
...Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, "Siapa mereka itu?", "Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah 'Azzawajalla." (H.R. Ahmad)....
Hari ini Zahida, Mirna dan Fahri sudah ada di Bandara Juanda untuk melakukan penerbangan ke Jakarta. Rama mengantar mereka bertiga dengan wajah sendu. Kesedihannya kehilangan wanita yang sudah terpatri dihatinya akhirnya muncul kembali. Mirna kembali ke Surabaya.
Sesekali di ruang tunggu boarding pass Mirna diam - diam melihat wajah lelaki pujaannya, Rama. Dan Rama pun menyadari jika Mirna melakukan hal tersebut. Fahri dan Rama berbincang cukupa lama dan sepertinya serius. Sedangkan Zahida masih termenung, dengan pandangannya masih kosong. Dalam pikirannya sekarang, ia hanya mengikuti takdir hidupnya. Menjadi istri Fahri bagi diribya adalah hal yang luar biasa dengan kekurangan fisik yaitu kelumpuhan kakinya.
"Mir.... " tiba-tiba Rama menghampiri.
"Hem.... " jawab Mirna dengan nada malas tanpa menatap wajah.
"Kamu yakin mau balik ke Surabaya? "
"Iya sangat yakin" jawab Mirna ketus.
"Aku harap kamu memintaku tetap disini Ram, tapi itu tidak mungkin" batin Mirna.
"Aku harap kamu tetap disini Mir, menemani aku. Kamu tidak tahu perasaanku padamu telah ada. " batin Rama.
Hening...
Hening...
Hening...
"Ayo kita masuk pesawat" tiba - tiba suara Fahri memecah keheningan.
Rombongam Fahri berpisah dengan Rama.
"Ram... jangan lama - lama. memendam perasaan, nanti Mirna diambil orang dan kamu menyesal". ucap Fahri tepat ditelinga Rama saat mereka berpelukan untuk berpisah.
"iya mas" jawab Zahida dengan pandangan kosong ke depan. Ia terus memikirkan nasib hidupnya. Beberapa kali mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Za... aku sangat mencintai kamu dan jangan ragukan aku" batin Fahri bermonolog saat ia melihat istrinya beberapa kali. mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan seolah mengeluarkan beban dalam hidupnya.
"Kita langsung ke Singapura, agar Za dan bunda dapat segera pulih seperti sedia kala" ucap Fahri.
"Kamu ikut kami, jangan mengharapkan orang yang belum yakin padamu" ucap Fahri.
Ucapan Fahri menghunus ke dasar hati Indah, begitu sakit, begitu perih. Sepertinya Fahri tahu isi hati Indah sehingga ia mengeluarkan kata - kata kejam itu.
Perjalanan 1 jam telah mereka lalui dan wellcome Singapura.
Sesampainya di Singapura, Fahri membawa Indah dan Zahida serta Mirna ke rumah neneknya. Yah, neneknya memiliki sebuah rumah karena nenek Fahri berasal dari Singapura.
"Mas.... ini rumah siapa? " tanya Zahida.
"Rumah oma Za" jawab Mirna dari belakang Fahri yang sempat mendengar pertanyaan Fahri.
"Terimakasih mbak Mirna"
"Sama - sama" jawab Mirna dengan senyum manisnya.
Bik Sumi dan Pak Dahlan sudah menyambut mereka di pintu utama. Mempersilahkan masuk dan menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh mereka.
Fahri mendorong kursi roda Zahida ke kamar utama, kamar yang sempat oma dan opanya tempati. Kamar yang telah memberikan kenangan manis dalam hidupnya maupun sepupunya yaitu Mirna dan Ryan. Mereka sempat tinggal di rumah ini pad saat menyelesaikan pendidikan S2 nya.
"Za... " Fahri duduk berjongkok sejajar dengan posisi Zahida.
"Maafkan saya" ucap Fahri sambil mengusap punggung tangan Zahida.
"Maaf untuk apa? " tanya Zahida dengn berkaca - kaca.
"Saya tahu kamu tertekan dengan pernikahan ini. Tapi saya janji akan membahagiakan kamu".
"Aku hanya.... "
Bunda masih dalam perjalanan dengan Ryan.
...Teman - teman jangan lupa like, komentarnya ya... biar author bisa mulai semangat lagi nulisnya. Syukur - syukur jika klik Favorit. Bye... Bye......