Zahida

Zahida
Tersadar



Mereka bertiga (Ryan, Fahri, dan Mirna) masuk ke ruang rawat Zahida.


Melihat Zahida dengan selang oksigen yang menempel di hidung dan infus yang masih tertancap di tangan Zahida membuat Fahri dan kedua sahabatnya semakin sedih. Apalagi perasaan Ryan, ia seperti melihat adiknya terbaring kesakitan. Ia sudah menganggap Zahida adalah adiknya yang telah hilang 20 tahun yang lalu.


Mirna berjalan mendekati ranjang Zahida. Dan duduk di sebelah ranjang. Sedangkan kedua laki - laki yakni sahabatnya yaitu Ryan dan Fahri duduk di sofa tak jauh dari ranjang Zahida.


"Zahida... sadarlah... kami disini bersamamu!" ucap Mirna dengan bibir bergetar menahan tangisnya.


"Ri, Mir, setelah Zahida sadar apa yang harus kita lakukan?" tanya Ryan pada sahabat sekaligus sepupunya tersebut.


"Maksudmu? " tanya Fahri sambil menatap Ryan penuh tanya.


"Tidak mungkin kita membiarkan Zahida pulang ke rumahnya sendiri dengan keadaaannya yang seperti ini" ucap Ryan.


Hening


Hening


Hening


"Biarlah dia dirumahku sampai dia sembuh" ucap Fahri.


Mirna dan Ryan saling pandang dalam diam seolah mereka berdua ingin menanyakan keseriusan Fahri.


"Ceklek... "


"Assalamualaikum.... "


Semua menoleh pada seseorang yang masuk dan ternyata adalah Kamila. Dokter yang menangani Zahida sekaligus istri Fahri. Ryan dan Mirna tersenyum ramah namun tidak dengan Fahri. Tatapan Fahri datar tanpa ada senyuman ataupun menunjukkan wajah ramah.


"Kamila...Bagaiamana keadaan Zahida? " tanya Ryan.


"Alhamdulillah gadis ini adalah gadis yang kuat, dia melewati masa kritis denga. cepat padahal lukanya cukup serius" ucap Kamila.


"Maaf bolehkah aku bertanya pada kalian? "


"Ya" jawab Fahri.


"Siapakah gadis ini sehingga membuat kalian semua mengkhawatirkannya? "


"Dia karyawan kami" jawab Fahri datar.


"Dia sahabatku sekaligus saudaraku" jawab Ryan.


"iya" Mirna menimpali.


"Oh baiklah kalau begitu. Kalian jangan khawatir dalam satu jam ke depan mungkin dia akan terbangun. Saya permisi".


Dalam hati Kamila, ia sungguh sangat senang mendengar penuturan dari Ryan dan Mirna. Tapi ia lebih senang karena Fahri menganggap Zahida adalah karyawan. Kamila sedari tadi gelisah, ia teramat takut bahwa suaminya menyukai Zahida pasiennya. Karena beberapa kali ia menatap suaminya dan menangkan raut wajah suaminya sangat khawatir pada Zahida.


"Ri, kamu serius dia tinggal sama kamu? " tanya Mirna


"Ini tanggung jawabku Mir, aku penyebab dia kecelakaan" jawab Fahri


"Ri... apa gak sebaiknya dia tinggal sama Mirna atau sama aku aja, ada mama di rumah, mama pasti senang bisa senang ada teman di rumah. Karena papa juga sering ke luar negeri mengurus perusahaannya" ucap Ryan.


"Gak... Zahida tetap di rumahku".


"Ta tapi bagaimana dengan istrimu? orang tuamu? mereka pasti bertanya tanya siapa Zahida sampai seorang fahri membawanya ke rumah" ucap Mirna yang mulai geram pada Fahri yang keras kepala.


"Cobalah hargai perasaan istrimu Ri" ucap Ryan.


"Kasihan Kamila, selama pernikahan selalu kau acuhkan, bukalah sedikit hatimu untuknya" ucap Mirna.


"Kalian tidak tahu, Kamila tidak sebaik yang kalian kira. Aku sudah membuka hatiku padanya namun yang aku dapati adalah dia seorang yang sudah tidak suci lagi ketika menikah denganku. Dan dia melakukan hal haram tidak hanya dengan satu pria. Sungguh aku kecewa padanya dan sungguh nasibku begitu buruk. Aku merasa dia tak pantas untukku, kalian dibutakan akan sikap baiknya"


Flashback on


Satu tahun yang lalu...


"Saya terima nikah dan kawinnya Nur Kamila Febrianti dengan seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 100 gram di bayar tunai" ucap Fahri dengan lantang.


Rina kebahagiaan terlihat di wajah kedua mempelai pengantin tersebut. Mereka adalah Fahri dan Kamila. Fahri yang sudah menerima keputusan orang tuanya dengan ikhlas sebagai bentuk baktinya sebagai anak kepada orang tuanya. Sedangkan Kamila seorang dokter bedah dengan paras yang teduh dan cantik.


Setelah acara resepsi, Fahri dan Kamila masuk ke dalam kamar hotel yang telah disedikan kedua orang tua mereka.


"Mas...terimakasih telah menerimaku dengan ikhlas"


"Aamiin"


"Tapi... ada satu hal yang ingin aku sampaikan pada mas"


"Iya...sampaikanlah.


Mereka berdua duduk di sofa yang ada dekat ranjang king size mereka.


"Aku tidak ingin menutupi apapun kepada mas, se se se benarnya aku sudah tidak suci lagi" ucap Kamila dengan suara bergetar dan menahan tangis.


Deg


Fahri terkejut dengan penuturan Kamila. Tapi ia segera menguasai keterkejutannya.


"Apakah aku menikahi seorang jalang? tapi apakah bagaimana mungkin seorang gadis dari keluarga terhormat menjadi jalang" batin Fahri.


"Maksudmu? " tanya Fahri datar.


"Aku sudah tidak suci semenjak aku kuliah di Inggris, aku sungguh menyesal, aku harap mas mau menerima kekuranganku, maaf" ucap Kamila terisak.


Fahri hanya diam saja.


Hening


Hening


Hening


"Dengan siapa kamu melakukannya? " tanya Fahri


"Dengan pacarku, pria yang berasal dari Belanda dan Austria"


"Berarti kamu melakukan hal haram itu berkali - kali" ucap Fahri penuh amarah dengan memegang rahang Kamila dengan keras.


"Mas sakit, aku sudah berubah semenjak aku tahu jika aku akan menikah denganmu"


"Cih... jadi jika kamu tidak akan menikah denganku, kamu akan tetap melakukannya"


"Aku sangat menyesal" ucap Kamila lirih dan matany berkaca - kaca.


"Baiklah Kamila, terimakasih kamu mau jujur padaku, tapi berilah aku waktu untuk menerimamu dengan ikhlas dengan batas waktu yang tidak bisa aku tentukan. Karena kejujuranmu dan keadaanmu membuatku sangat kecewa. Aku tidak menyangka mendapat istri bekas dari laki - laki lain. " ucap Fahri tegas.


"Mas... "


"Bersihkan dirimu dan tidurlah"


Fahri keluar kamar dan menuju apartemen yang ia tempati bersama Ryan.


Sejak itu, hubungan Fahri dan Kamila seperti orang asing yang tinggal bersama. Kamila masih melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan menyiapkan semua keperluan Fahri namun Fahri masih kecewa dengan keadaan istrinya.


Flashback Off


"Ri... kok malah melamun? aku belikan kalian makan ya" tanya Mirna.


"Mir.. Yan... aku menyukainya" ucap Fahri


Mirna yang berjalan menuju pintu tiba - tiba langkahnya terhenti mendengar kata Fahri.


"Ri... sadar.. kamu suami Kamila." sahut Ryan.


"Andai kalian tahu Kamila, kalian akan bersikap sama sepertiku" ucap Fahri.


Mendengar keributan di dekatnya, perlahan Zahida membuka matanya pelan - pelan.


"Mbak Mirna.... " panggil Zahida dengan lirih


"Zahida..... " Teriak Mirna


Hai teman - teman...


Minta dukungannya ya buat author...


Biar bisa up terus buat teman2.


makasih bye bye...