
Dengan penuh amarah dalam dirinya, Fahru keluar kamar dengan membanting pintu lumayan keras sehingga membuat Zahida dan semua orang yang ada di dalam rumah terkejut. Dan lagi buliran sudah lolos dari kelopak Zahida.
"Ibu...kakak....aku ingin pulang..." ucapnya lirih sambil terisak.
"Bunda....." pekik Fahri yang melihat bundanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Kenapa kamu membantung pintu seperti itu Fahri? tidakkah kamu melihat keadaan yang ada di rumah ini?" tanya Bunda dengan tatapan lembutnya.
"Zahida bun...."
"Kenapa dia Fahri?"
"Meminta pisah"
"Jangan salahlan dia Fahri, apa kamu t8dak sadar sikapnya adalah akibat dari perbuatan kamu" ucap bunda menjelaskan.
"Tapi bun....aku mencintainya"
"Bunda tahu tapi seharusnya tanpa ada paksaan seperti ini" ucap bunda lagi.
"Bun...dimana Ryan?"
"Apa cari - cari aku, kamu kangen ya bos?" pekik Ryan yang baru keluar dari kamar tamu.
"Yan...pergi ke kantor sekarang?" titah Fahri.
"Kamu?" tanya Ryan
"Di sini."
"Ngapain?" tanya Ryan lagi.
"Ealah kamu di sini ngapain bos?"
"Nemani Zahida"
"Dasar bucin"
"Biarin aja"
"Emangnya kamu jomblo akut tingkat menara Eifell"
Ryan pun menuju ruang makan. Bunda yang sedari tadi melihat percakapan (lebih tepatnya perdebatan).
"Bun...Ryan makan ya setelah itu ke kantor"
"Iya nak"
Fahri masih duduk di ryang keluarga dan setelah Ryan berangkat dan bunda masuj kamar untuk beristirahat, Fahri memutuskan untuk beranjak menemui Zahida.
Fahri masuk kamar dengan hati - hati, dan pandangannya menyapu seluruh area kamar. Menemukan Zahida memandang keluar jendela dengan tatapan kosongnya.
"Zahida" pekik Fahri sambil berjongkok melihat Zahida yang duduk di kursi roda.
"saya ingin melihat Zahida yang dulu, yang ceria, yang murah senyum." ucap Fahri.
"Tu tuan...."
" Mas...."
Seyum mengembang di bibir Fahri.
"Jangan dipendam sendiri, ceritakanlah pada saya bebanmu"
"Aku ingin seperti dulu" batin Zahida.
"Mas... sa saya ingin seperti dulu"
Fahri terkejut dengan ucapan Zahida dan sontak memeluknya dengan erat.
"maafkan saya... saya membuatmu seperti ini, saya menyayangimu istri kecilku" batin Fahri.
Fahri merenggangkan pelukannya, Fahri melihat Zahida dan memegang dagu istri kecilnya itu.
"Tetaplah di sampingku sampai saya menua, saya ingin kamu terus disini (menunjuk dadanya)" ucap Fahri dengan tatapan sendu.
Tiba - tiba Zahida memeluk Fahri dan membuat Fahri terkejut. Fahri sangat bahagia akan hal itu.
"Tetaplah seperti ini istri kecilku" ucap Fahri.
Zahida pun mengangguk pelan tapi lagi dan lagi ia meloloskan air di ujung kelopak matanya.
"Hei jangan menangis lagi" ucap Fahri sambil mencium kening Zahida.
Zahida hanya menatap Fahri.
"Maaf....maafkan saya ya" ucap Fahri.
"Mas...mengapa anda menjadikan saya istri? anda sudah punya dokter Kamila" ucap Zahida. (Zahida masih malu memanggil sebutan aku kamu atau apalah karena memang dia masih canggung 😄)
"Apakah jika saya menceritakan Kamila, kamu bisa menerima saya menjadi suami kamu?" tanya Fahri.
"Ta...tapi..."
"Sudahlah akan saya ceritakan nanti, kamu belum makan kan? saya ambilkan makan ya" tanya Fahri.
Tiba - tiba Mirna datang...
"Bos....ini makanan buat bu bos kecil...." ucap Mirna sambil cengengesan.
"Mbak Mirna...."
"Gimana nih keadaan kamu Za...? jangan kebanyakan nangis...nanti bengkak loh, dan kamu tambah jelek, kalau kamu jelek yang cantik berarti aku doang " ucap Mirna lagi.
😬😬😬😬
Hai teman - teman bantuin author ya...
tinggalkan jejak jika sudah membaca...
bye bye...🤗🤗🤗🤗