
Di dalam kamar sekarang hanya ada mama Ryan, bunda, dan Fahri. Setelah iperiksa oleh dokter keluarga, Zahida hanya kelelahan dan banyak pikiran. Setahu Fahri, Zahida tidak pernah melakukan pekerjaan, semua sudah diserahkan kepada asisten rumah tangga. Otak Fahri masih berpikir penyebaab istrinya pingsan.
Fahri duduk di tepi ranjang menanti istrinya yang masih enggan membuka mata. Beberapa kali keluar buliran air mata dari sudut mata istrinya. Dengan lembut beberapa kali pula. Fahri mengusapnya sambil mengajak bicara.
Sedangkan mama Ryan juga tak kalah sedihnya dengan Fahri. Anak yang selama ini dia cari nyatanya sudah ada di depan mata. Namun takdir masih belum berpihak kepadanya, ia belum bisa memeluk anaknya. Ia tahu mungkin Zahida masih belum bisa menerima bahwa ia adalah anaknya. Adik dari Ryan. Tapi ia juga sedih menerima kenyataan bahwa ia ternyata adalah anak angkat dikeluarga yang namanya sudah tersemat di belakang namanya.
Sayup - sayup suara adzan ashar terdengar dari kejauhan. Di kamar itu hanya ada Zahida yang masih belum sadarkan diri dan Fahri yang masih setia duduk dipinggir ranjang sambil mengusap punggung tangan Zahida dengan penuh kasih dan sesekali mengusap perutnya. Pelan - pelan Zahida mulai membuka mata.
"Mas... "
"Iya Sayang"
"Za kenapa mas?"
"Kamu tadi pingsan "
"Mas... bolehkah aku meminta sesuatu? "
"Apapun yang kamu minta, jika mas mampu, akan mas kabulkan"
"Za... za.... ingin ke Bandung tinggal bersama mbak Zahra untuk sampai Za melahirkan. Apa boleh mas?"
Duaaar.... hati Fahri mencelos seakan lepas dari tempatnya. Ia tidak mengira bahwa jati diri istrinya memberikan tekanan psikologis yang begitu berat di dalam istrinya.
"Za... kenapa?"
"Za hanya butuh waktu mas untuk menerima semua ini. Bagiku ini sangatlah sulit tapi aku sudah ikhlas menerima takdirku mas"
"Za.... ingatlah di dalam sini ada nyawa yang harus kita jaga bersama" ucap Fahri sambil memeluk istri kecilnya itu.
Hening....
"Ceritakam padaku, apa yang membuat hati istri kecilku ini risau? " tanya Fahri.
Zahida masih diam, namun Fahri tahu jiak istrinya itu sedang menahan tangisnya. Dadanya sudah basah oleh air yang bersumber dari mata istrinya.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku dan bunda. Kami membutuhkanmu, istri kecilku, bunda dari anak anakku" ucap Fahri.
Zahida mengurai pelukannya, dan ia melihat wajah suaminya yang sendu. Entah apa yang dipikirkan suaminya tapi yang pasti pasti karena sikapnya.
"Mas... we love you" tiba-tiba Za mencium pipi Fahri.
Fahri hanya melongo...
"Sayang kamu menggodaku? "
"Tidak"
"Ini apa? " tanya Fahri sambil memegang pipinya.
"Itu bentuk kasih sayangku mas dan dedek bayi"
"Mas juga mau"
"No..."
"Aku juga sangat bahkan lebih rasa ini melebihi dirimu sayang". tangan Fahri sudah mengusap perut istrinyabyabg sudah memperlihatkan wujud dari ikhtiar mereka untuk melanjutkan keturunan.
Zahida menggeleng.
"Lihatlah bahkan anak kita bergerak emmberi kekuatan pada bundanya dan mungkin dia rindu pada usapan dari omanya dan pamannya"
"Bismillah... Za butuh dukungan dari mas dan bunda, Za ikhlas menerima semua kenyataan ini. Sebenarnya bukan Za tidak menerima mama sebagai ibu Za. Tapi yang emnbuat Za sedih adalah ternyata orang - orang terdekat Za mencari jati diri Za tanpa sepengetahuan Za. Za seperti orang yang sangat rendah. ucap Zahida panjang lebar.
"Hei.... jangan sedih"
" Kami hanya ingin membuktikan bahwa istriku ini adalah maya atau bukan. Dan nasib pernikahan ini ditentukan dengan kebenarannya." Fahri menjelaskan.
Sekarang Zahida tahu alasan dari pencarian jati dirinya. Ia menerima dengan ikhlas semua kebenaran tentang dirinya.
"Ayo kita ke bawah, mama, bunda, Ryan dan Mirna sudah menunggu kita"
Fahri dan Zahida keluar kamar utama dan menuju ruang tengah. Semua orang sudah menunggu.
Zahida langsung memeluk mamanya. Mama yang selama ini tidak diketahuinya.
"Mama... maafkan Za yang belum bisa berbakti sama mama"
"Mama sangat bahagia menemukanmu nak" ucap mama.
Bunda Fahri yang melihat itu pun meloloskan buliran air matanya.
Mereka berpelukan sangat erat. Mama nulai terisak tapi ini adalah isakan bahagia.
"Ma.... udah ma... giliranku ma" ucpa Ryan memecah keheningan.
"Walah ni bocah lagi adegan sedih malah bercanda" ucap Mirna sambil melempar bantalan sofa.
"Mir.. sakit"
"Babahno (Biarin) "
Za mengurai pelukannya dan menghampiri Ryan kakaknya.
"Mas Ryan.... "
"Hai Maya.... adikku... terimalah kakakmu yang ganteng ini melebihi suamimu, jangan sedih. Jika kamu sedih pasti aku akan menghajar suamimu walaupun ia tak bersalah sekalipun"
"Songong" pekik Fahri.
Gelak tawa terdengar di ruang tengah. Pemandangan yang indah dengan kebahagiaan yang menyertainya. Zahida sudah menemukan keluarganya.
Fahri juga tak kalah bahagianya karena pernikahannya sah dimata agama. Ia bersyukur bahwa Zahidalah yang menjadi bagian dari tulang rusuknya.
THE. END
Hai teman - teman cerita Zahida saya cukupkan sampai disini ya.
Maaf jika banyak typo dipenulisannya atau alurnya yangbkirang sesuai bagi reader semua.
Sampai jumpa di karya selanjutanya...
bye. bye....