Zahida

Zahida
Kedatangan Zahra 2



Flash back off


Setelah menceritakan pertemuannya dengan Fahri, mata bunda berkaca - kaca. Mirna memeluk bunda.


"Ye ileh Kamila lagi Kamila lagi" sahut Ryan.


"Huz...." celah Mirna.


Kemudian Indah datang dan membawakan minuman untuk Adam dan istrinya.


"Nyonya besar... apakah ada yang perlu saya kerjakan?" tanya Indah


"Tidak Indah...kamu akan kemana?" tanya bunda Fahri.


"Mau menemani nyonya Zahida"


"Baiklah Indah, temani nyonya muda" titah Bunda.


"Zahida...." pekik Zahra dan Adam bersamaan.


Wajah Zahra tiba - tiba sendu mengingat adiknya yang hilang entah kemana. Setibanya di kota ini, kota yang tempatnya dibesarkan bersama adik, ayah dan ibunya. Tempat pertama yang ia tuju adalah rumah masa kecilnya. Namun ia tidak menemukan adiknya di sana. Kata tetangga Zahida kecelakaan dan tidak kembali pulang sampai sekarang.


Ryan dan Mirna saling pandang setelah melihat Zahra dan Adam kaget mendengar kata Zahida.


"Apa kalian mengenal Zahida?" tanya Mirna.


"Zahida adalah adik saya tapi sejak dua hari yang lalu ketika kami sampai di kota ini kami tidak menemukannya di rumah" jawab Zahra dengan mata berkaca - kaca.


Di kamar Fahri


Zahida ditemani oleh Fahri. Zahida berbarung dan memejamkan matanya, ia sengaja pura - pura tidur karena ia tidak mau berinteraksi dengan suaminya. Ia masih takut dengan suaminya yaitu Fahri. Sedangkan Fahri, ia mengetahui jika Zahida berpura - pura tidur, sengaja ia duduk di samping Zahida dan mengelus punggung tangan Zahida. Sebenarnya dari dinginnya tangan Zahida dan sedikit bergetar membuat Fahri mengetahui jika istrinya gugup dan berpura - pura tidur.


"Ceklek" bunyi gagang pintu kamar dibuka oleh Indah.


"Tuan....apakah nyonya muda perlu saya tmani barangkali ada sesuatu yang nyonya perlukan?" tanya Indah.


"Iya"


"Tidak"


Jawab Fahri dan Zahida bersamaan.


"Mbak Indah temani saya di sini" ucap Zahida.


"Ndah kamu lanjutkan pekerjaanmu" titah Fahri.


Zahida mulai diam, wajahnya berkaca - kaca dengan menggigit bibir bawahnya tanda ia sedang menahan tangisnya. Satu tetes air lolos dari kelopak matanya.


Fahri yang melihat itu tidak tega.


"Jangan menangis lagi, saya tidak sanggup melihatnya" ucap Fahri dengan lembut dan mengelus kepala Zahida.


Fahri keluar dan Indah di dalam kamar bersama Zahida.


"Nya...."


"Jangan panggil saya nyonya mbak..."


"Tapi nyonya kan istri tuan Fahri".


Zahida hanya diam mendengar jawaban Indah.


"Mbak...saya ingin pergi jauuuh sekali....agar saya bisa memulai hidup baru. Tapi....." kalimat Zahida menggantung.


"Tapi apa nya....?"


"Kaki saya lumpuh...saya tidak sempurna"


"Nyonya pasti sembuh...pasti tuan Fahri akan menyembuhkan nyonya"


"Apaan sih mbak..."


Di ruang tamu...


"Bagaimana bu, apakah kami bisa bertemu tuan Fahri?" tanya Adam.


"Pak Adam" pekik Fahri.


Semua orang melihat ke arah Fahri yang datang ke ruang tamu.


Fahri duduk di samping bundanya.


"Yan...Mir....kalian masih disini?"


"Iye...nih mau keluar ada tamu, buat penasaran bos...makanya kita masih disini"


"Ehem...." deheman bunda membuyarkan interaksi antara 3 sepupu tersebut.


"Maaf bun...apa yang bisa saya bantu pak Adam?" tanya Fahri.


"Maaf pak Fahri, yang menyebabkan kesini ada 2 hal yaitu saya ingin berterimakasih atas bantuan pak Fahri pada kakak saya, kakak saya sudah sembuh dan sudah praktek kembali sesuia dengan profesinya dokter bedah. Yang kedua saya ingin meminta bantuan untuk mencari adik ipar saya yang telah hilang." ucap Adam.


Hai teman - teman jangan lupa ya selalu tinggalkan jejak like, komentar, dan vote.


🤗🤗🤗