Zahida

Zahida
Rumah Sakit



Di dalam mobil terdapat presdir perusahaan terbesar di negara ini bersama 2 petinggi perusahaan lainnya. Mereka yaitu Fahri, Ryan dan Mirna. Mobil mereka melaju dengan kencang yang memang kebetulan jalanan nampak lengang.


"Mir... " ucap Fahri.


"Hem... "


"gitu banget jawabnya"


"Udah deh, aku sedang cemas mikir tuh anak yang kamu buat seperti ini"


"Aku.... "


"Ri, kamu sepertinya harus periksa ke dokter spesialis organ dalam" ucap Ryan.


"Maksud kamu? " tanya Fahri dan Mirna bersamaan.


"Udah deh jujur aja kalau kamu sebenarnya suka sama Zahida, makanya kamu tuh buat dia sedekat mungkin sama kamu dengan nyuruh - nyuruh dia yang bukan pekerjaannya"


ucap Ryan.


"Hem... " ucap Fahri sambil menyingkapkan kedua tangannya.


"Pak Gun... lebih cepat lagi dong, biar cepat sampai ke rumah sakitnya? teriak Mirna ke supir pribadi Fahri.


Sesampainya di rumah sakit.


Mereka bertiga segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke pintu utama rumah sakit.


"Selamat pagi pak Fahri"


Rupanya mereka bertiga sudah disambut oleh pimpinan rumah sakit. Yah, Fahri merupakan pemilik utama rumah sakit tersebut.


Tanpa menoleh pada pimpinan rumah sakit "Dimana gadis bernama Zahida dirawat? " tanya Fahri.


"Di ruang ICU sedang dilakukan tindakan operasi tuan... " jawab petugas loby.


Mirna dan Ryan hanya diam mengikuti kemanapun Fahri melangkah.


"Yan... rumah sakit kok sepi ya, tumben? " Mirna terus bertanya kepada Ryan.


"Itu karena sepupu kamu" jawab Ryan sambil menunjuk ke arah Fahri yang berjalan di depan mereka.


Sesampainya di ruang ICU.


"Yan, jika terjadi apa - apa sama gadis itu...." kata Fahri menggantung.


"Kamu harus tanggung jawab" jawab Mirna penuh tekanan.


Fahri tertunduk lesu menatap putihnya lantai rumah sakit. Sedangkan Mirna dan Ryan segera menghubungi asisten pribadi Fahri untuk menyelesaikan agenda Fahri dalam satu hari ini.


Satu jam...


Dua jam...


Tiga jam...


Fahri, Ryan, dan Mirna menunggu depan ruang ICU, raut wajah ketiganya sangat berbeda - beda.


"Ceklek" pintu ruang ICU terbuka.


Ketiganya menatap pintu ICU yang terbuka.


Fahri kaget dengan apa yang dilihatnya. Ternyata istrinya yaitu dokter Kamila yang keliar dari ruangan tersebut.


"Mas Fahri.... "


Hening


Hening


Hening


"Kamila... bagaimana kondisi Zahida? " tanya Ryan penuh kecemasan dan sekaligus memecah keheningan.


"Kalian kenal dengan pasien? Maaf saya hanya membantu dokter Bagus untuk membantu tindakan operasi. Kalian bisa bertanya kepada beliau. Beliau masih di dalam" ucap Kamila dengan nada yang lembut.


"Baiklah kami akan menunggu" ucap Fahri datar tanpa menoleh pada istrinya. Merasa diacuhkan oleh suaminya, Kamila memilih untuk pergi ke ruangannya karena ia juga merasa lelah diruangvoperasi selama 3 jam lebih.


"Kamu itu kenapa sih Ri, itu Kamila tanya kamunya malah dingin seperti es balok"


"Hem.... "


Fahri berjalan menuju ruangan dokter Bagus karena tadi ia tidak bertemu dengan dokter tersebut. Ia ingin menanyakan keadaan dari perempuan yang telah merebut hatinya saat ia berusaha mencintai istrinya itu.


Beberapa langkah,Fahri berhenti dan "Yan, Mir suruh Faiz menghubungi keluarga gadis itu" ucap Fahri.


Tok... tok... tok....


(suara pintu)


"Silahkan masuk" samar - samar terdengar suara dari dalam.


Fahri memberanikan diri untuk masuk.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


"Tuan Fahri... " ucap dokter Bagus dengan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka jika salah satu pemilik rumah sakit tempatnya bekerja saat ini menemuinya.


"Dokter Bagus Widiantara, bagaimana keadaan gadis itu? "


"Gadis yang mana tuan?


"Zahida"


"Oh... kondisinya masih kritis dan ada sebagian tulang pada kakinya retak. Inu bisa menimbulkan kelumpuhan jika ia tidak ditangani dengan baik" jawab dokter Bagus dengan hati - hati.


"Baik" jawab Fahri dan meninggalkan ruangan dokter Bagus.


Fahri yang sudah terkenal di kalangan rumah sakit bahwasannya ia adalah salah satu penanam modal terbesar di rumah sakit itu dan dengan sikap dinginnya menjadikan mudah tersinggung jika ada orang lain yang membuatnya kecewa. Ia juga bisa dengan mudah mengeluarkan siapapun yang berada dalam lingkungan perusahaan ataupun rumah sakitnya. Tidak hanya rumah sakit Zahida dirawat, tapi ada beberapa rumah sakit besar tersebar seluruh Indonesia yang modalnya sebagian besar darinya.


Fahri memang memiliki keinginan akan memberikan saham kepada beberapa rumah sakit agar ia bisa menolong banyak orang dengan caranya sendiri. Hal ini tidak terlepas dari traumanya pada saat ia kecil. Adiknya tidak bisa tertolong dari penyakit yang diderita karena dibawa ke rumah sakit yang tidak terlalu besar dengan peralatan seadanya. Dari situlah ia bertekad akan membiayai rumah sakit kecil agar dapat berkembang pesat.


"Selamat pagi tuan" ucap Faiz.


"Pagi"


"Tuan, nona Zahida tidak memiliki keluarga dan kerabat di kota ini, ayahnya sudah menikah kembali dan kakaknya berada di Bandung. Sudah saya hubungi semua namun belum bisa karena nomor teleponnya sedangntidak aktif semua. ucap Faiz


"Ya Allah.... malang sekali nasib Zahida" batin Fahri.


Hai teman - teman


Author minta dukungannya dong


**like, vote, dan komentarnya ya.


terimakasih**