Zahida

Zahida
Arif Penasaran.



Sesampainya di rumah Adam. Zahra mengantar Zahida ke kamar tamu bersama Indah. Sedangkan Aisyah bermain bersama Adam dan Arif.


"Dam....beritahu mas, apa yang terjadi pada Zahida" pekik Arif.


"Nanti saja mas, baru juga sampai" jawab Adam.


Sedangkan Zahra di dalam kamar bersama Zahida dan Indah.


"Za...."


"iya mbak"


"Mbak tahu kamu sudah mulai menyukai pak Fahri"


Terkejut, begitulah raut wajah Zahida. Namun kebalikannya dengan Indah. Ia sudah menduga bahwa nyonya mudanya sudah jatuh hati pada tuan mudanya.


"Indah...maaf jadi ikut kemari bersama Zahida" permintaan maaf Zahra sontak membuat wajah Indah sendu.


"Tidak apa - apa nyonya, saya hanya khawatir dengan kesehatan nyonya besar. Karena sejatinya saya adalah perawat yang dikhususkan untuk merawat beliau." ucap Indah.


"Maksudnya?" tanya Zahra


"Loh mbak Indah itu perawat? bunda sakit mbak?" tanya Zahida penuh selidik.


"Iya nyonya ... Nyonya besar mengidap leukimia 5 tahun terakhir. Saya diperintah rumah sakit untuk merawat nyonya besar sejak 5 tahun lalu sampai sekarang" ungkap Indah.


"Lalu bagaimana bunda jika mbak Indah disini?" tanya Zahida dalam batinnya.


"Tapi kemarin tuan Fahri sudah meminta rumah sakit untuk mengirim adik saya yanga juga seprofesi dengan saya" jawab Indah seakan mengetahui isi hati nyonya mudanya tersebut.


Adam dan Arif kini berada taman belakang rumah dengan Aisyah. Lagi - lagi Arif menanyakan kembali perihal kaki Zahida.


Dengan mengambil nafas dalam - dalam, Adam menceritakan semuanya yang ia ketahui dari Fahri. Dan Arif terkejut mendengar penjelasan Adam.


"Fahri suami Kamila?" tanya Arif.


"Iya mas" dengan nada lirih Adam menjawab pertanyaan Arif.


"Mas...."


"Jangan khawatirkan aku Dam, aku sudah move on dari Kamila."


"Mas...pasti akan mendapat gantinya Kamila"


"Makasih Dam, kamu yang terbaik setelah bapak dan ibu"


"Iya lah mas...adik mas ini paling oke" ucap Adam kembali sambil terkekeh.


"Mas...sebelum aku kembali, tuan Fahri memintaku untuk meminta bantuan mas, tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi aku takut mas menolak"


"Bantuan apa, jelaskan sekarang!" titah Arif.


"Bantu menyembuhkan Zahida agar bisa berjalan kembali"


"Terimakasih mas"


"Ya sudah, ayo masuk, sudah sore"


Hari sudah malam, semua orang sudah berada di ruang makan.


Adam dan Arif duduk berhadapan, sedangkan Indah, Zahida duduk sebelah kiri, Zahra duduk di sebelah kanan. Sedangkan Aisyah sudah tidur setelah magrib.


"Za....besok saya ajak kamu ke rumah sakit. Periksa kaki kamu ya Za" pekik Arif.


"Ta tapi mas"


"Jangan menolak, ini perintah"


"I iya mas"


"Dan kamu....Indah...kamu ikut kami" titah Arif.


"Baik tuan"


"Jangan panggil tuan, saya bukan tuan kamu, panggil saya seperti yang lainnya" titah Arif kembali.


Mendengar titah Aruf, Indah hanya menunduk, ia ingin menjaga pandangannya.


"Ini orang lihat aku terus, malu aku" batin Indah


"Sepertinya aku pernah melihat Indah, tapi dimana?"


"Ehem...."


Adam sengaja berdehem karena melihat pandangan Arif yang tak beralih dari Indah. qq


"Mas Arif...besok Zahra ikut ya, mau menemani Zahida." tanya Zahra


" Tanya Adam Zah jangan tanya saya"


"Bi...." pandangan Zahra beralih ke suaminya Adam.


" kalau umi kuat tidak apa - apa ikut, kalau tidak kuat umi di rumah aja"


"Mbak Zahra kenapa mas?" tanya Zahida


"Zahra sakita Dam?" tanya Arif


Yamg di tanya malah senyum-senyum sendiri seperti anak abg yang ketemu sang kekasih.


"Ayo makan...biarlah Adam jadi gila".


"Apaan sih mas"


Hayoo...Zahra kenapa....


😁😁😁😁


Bantuin like, vote, dan komentarmya ya ...