Zahida

Zahida
Kesembuhan Orang Tercinta



4 bulan kemudian.


Di Singapore.


Zahida melakukan terapi jalan untuk kakinya dan ia sekarang sudah bisa berjalan. Dan bunda sudah dinyatakan bebas dari penyakit yang selama ini di tubuhnya.


Selama 4 bulan, Indah setia mendampingi Zahida dan Bunda Fahri dalam melaksanakan pengobatannya. Bagaimana tentang perasaan Indah kepada Arif. Ternyata Arif ikut menyusul Indah ke Singapura dengan alasan ia dipindahkan praktek.


Hati Arif tidak bisa jauh dari Indah. Dan kebetulan Fahri membutuhkan tanaga dokter di rumahnya untuk menjaga istri dan ibunya mendapatkan pelayanan terbaik jika terjadi sesuatu. Sedangkan Mirna ia harus bolak balik Surabaya Bandung mengurus perusahaan yang sering ditinggalkan Fahri.


Malam hari


Di meja makan sudah terhidang sop daging dann perkedel kentang, sambal kecap dan kerupuk udang. Menu itu adalah kesukaan Fahri dan bunda.


Di meja makan semua orang berkumpul, tak ada yang bersuara saat makan.Setelah makan semua orang bersantai di gasebo yang ada di samping rumah utama. Gasebo itu menghubungkan rumah utama dan paviliun yang di tinggali oleh si mbok dan pak Dahlan beserta asisten rumah tangga yang lain.


"Rif... besok kita kembali ke Indonesia. Kamu ke Bandung segera urus semuanya dan aku yang urus di Surabaya. Jangan lupa uris mutasi praktek kamu. Dan yang terpenting segera urus perikahanmu dengan Indah" pekik Fahri.


"Siap 86" jawab Arif.


"Kita mau pulang Fahri?" tanya Bunda.


"Iya bun... bunda sudah sembuh begitupun juga Za" ucap Fahri dengan pandangan beralih kepada bunda dan kemudian Zahida.


"Hem baiklah... bunda sangat merindukan rumah kita" ucap bunda.


"Za... nanti bereskan semua barang kita ya, Za bisa minta bantuan sama mbok"


"Iya mas" ucap Zahida.


"Sekarang aku udah sembuh, Alhamdulillah"


"Oh iya, kalian tinggal dirumah kalian sendiri atau sama bunda? " tanya bunda ke Fahri dan pandangan beralih ke Zahida setelah beberapa saat.


"Maaf bunda, Za belum mengerti maksud bunda? "


"apa mas Fahri punya rumah selain rumah bunda? " batin Zahida bermonolog.


Fahri mengarahkan pandangannya ke arah bunda "Kami akan tetap bersama bunda, iyakan sayang".


Zahida gelagapan dengan sebutan "sayang" dari Fahri. Baru pertama kali setelah beberapa bulan yang lalu.


Flasback On


3 bulan yang lalu.


"Mas... bolehkan Za berbicra sesuatu"


"Ada apa Za? "


"Hem. maaf mas... Za belum siap menjadi istri seutuhnya, Za mau konsentrasi dengan kaki Za" suara Zahida sedikit gemetar, tangannya tak henti meremas ujung hijabnya.


Fahri yang sudah menduga ini akan terjadi hanya merespon santai perkataan istri kecilnya itu "baiklah untuk saat ini, tapi kita bicarakan ini setelah kamu sembuh"


"Dan... panggil Za aja, Za tidak mau dipanggil dengan sebutan lain, Za malu"


"Sebutan yang mana? "


"Sayang"


"Itu kamu sendiri yang bilang" goda Fahri dengan menyentil dagu Zahida.


Dag Dig Dug


Jantung Zahida seperti mesin yang diberi oli, sangat cepat seakan ingin lepas.


"Baiklah mari kita tidur, besok istri kecilku ini akan menjalani terapinya"


"Iya mas"


"Sini.... " ajak Fahri dengan menepuk tempat ranjang yang masih kosong.


Dengan ragu dan malu, Zahida mengikuti perintah imamnya.


"Ya Allah ada apa ini? rasanya tanganku lemas melajukan roda kursi ini untuk mau melangkah" batin Zahida.


Perlahan Zahida mendorong kursi rodanya dan Fahri membantu mengangkat Zahida ke ranjang. Tangan Zahida sudah otomatis mengalungkan pada leher Fahri.


"Cantik" batin Fahri.


Wajah Zahida saat ini sudah tidak karuan, bersemu merah karena malu walaupun ini bukan pertama kalinya ia di bantu suaminya.


"Mas bantu buka hijabnya ya" tanya Fahri.


Zahida hanya mengangguk. Fahri membaringkan Zahida, menarik selimut agar menutupi tubuh istrinya. Dan Fahri tidur di sampingnya.


"'Nanti mas bangunkan disepertiga malam".


Jangan lupa like, komentarnya ya...


katemu lagi di episode beerikutnya...


😬😬😬😬