
Mas... Za... Za... ingin ke kamar"
Fahri tak percaya atas apa yang ia dengar.
Zahida menjauh, langkahnya sudah menuju pintu keluar sampai punggungnya sudah tak terlihat lagi oleh semua orang. Fahri yang mengerti keadaan istrinya tidak baik - baik saja segera beranjak menyusul. Sedangkan di dalam ruangan masih tersisa Mirna, Ryan, Mama Ryan dan Bunda Fahri.
Bunda mendekat ke mama Ryan " Sabar itu obat dari segala macam kegundahan hati. Mungkin Za masih terkejut dengan peristiwa beberapa bulan terakhir, pernikahannya dengan Fahri pun penuh tekanan baginya"
ucap bunda kepada mama Ryan.
"Kak...dia anakku, anakku yang hilang, adik Ryan. Aku sangat bahagia kak, tapi hatiku juga sedih mengetahui aku bukan bagian dari keluarga kita" ucap mama Ryan sendu.
"Ma... sudahlah... dia butuh sendiri".
"Tante.... semangat.... " dengan kepalan satu tangannya ke atas Mirna mencoba menghibur mama Ryan.
"Sayang... kamu mirip sekali dengan mama kamu, ceria sekali"
"Iya dong... dan cantik ya tan"
"helaaaah kulit eksotis aja cantik" ucap Ryan sambil. menoyor kepala Mirna.
"ih apaan sih. tante.... tolongin"
"Yan... ini adik kamu juga"
"Iya ma... "
"Ayo kita ke depan, aku pengen seblak yang biasa lewat depan rumah" ucap bunda Fahri sambil mendorong kursi roda mama Ryan.
"Tapi kak... aku ingin bertemu maya"
"Nanti ya... dia mungkin kurang sehat" alasan bunda agar mama Ryan tidak merasa sedih ditinggalkan oleh Zahida.
Di kamar...
Di sisi ranjang, Zahida duduk, pandangannya kosong, namun air matanya tak mau berhenti. Hatinya sedih tatkala mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, walaupun ia tahu pernikahannya sah di mata agama. Karena nyatanya ia bukan saudara sedarah suaminya. Namun kenyataan ini, kenyataan bahwa ia memang benar bukan anak dari keluarga ayah dan ibu yang telab membesarkannya sangat berpengaruh pada perasaannya. Di tambah lagi dengan hormon kehamilan membuat ketidakstabilan emosinya.
"Za..... "
Zahida menoleh tanpa berkata karena lidahnya terasa kelu.
Fahri mendekat duduk disisi Zahida.
Mengelus punggung istrinya, memeluknya dan... Zahida membalas pelukannya. Lama terdiam tanpa pergerakan dan Fahri merasakan dadanya basah. Basah air mata istrinya.
Fahri mulai mengurai pelukannya, tapi Zahida tidak mau melepaskan. Fahri akhirnya pasrah membiarkan.
Beberpaa menit kemudian.
"Za.... lihat mas"
"Za... lihat mas"
Za mengurai pelukannya, memandang wajah suaminya dalam diam.
"Apa yang membuat istriku sedih? " ucap Fahri sambil mengusap air mata Zahida.
"A aku.... bukan anak ayah dan ibu, aku anak tante... aku " jawab Zahida terbata bata.
"Sudah sayang.. kita terima kenyataan ini ay, kamu harus bersyukur sekarang sudah jelas kamu adalah maya. Dilahirkan dari keluarga baik-baik"
"Aduh"
"Kenapa sayang"
"Mas perutku... "
"Apa yang kamu rasakan sayang?"
Tiba - tiba Zahida sudah hilang kesadarannya.
Fahri menghubungi dokter keluarganya, dan segera memanggil bunda. Namun sebelumnya ia membaringkan istrinya dan mengoleskan minyak katu putih di telapak tangan dan kakinya. Ia juga membuka hijab istrinua karena di dalam rumah adalah mahrom istrinya. Dulu sebelum mengetahui bahwa Ryan adalah kakaknya, jika ada Ryan, ia tak mengizinkan Zahida membuka hijabnya .
"Bunda.... Mirna....tolong Bun.... "
Mendengar teriakan dari Fahri, semua orang bergegas menuju kamar Fahri.
"Yan... bantu aku"
"what... ?"
"Pergi ke perusahaan sekarang, urus meeting dengan tuan Takashi daru Jepang, meeting satu jam lagi"
"Haaa...... " Ryan melongo. Ia pikir, ia akan disuruh untuk memanggil dokter atau mengantar Zahida ke rumah sakit.
"Bahan presentasi ada di meja ruanganku"
"Hem.. baiklah"
"Mir.... bantu aku jaga istriku"
"Ashiaaaaaap"
"Bunda.... apa yang harus aku lakukan?"
"Sabar ... dia masih kaget dengan berbagai peristiwa yang terjadi"
hai hai.... jangan lupa bantuin author ya... tinggalkan jejaknya.... bye bye