Zahida

Zahida
Membawanya pergi.



Hai teman - teman jangan lupa tinggalkan jejak ya....like, komentar dan votenya ya...😁😁😁😁


Zahra terkejut mengetahui kebenaran jika adik satu - satunya sudah menikah dan dengan kodisi yang sudah tidak sempurna. Bunda Fahri mengerti akan hal itu dan segera mengajak Zahra dan Adam pergi ke ruang kerja Fahri. Sedangkan Indah dan Aisyah berada di kamar itu.


"Silahkan masuk" ucap bunda Fahri.


"Terimakasih nyonya"


"Fahri kamu jelaskan semuanya kepada kakak Zahida apa yang telah terjadi" titah bunda.


"Baiklah bun" ucap Fahri.


Dengan menghela nafas dalam - dalam dan mengeluarkan dengan kasar. Fahri mulai bercerita awal mula ia bertemu dengan Zahida dan sampai Zahida mengalami kecelakaan.


Zahra dan Adam mendengarkan dengan seksama. Namun dalam raut wajah Zahra masih menyiratkan bahwa ia kecewa dan sedih.


"Bi...kita bawa puoang Zahra ya bi" ucap Zahra pada Adam suaminya.


Kata - kata Zahra bagai petir yang menyambar hati dan jiwa keluarga Fahri.


"Jangan...." teriak Fahri.


"Maaf pak Fahri, untuk tindakan yang akan kami lakukan kepada Zahida adik kami, akan kami diskusikan dengan keluarga di Bandung.


"Maaf nak...Zahida sudah menjadi istri dari Fahri jadi Zahida akan kami rawat di sini sampai ia sembuh."


"Nyonya maafkan saya, tapu saya tidak rela jika adik saya dijadikan istri kedua oleh tuan Fahri, kasihanilah adik saya nyonya...dan pasti istri pertama taun Fahri tidak akan bisa menerima keberadaan adik saya" jawab Zahra sambil menunduk dan terlihat sekali jika bibirnya bergetar menahan tangisnya.


Tiba - tiba....


"Iya itu memang benar, saya tidak terima jika adik anda menjadi istri kedua suami saya" teriak Kamila.


Semua orang menatap kearah Kamila yang tiba - tiba datang dari pintu utama. Dan Zahra semakin sesenggukan.


"Mbak Kamila" batin Ada**m.


Di kamar Fahri...


"Mbak Indah...." ucap Zahida memegang tangan Indah dengan kuat pertanda ia butuh kekuatan.


"Nyonya...sabar....kuat" hanya itu yang bisa Indah ucapkan karena Indah sangat mengerti posisi nyonya muda keduanya tersebut.


"Mas...kenapa kamu begitu menginlnginkan gadis yang bahkan tidak mau denganmu! pekik Kamila.


"Kamila...apakah saya harus menjelaskan kepada semua orang perlakuanmu selama ini?" tanya Fahri.


Kamila belum sadar jika ada Adam, adik dari mantan kekasihnya beberapa tahun lalu. Kamila mendudukkan dirinya di single sofa berhadapan dengan semua orang.


"Sial ada Adam" batin Kamila dengan sedikit terkejut.


"As1\22ssssalamualaikum Kamila" pekik Adam.


"Wa'alaikumsalam...A Adam?" jawab Kamila.


"Apakah kalian saling mengenal?" tanya bunda Fahri.


"Iya nyonya...." sahut Adam.


"I iya bun...A Adam ini adik dari teman Kamila"


sahut Kamila.


"Apa perlu saya ceritakan dengan jelas nyonya? mungkin nyonya besar tertarik?" tanya Adam.


Sebelum bunda menjawab, Kamila dengan tiba - tiba berdiri dan permisi untuk pulang. .


"Kamila....kamila....sikapmu tak seindah namamu?" batin Adam.


Di kamar, Zahida benar - benar memikirkan cara agar ia bisa ikut Zahra pulang ke Bandung. Namun statusnya sebagai istri membuatnya ragu.


Kembali ke ruang utama, semua orang khususnya Fahri dan bundanha sedang meyakinkan jika Zahida akan baik - baik saja di rumah bundanya Fahri. Namun tidak demikian dengan Adam dan Zahra. Mereka sudah mengambil keputusan untuk membawa Zahida pulang.