
Mendengar isakan tangis Zahida, Fahri yang awalnya hanya mengerjai istrinya langsung beranjak dari tempat tidurnya. Di sisi ranjang king sizenya, Fahri melihat Za terisak. Sungguh hatinya sangat pilu mendengar itu. Fahri bergegas menghampiri Za.
"Za.... "
"Maaf Mas...maafkan Za, maaf.... " ucap Za sambil terisak dengan buliran air yang mengalir di ujung kelopak matanya.
"Za.... jangan minta maaf lagi, saya yang salah" ucap Fahri dengan memeluk Za.
Mendapat perlakuan itu dari Fahri, isakan Za semakin keras. Fahri mengusap punggung Za dan mengecup keningnya beberapa kali untuk menenangkan Za.
Setelah tenang, Fahri mengangkat Za duduk di sofa.
"Mas.... maafkan Za"
"Sekali lagi kamu minta maaf, akan saya beri hukuman"
Mendengar itu Za kelagapan.
"Tuh kan ujung - ujungnya begituan" hati Za bermonolog.
Sebulan terlah berlalu, Fahri sudah mendapatkan informasi tentang jati diri Zahida lewat beberapa orang suruhannya.
Informasi yang tentunya membuat Fahri, Ryan, Mira terkejut.
Pagi ini....
"Huek... huek... huek.... "
Cairan bening keluar dari mulut Za, mual dan pusing sejak beberapa hari dalam seminggu ini.
"Za.... " panggil Fahri.
Mendengar suara Za dari kamar mandi, Fahri beranjak dari ranjang king size nya dan segera menuju sumber suara. Za masih mengeluarkan cairan beningnya.
Fahri memijat tengkuk leher istrinya itu dan memberikan minyak kayu putih.
"Sayang sakit? "
"Tidak mas"
"Tapi kenapa muntah setiap hari? "
"Za juga tidak tahu mas"
"Ya sudah kita ke dokter hari ini setelah makan siang, mas akan menjemput sayang"
"Jangan mas, hanya masuk angin biasa".
"Baiklah tapi jika besok keadaanmu belum membaik, kita ke dokter dan sayang tidur aja, mas akan ke kantor jangan melakukan apapun di rumah".
Fahri turun dari lantai 2 rumahnya menuju ruang makan, disana sudah ada Mirna, Ryan, dan Bunda.
"Assalamualaikum... Bunda" ucap Fahri sambil menoleh pada bundanya.
"Wa'alaikumsalam.... loh dimana Za? kok kamu turun sendiri? " tanya bunda.
"Eh songong... kita kayak gak dianggep ya.. cuma salam ke bunda doang? " pekik Mirna.
"Makan tuh ocehan emak emak di pagi haru!" sahut Ryan sambil cengengesan.
"Eh emangnya aku emak kamu apa? "
"Hahaha"
"Sudah jangan ribut, 3 sepupu isinya ributa saja. Ri.. mana Za?" pekik bunda.
"Biar saraoan di kamar aja bun, lagi kurang enak badan, masuk angin bun". jawab Fahri.
"Tumben masuk angin sampai gak sarapan bersama? jangan - jangan kalian habis olahraga pagi ya" tanya Ryan.
"Si kunyuk bener - bener minta diracun pakai cabe sekilo" batim Fahri.
"Iya tadi olahraga dia, bolak balik ke kamar mandi, lumayan bakar kalori" jawab Fahri asal.
"Baiklah,,bunda akan minta toling bibik untuk emmbawakan sarapan ke kamar kamu". pekik bunda.
"Jangan bun... ini Fahri akan membawa ke kamar." Fahri berlalu sambil membawa sarapan untuk istrinya.
Sedangkan di meja makan, bunda, Mirna dan Ryan sudah memulai sarapannya karena Fahri tak kunjung kembali dari kamar.
"Ryan.. tadi bunda dengar kamu mau menjelaskan tentang Za ke Fahri. Maksudnya jelaskan apa?" tanya bunda.
"Za bun... ternyata dia adik Ryan". ucap Ryan dengan serius.
"Kamu selama ini menyelidikinya?" tanya Mirna.
"Yes"
"Sejak? "
"Sejak dia merasa wajah Za seperti tante Tiara (mama Ryan) ketika muda." pekik Fahri tiba - tiba.
"Gak nyangka, kamu sepenasaran itu sama Za" timpal Mirna.
"Aku ingin mama sembuh seperti dulu sebelum kejadian itu terjadi".
Hai guys... jangan lupa vote dan komentarnya ya... bye.. bye.. bye...