
Flashback off
Di kantor cabang, Fahri menyelesaikan beberapa masalah.
Mirna masih terlihat kesal apalagi dikantor ia bertemu dengan Rama. Yah, Rama adalah cinta pertama Mirna. Tapi cinta Mirna bertepuk sebelah tangan. Nyatanya Rama tidak lebih menganggap Mirna just best friend seperti perasaannya kepada Ryan dan Fahri.
Namun, ketika Rama memutuskan untuk pindah ke Bandung membangun hotel bintang 5 agar bisa menghindar dari Mirna ternyata Rama mulai menyadari perasaannya. Hati Rama ternyata sudah terpaut nama Mirna. Bayangan Mirna setiap hari muncul di benaknya.
Di ruang meeting, ada Mirna, Fahri dan Rama. Bisa dibayangkan hati Rama saat ini, ia bahagia melihat belahan hatinya di hadapannya.
"Bos... besok saya ikut ke Surabaya, Ryan sudah saya hubungi untuk kesini mengurus semuanya"
"Kenapa mendadak? " tanya Rama dengan wajah datarnya. Rama tidak ingin ada yang tahu jika hatinya sudah ada Mirna.
"Bukan urusan kamu" pekik Mirna kekuar ruangan dan membanting pintu dengan lumayan keras.
"Ram... aku butuh bantuanmu!" ucap Fahri.
"Apa, jika aku bisa akan aku lakukan? "
"Urus perusahaan ini? "
"What....?" pekik Rama sambil terkejut.
"Hotel kamu sudah jadi, lagipula tidka butuh tiap hari kesana dan letaknya juga berdekatan dari sini. Noooh di depan sono sudah kelihatan" cerocos Fahri.
"Harus aku?"
"Iya"
"Mirna? Ryan? "
"Mereka sibuk, Mirna ikut aku ke Singapur, Ryan handle perusahaan utama"
"Padahal aku harap, Mirna tetap disini" ucap Rama namun masih terdengar dengan jelas oleh Fahri.
"Baiklah... Mirna akan tetap disini" ucap Fahri seakan tahu jika Rama sudah menyukai Mirna.
Fahri beranjak pergi, ia akan pupang ke tunah Adam. Hatinya sudah sangat rindu kepada istri kecilnya.
Di rumah Adam.
Indah dan Zahida sudah bersiap memasukkan semua barang mereka ke koper untuk persiapan puoang ke Surabaya.
Zahra dan Adam masih di ruang utama dengan Umminya Adam dan si kecil Aisyah.
"Bagaiamana cara menjelaskan bahwa Zahida bukan adik kandungku ya ummi? " tanya Zahra meminta saran.
"Apa kalian sudah memberitahu Fahri suami Za? " tanyq Ummi
"Sudah Ummi" jawab Adam dan Zahraa kompak.
"Biarlah Fahri yang menjelaskan itu kepada Za" ucap Ummi.
"Za... sejak kapan kamu disitu? " tanya Adam.
"Sudah sejak tadi kak"
"Apa karena itu ayah tidak pernah memperlakukanku dengan baik selama ini, bahkan setelah ibu meninggal, ayah pergi meninggalkan Za."
"Tidak seperti itu Za, ayah hanya.... " jawaban Zahra menggantung.
"Hanya tidak menyukaiku" jawab Za dan buliran air lolos begitu saja.
Hening...
Hening...
Hening...
Suasana hening beberapa saat namun si kecil Aisyaj seakan mengerti keadaan orang - orang disekitarnya akhirnya ia menangis.
"Umi.... mau bobok"
"Ayo sayang kita ke kamar. "
Ketika Zahra menggendong Aisyah tiba - tiba...
"Kak... siapa aku? "
Zahra yang sudah menahan tangis tiba - tuba memeluk Zahida.
"Kamu tetap adik kakak, kamu tetap anak ibu dan ayah" jawab Zahra terisak.
"Sudah... ayo kita pada mandi, ini sudah sore" ajak mertua Zahra.
Tiba - tiba Fahri datang bersama Mirna dengan membawa satu koper kecil berwarna pink.
"Mas Fahri" ucap Zahida dengan mengusap air mata yang sedari tadi mengalir deras.
"Wah semua pada kumpul" ucap Mirna girang.
"Pak Adam, mbak Zahra bolehkah saya menginap disini untuk malam ini? karena besok kami akan pulang ke Surabaya"
"Kami? " tanyaa Adam.
"Ehem.... iya mas, Saya, istri saya, Mirna dan Indah akan kembali ke Surabaya. Pengobatan Za akan saya lanjutkan di Singapura bersama bunda saya"
"Za.... " ucap Zahra menatap Zahida seolah meminta kebenaran atas apa yang disampaikam Fahri.
"Iya kak"
😄😄😄😄😄
Teman - teman jangan lupa like, komentarnya ya... biar author bisa mulai semangat lagi nulisnya. Syukur - syukur jika klik Favorit. Bye... Bye...