
Hai teman - teman... maaf nih author lagi sibuk di dunia nyata. Bismillah mulai up lagi.
Flash Back On
21 tahun yang lalu.
"Ma.... adik mana ma?" tanya Ryan pada mamanya di taman depan komplek perumahannya.
"Ada di stroller sayang" jawab mama Ryan.
"Ma.... adek tidak ada ma" teriak Ryan ketika melihat stroller adiknya kosong.
Mama yang duduk tak jauh dari stroller dan sibuk dengan benda pipihnya. Kemudian beranjak dan mendekat karena teriakan Ryan anak sulungnya.
"Ya Allah.... adek.... " teriak mama dan tiba -
"Ryan dimana adik kamu? " tanya mama panik.
"Ryan melihat sudah tidak ada adik ma"
Mama Ryan seketika pingsan. Anak yang ia inginkan selama ini hilang. Memang mereka memiliki Ryan sebagai anak pertama, tetapi Ryan bukanlah anak kandung mama dan papanya. Ryan merupakan anak dari adik dari papanya.
Ryan seketika langsung mengambil benda pipih mamanya dan menghubungi papanya.
Sejak saat itu mamanya sudah seperti patung hidup. Tidak pernah merespon apapun yang terjadi disekitarnya. Dan papanya yang terpukul dengan kejadian ini memilih ke luar negeri untuk menghilangkan beban pikirannya. Dan sampai sekarang tidak pernah ada kabar berita dari sang papa. Hanya Ryan dan mamanya yang tertinggal. Beruntung karena mama Ryan memiliki banyak saudara salah satunya adalah bundanya Fahri. Yang selalu membantu Ryan dan mamanya untuk bertahan hidup sampai sekarang.
Adik kecil Ryan ternyata telah diambil oleh tetangga mereka yang kurang normal alias depresi karena anaknya meninggal. Melihat bayi, ia mengganggap itu adalah anaknya.
Tetangga tersebut adalah bu Tuti. Setelah mengambil adik Ryan, bu Tuti menyusuri jalan dan tiba - tiba hujan turun dengan derasnya. Sore itu hujan turun dengan derasnya. Bu Tuti berteduh sambil menggendong adik Ryan di sebuah rumah sederhana. Rumah tersebut adalah rumah orang tua Zahida yang telah membesarkannya. Hujan turun dengan deras membuat bu Tuti ingin hujan hujanan dan meninggalkan adik Ryan di depan rumah orang tua Zahida. Yah bayi itu adalah Zahida.
Zahida menangis dengan keras membuat Zahra keluar rumah dan menemukan Zahida tergeletak di teras rumahnya.
"Ibuuuu.... ada bayi di depan pintu... " teriak Zahra.
Sejak saat itu Zahida dibesarkan oleh orang tua Zahra.
Flasback Off.
"Mir... ikut ke Bandung besok pagi" ucap Ryan.
"Males ah"
"Gak ingin bertemu dengan Rama? "
"Ogah.. males" jawab Mirna dengan wajah sendu. Sebenarnya ia ingin bertemu denga Rama, tapi tidak mungkin ia meninggalkan orang tuanya karena mereka sedang sakit.
"Ya sudah gaji potong 20% ya"
"Ih... sukanya mengancam" sungut Mirna
"Mama aku bawa kesini, bertemu dengan bunda dan Za, mama akan lebih baik"
"Oke deh tapi sehari aja... ayah ibu sednag kurang sehat" jawba Mirna sembuh.
"Mas Marno dan Mbak Ike sakit apa sayang" tanya bunda ke Mirna.
"Kurang tahu bun, rencananya nanti malam mau ke dokter"
"Semoga lekas sembuh ya sayang, atau bawa kesini aja... nanti bunda akan rawat dan kakakmu Fahri biar nyari perawat juga" ucap bunda.
Mirna memeluk bunda yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Aku sangat beruntung bunda, budhe, Ryan, Fahri berada disekitarku" ucap Mirna sambil berkaca - kaca.
"dasar melo" pekik Fahri.
"Biarin dari pada kamu, Bucin wekkkkk"
"Buun" Fahri mengadu.
"Sudah - sudah 3 saudara ramainya seperti pasar krempyeng depan komplek"
Ruang makan kembali sepi, semua sibuk makan dan Za belum turun ke ruang makan.
"Ri... panggil Za dong... biar rame..." ucap Mirna.
"Istriku sedang istirahat Mir"
"Aduh gaya amat rek... yang bucin tingkat nenara eifell"
"Apaan sih Yan"
"Fahri lihat Za diatas" perintah bunda.
"Assalamualaiakum" ucap Za yang tiba - tiba datang dengan wajah segarnya.
"Za...... "
"iya bunda"
"Sayang.. nanti kita ke dokter ya. " ucap Fahri.
Hai teman - teman.. mohon maaf baru bisa up. In sha Allah akan up tiap hari.
jangan lupa tinggalkan jejak ya.... bye bye 👋 👋 👋