jatuh hati pada Zahida. Gadis sederhana nan ceria. Namun keadaan tidak mendukung Fahri, karena Fahri telah menikah dengan Kamila.
"Ayo.... " ajak Mirna.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang rawat Zahida.
"Ceklek... "
Teman - teman bantu like dan komen ya! biar author tetap semangat nulisnya.