Zahida

Zahida
pulang ke rumah bunda



Melihat itu, Fahri tidak tega melihat Zahida menangis dan langsung menghampiri dan memeluk Zahida.


Zahida seketika menghentikan tangisannya, namun ia masih terisak. Zahida merasakan ada kehangatan dalam pelukan Fahri.


Bunda, Ryan, dan Mirna keluar untuk memberi waktu Zahida dan Ryan berdua.


"Hikz... hiks.. hikz.. kenapa tuan mempermainkan kehidupan saya? apa salah saya tuan? " tanya Zahida di dalam dekapam Fahri.


"Jangan menangis ... maafkan saya... saya memaksamu menerima pernikahan ini" ucap Fahri menjelaskan.


"benarkah dia minta maaf padaku, seperti mimpi" batin Zahida.


Fahri melepaskan pelukannya dan meninggalkan Zahida. Fahri sangat canggung ketika memeluk Zahida namun ia merasa bahagia karena telah menikahi wanita sesuai pilihan hatinya. Sedangkan perasaan Zahida saat ini sangat berbanding terbalik Fahri. Sedih dan kecewa itulah perasaan Zahida. Tubuhnya sudah tidak sempurna kemudian ia menikahi laki - laki beristri.


"Minggu depan kita akan menikah resmi secara negara" ucap Fahri tegas.


"saya tidak mau menikah dengan anda, tolong tuan" ucap Zahida dengan pipinya yang masih basah.


"Saya tidak menerima penolakan" tegas Fahri.


Tanpa persetujuan Zahida, Fahri mengangkat tubuh Zahida dan mendudukkan Zahida di kursi roda tanpa mengucap kata apapun.


Bunda, Ryan, dan Mirna memutuskan untuk masuk kamar perawatan Zahida.


"Ayo sayang kita pulang, Zahida kamu tinggal bersama bunda ya nak dan panggil bunda dengan sebutan yang sama seperti Fahri" ucap bunda lembut.


"Iya bun." ucap Zahida datar.


Zahida hanya tersenyum simpul mendengar perkataan bunda dan memikirkan nasibnya yang sangat cepat berubah. Ia merasa bahagia dengan pernikahannya namun ia juga sedih karena menikah secara terpaksa dan tidak ada perasaan apapun pada Fahri bos sekaligus saat ini adalah suaminya.


" kenapa nasibku seperti ini... kakiku lumpuh, menikah dengan paksaan. Sekarang aku tidak berguna lagi" batin Zahida


Mereka memasuki mobil menuju rumah bundanya Fahri. Mirna mendorong Zahida, sedangkan bunda sudah memasuki kamar Fahri. Semua pelayan yang berjumlah 8 orang sudah menyambut mereka di ruang utama. Fahri kemudian masuk ke ruang kerja bersama Ryan untuk mengurus pekerjaan yang akan ditinggal Fahri selama seminggu untuk mengurus Zahida. Sedangkan Mirna mengajak jalan - jalan menyusuri rumah bundanya Fahri.


"Nah ini kamar si bos songong itu ya Zahida" ucap Mirna.


"Kamar ini besar sekali, luasnya seperti rumahku" batin Zahida


"Mbak Mirna...aku ingin pulang" ucap Zahida


"Hey... ini rumah kamu sekarang"


"Mbak... aku tidak mau jadi istri kedua"


"Sebentar lagi jadi istri satu - satunya kok" ucap Mirna lagi dengan Entengny.


"Maksud saya, saya tidak ingin melukai dokter Kamila, saya juga wanita mbak... saya tahu pasti dokter Kamila sangat sedih" ucap Zahida.


"Sudahlah sayang, Fahri pasti sudah memikirkannya, kadang kita hanya bisa melihat orang lain yang tampak dari luar, bukan dalam hatinya atau perilakunya" ucap bunda lembut sambil mengelus pundak Zahida.


Bunda Zahida membawa Indah salah satu pelayan yang akan mengurus semua keperluan Zahida. Indah merupakan pelayan khusus yang diperintahkan Fahri dan bunda untuk Zahida.


"Nyonya Muda saya Indah, yang akan mengurus nyonya" ucap Indah sambil sedikit membungkuk.


"Iya mbak Indah, saya Zahida. " ucap Zahida dengan senyumnya.


"Nama nyonya cantik sekali" ucap Indah lagi.


"Baiklah sayang kamu istirahat ya, kami ke bawah dulu menyiapkan makan malam" ucap bunda lembut.


Ketika bunda, Mirna dan Indah sibuk di dapur membantu mbok Minah menyiapkan makan malam, Fahri keluar ruang kerja dan menuju kamarnya untuk menemui Zahida. Ia sudah mengetahui jika Zahida menempati kamarnya sebelum menikah.


"Ceklek.... "


"Assalamualaikum... " Fahri masuk kamar namun ia melihat Zahida yang yang sedang melamun.


Zahida duduk dikursi roda menghadap luar jendela dengan tatapan kosongnya, pipinya basah menandakan buliran air lepas lagi dari kelopak matanya. Entah apa yang dipikirkannya namun raut kesedihan nampak sekali di wajahnya.


"Zahida..... " ucap Fahri sambil berjongkok.


"Tu Tuan... " ucap Zahida terkejut.


Fahri berdiri dan langsung memeluk Zahida. Zahida kembali menangis, Fahri mengetahui itu karena dadanya terasa basah. Zahida hanya diam.


"Kamu adalah istriku sekarang, berbagilah denganku tentang apa saja dan jangan panggil aku tuan, aku bukanlah atasanmu lagi" ucap Fahri tegas.


Fahri melepaskan pelukannya dan meemanddang Zahida. "Jangan pernah berfikir kamu merebutku dari wanita lain, akan aku ceritakan nanti agar kamu mengerti"


"Baik" ucap Zahida yang masih canggung. Ia belum bisa menerima perubahan hidupnya yang begitu cepat.


"mandilah dulu, waktu menjelang magrib kita akan sholat berjamaah, akan saya panggilkan kepada Indah" ucap Fahri datar.


"baik tuan" jawab Zahida.


"ini suami atau apa sih, tidak ada pekanya sama sekali. Dia yang ingin menikah tapi dia yang cuek" batin Zahida.


"Jangan memgumpatku"


Zahida terkejut dengan ucapan Fahri.


"Sa saya tidak mengumpat tuan"


"Jangan panggil tuan"


"Saya harus panggil apa? "


"pikirkan sendiri"


Fahri mengangkat Zahida dari kursi roda.


Dan membawanya ke kamar mandi.


"Tu tuan...eh mas....tolong jangan.... panggilkan mbak Indah saja" pinta Zahida.


Dengan menghela nafas panjang, Fahri akhirnya memanggil Indah. Indah yang sedari tadi menunggu di luar kamar langsung masuk ke kamar mandi.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya muda?" ucap Indah


"Mbak Indah...tolong bantu saya mandi"


"Iya nya"


"Tuan...mas keluar dulu ya"


"Tanpa kamu suruh saya akan keluar"


"suami aneh" gumam Zahida.


Teman - teman bantu author dong dengan like, vote, dan komentarnya.🤗


makasih bye....😄