
Bunda...." ucap Zahida sambil berkaca - kaca.
"Hati - hati" ucap bunda lembut sambil mengelus pundak Zahida dan mencium kening Zahida.
"Zahida...pikirkan lagi tindakanmu ini, kasihan Fahri" ucap Mirna dan diangguki oleh Ryan.
"Maaf mbak. ..Maaf mas Ryan" ucap Zahida lirih.
Kepergian Zahida sangat berat bagi Fahri. Harapannya untuk bersama Zahida sudah pupus, walaupun ia mengirim Indah sebagai perantara baginya mengawasi Zahida.
Diperjalanan menuju Bandung suasana sangat hening karena semua orang sibuk dengan pemikirannya masing - masing termasuk Indah, ART yang ditugaskan untuk mengikuti Zahida. Zahida menghadap keluar jendela, seolah memikirkan sesuatu.
"Za...."
"Iya mbak" jawab Zahida lirih.
"Kamu sayang sama...."
"Umi..."
"Iya bi"
Panggilan dari Adam seakan menyiratkan untuk Zahra untuk diam.
Aisyah yang sedari tadi sudah terbangun pun melihat sang tante yang hanya menghadap kaca jendela dan enggan untuk mengajaknya bercanda seperti biasanya.
"Tanteee..... tante Za.....aica kangen"
"Tante juga" jawab Zahida dan mengarahkan pandangannya ke keponakan cantiknya.
"Kenapa hatiku begitu sesak, jauh dari suami, tapi aku hanya istri kedua dengan keadaan yang tidak sempurna seperti ini, berbeda jauh dengan dokter Kamil**a" batin Zahida
Indah yang duduk bersebelahan dengan Zahida pun sesekali menoleh kepada nyonya kudanya itu.
"Nyonya muda sepertinya sedih meninggalkan rumah nyonya besar" batin Indah.
"Nyonya...." panggil Indah.
"Mbak Indahz saya bukan nyonya mbak.Indah lagi, mbak Indah seharusnya tidak perly ikut saya"
"Tidak apa - apa nyonya, tuan mengkhawatirkan nyonya maka dari itu mengutus saya ikut nyonya, dan saya senang bisa bersama dengan nyonya" jawab Indah.
Sementara di rumah bunda Fahri.
Ryan dan Mirna sudah pergi ke kantor dan meninggalkan Fahri di kamarnya. Sementara bunda hanya bisa merelakan kepergian Zahida. Bagaimanapun ia tidak mau mencampuri urusan rumah tangga putranya.
Sedangkan Fahri sudah masuk ke kamarnya. Wangi harum tubuh Zahida seolah tertinggal di kamar itu.
"Fahri...bunda boleh masuk?"
Bunda duduk di tepi ranjang dan Fahri duduk di sampinya sambil mengelus punggung putranya. Ia tahu putranya begitu rapuh, menjalani pernikahan dengan Kamila nyatamya membuatnya semakin menderita.
"Bun...apa ini artinya Fahri harus berpisah dengan Zahida.
"Sabar ya nak..."
"Bun... bagaimana ia akan sembuh jika aku jauh darinya?"
"Kamu bisa meminta bantuan Arif kakak dari nak Adam"
"Tidak bun...aku takut"
"Mengapa?"
"Nanti Zahida bisa tertarik dengannya, Arif itu dokter bedah tampan dan lebih muda dariku" pekik Fahri.
"Anak bunda bisa cemburu juga"
"Bun...Fahri akan menyusul Zahida ke Bandung minggu depan, kebetulan ada cabang perusahaan di Bandung ada sedikit masalah"
"Lakukan yang terbaik sayang..."
Menempuh perjalanan panjang akhirnya Adam, Zahra, Zahida amuoun Indah telah sampai di kota kembang Bandung. Mereka tiba di rumah Zahra. Rumah yang sar untuk ukuran keluarga kecil Zahra. Bertambahnya penghuni 2 orang yaitu Zahida dan Indah tidak akan sesak.
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikumsalam..."
" Mas Arif....." pekik Adam
"Tumben mas Arif kesini?" batin Adam
"Dam...darimana?" ucap Arif sambil memandangi Zahida dan Indah.
"Zahida....kamu Zahida adiknya Zahra kan?" pekik Arif
Zahida yang telah mengenal Arifpun membalas pertanyaan Arif dengan anggukan.
"Wah kamu udah dewasa, tapi...ada apa Za...? kakimu?" tanya Arif.
"Mas...nanti kujelaskan semuanya, pegal nih mas" pekik Zahra.
"Ayo masuk"
"Tampan...." batin Indah.
Hai teman - teman...minta dukungannya dengan like, vote dan komentarnya ya....