Zahida

Zahida
Bingung...



hai teman - teman... maaf baru up lagi. Bagi yang nungguin maafin yups. Jangan lupa tinggalkan jejak untuk Author yang masih jauh dari kata sempurna ini.


selamat membaca...


"Ram.. maafkan Mirna ya, mungkin sifatnya masih kekanakan, tapi maklumilah, dia besar bersama kami, aku dan Ryan.


"Iya... aku ikhlas menerima sifatnya Yan".


"Ya wes nek ngunu, langsung KUA yo? (Ya sudah kalay begitu langsung ke KUA ya? ".


"Enak aja ke KUA, aku ogaaaah" Mirna menjawab dengan ketus dan langsung berdiri namun tangannya sudah ditarik kembali oleh Ryan.


"Benar ogaaah.... yo wes nek ngunu, Rama ben ndolek maneh wae (Iya sudah kalau begitu, Rama biar mencari lagi)".


"Dek... kita damai ya? "


"Emang kita lagi perang? "


"Dek"


"Males ah...ayo makan keburu dingin"


Mereka bertiga makan dalam dia namun mimik wajah tidak bisa berbohong jika Mirna tengah kesal, Rama hanya menunduk dan sesekali menatap Mirna, sedangkan Ryan hanya mengaduk aduk makanannya. Ryan hanya memikirkan bagaimana hubungan Zahida dengan suaminya, karena dengan kenyataan bahwa Zahida adalah adiknya maka Fahri juga sepupunya. Apakah sepupu bisa menjadlin hubungan rumah tangga? Banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya.


"Ayo selesaikan masalah kalian dalam waktu 10 menit, Mir aku tunggu dimobil, kita kembali ke Surabaya sekarang" titah Ryan dengan melangkah ke luar ruangan.


Rama dan Mirna saling pandang, tidak ada yang memulai.


Satu menit


Dua menit


"Dek... aku rindu, aku sayang kamu Mirnari Putri Raharja".


"A a aku..... "


"Mirnari Putri Raharja..... "


Mirna yanh sejatinya hanya merajuk saja pada Rama, akhirnya indra penglihatannya mulai berembun. Ia berdiri dan "Kita lanjutkan persiapan pernikahan kita"


"Alhamdulillah.... terimaksih dek" tiba - tiba Rama memeluknya dari belakang.


"Iiish.... kita belum muhrim mas"


Rama melepas pelukannya.


"Aku pergi"


"Iya istriku"


"Masih calon" jawab Mirna dengan mempercepat langkahnya masuk keluar mobil takutnya Ryan akan marah jika menunggunya terlalu lama.


Sedangkan di mobil Ryan tengah merenung, pikirannya berkelana, senang sudah pasti, karena ia menemukan adiknya yang telah hilang namun kesedihan juga menyelimuti hati dan pikirannya. Yah, bagaimana nasib rumah tangga adiknya dan Fahri. Walau bagaimanapun mereka ada saudara sepupu. Apakah dilegalkan secara agama? Rasanya dadanya penuh sesak. Mirna yang sudah masuk kedalam mobilpun tak ia hiraukan.


"Yan... ayooo....nanti terlambat take off nya"


Merasa yang ia ajak bicara tak bergeming sama sekali, Mirna mengulangi sekali lagi.


"Yaaaa... ayoooo" suara Mirna sengaja ditinggikan.


"Oh iya"


"nglamunin apa?"


"Mir...kamu pernah berfikir tidak, jika pernikahan Fahri dan Zahida itu dilarang dari segi agama ataupun medis? "


"Ladalah... kamu ngomong apaan Yan, nglantur kemana mana"


"Mir.... kita sepupuan... termasuk Fahri dan Zahida." suara Ryan tercekat. Matanya mulai berkaca - kaca.


"Fikiranku gak sampai kesana Yan, tapi bagaimana jika kita telepon bunda aja. Mungkin ada solusi dari bunda dan bunda kan punya kenalan ustadz Riza yang dari pondok modern itu, bisa konsultasi ke ustadz Riza. Gimana? "


"Okelah" jawaban yang keluar dari mulut Ryan.


"Entahlah Mir, pikiranku sangat kalut, aku tahu jika Fahri dan Zahida sekarang sudah saling menyayangi, jika tahu kenyataan ini dan mereka harus berpisah bagaimana? "


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman - teman.... 😁😁😁😃