
Hai...author up lagi ya...mohon maaf jika cerita ini jauh dari sempurna.🤗🤗🤗. Jangan lupa tinggalkan jejak ya....
Sebelum nyonya mudanya bertanya, Indah menjelaskan apa yang ia lihat dan dengar di loby rumah sakit saat menunggu Zahida dan Fahri datang.
"Mbak Indah harus tetap sabar dan semangat. Jangan lupa ikhtiar dan doa selalu diselipkan dalam setiap langkah kita" ucap Zahida sambil menggerak - gerakkan kakinya.
"Iya nya..." jawab Indah sendu.
"Jodoh tidak ada yang tahu, mbak Indah bisa melihat saya dengan mas Fahri, saya harus menerima takdir saja menjadi istrinya, padahal awalnya saya tidak tertarik sama sekali kepadanya. Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tajun selebelum pencipataan langit dan bumi. " jawab Zahida.
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Artinya:
"Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim).
"Hati ini rasanya seperti disiram air es, nyess banget mendengar nyonya muda ini, dia sangat istimewa, beruntung tuan Fahri mendapatkan nyonya muda". batin Indah.
Sedangkan di ruangan Arif.
"Ri, saya dengar sudah berpisah dengan Kamila" tanya Arif
"Alhamdulillah sudah., rasanya sudah lega sekali." jawab Fahri.
"Dulu saya berfikir kamu beruntung menikah dengan Kamila"
"Kenapa?"
"Kamila sangat baik"
"Iya, tidak saya pungkiri jika Kamila sangat baik, bahkan menjadi istri ia bisa dibilang sangat sempurna. Tapi..."
"Tapi dia sudah bekas orang lain"
Arif dan Fahri tertawa sampai mereka tidak sadar jika Kamila berada di depan pintu dan mendengarkan percakapan mereka sejak 30 menit yang lalu.
"Seberapa burukkah kalian berfikir tentangku, aku memang sangat buruk tapi itu dulu. Sekarang aku berusaha lebih baik lagi, tapu itu tidak berarti bagi kalian terutama mas Fahri" batin Kamila.
Kamila berjalan tergesa-gesa ke mobilnya dan merogoh benda pipih yang ada di tasnya.
"Gus....aku setuju dengan tawaran kamu, tapi kita laksanakan 3 bulan lagi" ucap Kamila dengan seseorang di seberang panggilannya.
Harapan pindah dari Surabaya ke Bandung ternyata sama menyakitkannya bagi Kamila. Ia harus bertemu kembali dengan Arif. Mencoba memulai sesuatu yang baru dengan Arif seperti sebelum menikah rasana tidaklah mungkin.
Di ruang lain.
"Sudah bu...untuk terapi hari ini" ucap perawat yang membantu Zahida.
"Terimakasih sus" ucap Zahida dengan senyum manisnya.
"Mbak Indah, ayo ke ruangan mas Arif"
"I iya nyonya, tapi ruang mas Arif lumayan jauh, apa tidak apa - apa?" tanya Indah.
Baru beberapa laangkah mereka berjalan, benda pipih Zahida berbunyi dan Fahri yang memanggilnya. Dengan menggeser tombol hijau, Zahida sudah terhubung dengan Fahri.
"Assalaamualaikum...Za ...mas jemput disana jangan kemana - mana" pekik Fahri.
"Tapi ini Za sudah berjalan ke arah gedung"
"Kalian dimana sekarang?"
"Kami masih di gedung biru"
"Tunggu ... disana"
tut...tut ..tut
"Mbak tunggu disini, kita berteduh di sana ya mbak" ucap Zahida sambil menunjuk ke arah loby gedung.
5 menit
10 menit
15 menit
"Kok lama ya?" gerutu Indah.
"Sabar mbak, sabar merupakan salah satu wujud keindahan akhlak seorang muslim." ucap Zahida.
Fahri sudah terlihat dari kejauhan sambil sedikit berlari menuju istri kesayangannya.
"Za...."
"Mas..."
"Maaf lama"
"Iya tidak apa - apa"
"Ayo kita pulang"
"Ih tuan lama sekali datangnya, padahal tadi kita udah mau nyampek" gerutu Indah
"Kalian tadi berjalan sampa mana?
"Sampai sono tuan" tunjuk Indah.
"Trus"
"Tuan telpon ya kami balik lagi"
"istriku memang penurut" batin Fahri