
Selamat membaca teman - teman. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Agar mood author untuk nulis bisa membaik kembali. Mohon maaf up nya pendek. Cari ide cerita nyatanya tak semudah membalikkan buki diatas meja.
🤗🤗🤗🤗🤗
Semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Di sana juga ada mertua Zahra. Awalnya agak terkejut dengan adanya Fahri namun mertuanya ingat jika Zahra dan Adam sudah mrmberitahu jika suami Zahida bermalam di rumah mereka.
"Aisyah... ayo dipimpin doa mau makan" titah Adam pada anak kesayangannya.
"Baik Abi" balas Aisyah sambil menegadahkan tangannya.
الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar."
"Terimakasih anak abi dan umi" ucap Zahra.
Mereka makan dalam keheningan, 15 menit makan terlah selesai.
"Pak Fahri, selamat datang di rumah ini, saya mertua uminya aisyah." suara lembut umi Adam memecahkan keheningan.
Fahri merespon dengan menganggu dan tersenyum.
"Za...kamu sudah siap?" tanya Arif.
"Sudah mas"
Fahri hanya diam, ia sedang cemburu dengan kedekatan Arif dan Zahida.
"Diacuhkan lagi...sabar...sabar" batin Fahri. Ia ingat perkataan dari bundanya jika sabar adalah cara untuk menghadapi suatu masalah.
"Kesabaran adalah menahan diri dari hal-hal yang tidak disukai, atau tegar menghadapi hal-hal yang tidak disukai dengan rela dan pasrah. "
"Fahri, apa kamu mau menemani Zahida? karena Indah juga tidak ada disini" tanya Arif sambil menyapu sekelilingnya berharap Indah akan menampakkan dirinya. Adam memang sudah menjelaskan jika suami Zahida akanbermalam di rumah mereka sampai waktu yang ditentukan Fahri sendiri namin mereka tidak menjelaskan jika Indah ikut dengan Mirna bermalam di hotel.
Bagi Arif suasana saat ini tidak senyaman biasanya. Ia sadar jika kehadiran Indah telah membuat hidupnya berubah. Semenjak percobaan bunuh diri yang ia lakukan beberapa tahun yang lalu karena melihat perselingkuhan Kamila. Sebelu bertemu Indah ia hanya ingin bekerja dan mengabdikan diri di dunia kesehatan. Tapi nyatanya Indah membuat tujuan hidupnya berubah. Ia ingin seperti adiknya yaitu Adam. Membina tumah tangga yang harmonis bersama pasangan dan membesarkan anak anaknya.
"Fahri ...."
"Maaf apa yang kamu katakan Rif?"
"Kamu ikut Zahida ke rumah sakit tidak? untjk mendampinginya melakukan terapi pertamanya." ucap Arif mengulangi pertanyaan sebelumnya kepada Fahri.
"Tentu saja" ucapnya sambil tersenyum dan menoleh pada Zahida dan tangannya sudah menggenggam tangan Zahida.
"Ya Allah...semanis ini perlakuan suamiku" batin Zahida yang terkejut tangannya dipeganh oleh Fahri.
"Jam berapa? tanya Fahri.
"Jam 13.00 wib"
"Za...sejujurnya hari ini adalah sidang terakhirku berpisah dengan Kamila. Aku akan datang setelah sidang selesai" batin Fahri.
"Kalau mas ada urusan, biarlah Za sendiri ke rumah sakit, nanti Za akan meminta si mbok menemani Za"
"Tidak Za....mas bisa menemani kamu"
"Semoga Zahida segera bisa berjalan lagi" ucap umi Adam.
"Terimakasih umi" ucap Zahida. .
Selesai makan, Fahri menggendong Zahida ke kamar. Adam dan yang lainnya sudah beraktivitas masing - masing. Zahra mengantar Aisyah ke Paud, Adam ke kantor, Arif ke rumah sakit dan umi Adam pergi ke pengajian di masjid dekat komplek perumahan.
Dengan hati - hati Fahri mendudukkan sitrinya di kursi roda.
Dia berjongkok depan Zahida "Sayang...tunggu mas ya. Mas akan ke pengadilan dulu, hari ini sidang terakhir perpisahanku dengan Kamila." suara Fahri sangat lembut dan mencium punggung tangan Zahida. .
"Mas... mas tidak perlu berpisah dengan dr Kamila"
"Ini sudah seharusnya dan ini buka karena kamu"
Fahrk berdiri dan mencium pucuk kepala Zahida. Begitu menenangkan bagi Zahida.
Fahri kemudian memakai pakaian kantornya. Kemeja warna Navi dan celana hitam menjadi style nya kali ini.
"Za...jika butun apa - apa bilang mas ya"
"Iya" jawab Zahida singkat dan mengangguk.
Za mengarahkan kursi rodanya dekat jendela agar ia bisa melihat taman kecil di samping kamarnya.
Mengetahui jika istrinya memikirkan sesuatu, Fahri mendekat.
"Apa yang kamu pikirkan sayang"
"Kangen bunda" ucap Zahida sedikit terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapaknya. Ia sebenarnya ingin menangis sedari tadi karena kepikiran dengan mertuanya yang sudah sangat baik terhadapnya. Zahida berfikir jika Fahri dan Indah di Bandung, siapa yang menjaga bunda.
Zahida sudah memikirkannya tadi pagi setelah sholat Shubuh, ia tiba - tiba ingat cerita Indah jika bunda mengidap leukimia dan butuh perawat khusus dan orang - orang yang menyayanginya.
Fahri menatap istrinya dengan lembut dan membuka wajahnya dengan membuka telapak tangan yang sudah basah itu. Ia mengecup kening Zahida dengan lembut.
"Bunda sehat..." bisik Fahri.
"Mas....Za ingin meminta sesuatu apa boleh?"
"Tentu sangat boleh asalkan mas bisa memberikannya"
"Za...ingin pulang, Za berobat di sana saja mas, Za kangen bunda mas"
Senyum Fahri mengembang " tentu saja boleh"