
Selamat membaca teman - teman. Jangan lupa tinggalan jejak ya untuk author yang masuh belajar nulis ini. 😀🤗
Hari ini sidang perpisahan terakhir untuk Kamila dan Fahri. Hati Fahri sungguh sangat bahagia karena ia telah terleppas dari hubungan yang menyiksanya selama ini. Sedangkan perasaan Kamila yang sudah berusaha sekuat tenaga dan fikirannya untum menjadi istri yang baik nyatanya sia - sia belaka. Ia sudah menyerah, ia ingin bahagia dengan cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan.
Ketok palu sudah berbunyi 3 kali, tandanya semua sudah berakhir. Hari ini Fahri bertemu lagi dengan Kamila. Tidak seperti sebelumnya, wajah Kamila cerah, tampak rona keikhlasan sudah bertandang di wajahnya. Beberapa kali ia tersenyum mendengarkan kata demi kata putusan hal yang diayangkan untuknya.
"Mas... semoga kita bisa menjadi teman untuk kedepannya" seru Kamila dengan sat kanannya menawarkan untuk bersalaman dengan Fahri.
"Tentu saja, semoga kamu menemukan kahagiaanmu" balasa Fahri dan menerima uluran tangan mantan istrinya tersebut.
"Saya permisi dulu" ucap Fahri.
"Silahkan" jawab Kamila.
"Mas... semoga aku mendapatkan suami lagi sepertimu, kamu memang tidak pantas denganku."batin Kamila bermonolog.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 Wib. Zahida sudah bersiap di kamar menunggu kedatangan Fahri.
Sementara Indah yang bersama Mirna dilanda kecemasan. Ia ingat jika nyonya mudanya akan melakukan terapi pertamanya. Sedangkan ia hanya duduk bersantai di hotel.
"Nona Mirna...bolehkan saya pulang?" tanya Indah berharap Mirna memperbolehkannya pulang.
"Ngapain? tanya Mirna.
"Hari ini saya mau menemani nyonya Zahida melakukan terapi pertamanya"
"Tenang Indah...sudah ada bos yang menemaninya jangan cemas berlebihan begitu".
"Tapi....."
"Ada apa lagi?"
"Hem.... anu non...."
"Bilang yang jelas dong Ndah!" pekik Mirna.
"Tidak jadi non" wajah Indah berybah sendu. Sebenarnya selain ingin menemani Zahida terapi pertama, ia juga rindu melihat Arif. Hatinya seolah menginginkan melihat Arif setiap waktu. Melihat wajah Indah sendu, Mirna tidak tega. Akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Indah pulang sebelum kr kantor cabang.
"Ndah...setelah ini saya mau ke kantor cabang dan kamu saya antar ke rumah sakit tempat Zahida terapi.
Wajah Indah berubah ceria.
"Anak ini kenapa sih cengengesan setalah tahu mau kuantar, padahal aku ingin jalan jalan hari ini dan Indah orang yaang tepat mengantarkanku keliling karena dia asli orang sini" batin Mirna.
Fahri pulang dari pengadilan agama langsung menuju rumah Adam menjemput istrinya.
Tiba di rumah, tak lupa mengucap salam dan bertemu dengan Zahra.
"Di kamar?"
"saya kesana mbak"
"Silahkan"
Suara langkah kaki di anak tangga sudah sampai kr telnga Zahida.
"Mas Fahri sudah datang sepertinya" batin Zahida. Ia segera memakai hijabnya. Tapi ia kesulitan mengambil hijabnya di almari paling atas.
"Ceklek"
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawab Zahida tanpa menoleh ke arah Fahri.
"Za..." Fahri terpana melihat rambut Zahida terurai tanpa hijab. Biasanya rambut Zahida ia gulung. Ini baru beberapa kalinya setelah mereka menjadi pasangan suami istri. Rambut yang menjuntai panjang sepinggang, hitam dan lurus.
"Za..." Fahri berjalan ke arah Zahida.
"Iya mas" Zahida belum sadar jika is tengah diperhatikan suaminya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Za?"
"Oh...maaf mas aku belum pakai hijab" ucap Zahida tergesa gesa menggulung rambutnya.
"Biarlah seperti ini Za...rambutmu sangat indah" ucap Fahri.
"blush....." 😬 wajah Zahida bersemu merah bak tomat.
"Mas tolong ambilkan hijab Za di atas"
"Hem baiklah"
"Aku pakaikan ya"
"Jangan mas, biar Za aja"
"Aduh jantungku...cepat banget berdetaknya" batin Zahida.
Sudah semestinya suami membantu istri. "Kamu jangan berfikiran menyusahkanku Za" ucap Fahri.
"Za....kita pulang besok?" tanya Fahri pelan namun terkesan serius.