Zahida

Zahida
Menyebalkan



Nona Aliya Nizrina Zahida, anda sudah diterima di perusahaan kami namun kami ingin melihat anda presentasi dengan bahan ini, slide juga sudah kami siapkan sesuai dg data yang ada pada map ini" ucap pak Ryan.


"Waktu anda hanya 10 menit" ucap Tuan Fahri.


"Bismillah...."


"Selamat pagi bapak dan ibu. Perkenalkan saya Aliya Nizrina Zahida akan mempresentasikan beberapa slide...." Zahida mempresentasikan dengan sangat lancar selama 5 menit tanpa jeda namun dengan tatanan bahasa yang bisa dipahami oleh semua orang yang berada di ruangan tersebut.


Memang Zahida memiliki kelebihan dalam mempresentasikan sesuatu karena ia mampu membawakannya dengan baik. Tidak ada kegugupan sama sekali ketika presentasi. Hal inilah yang membuat ia menjadi mahasiswa andalan beberapa dosen yang menjadikannya asisten dosen.


Sampai saat ini pun ia menjalankan profesi tersebut namun setelah ia diterima bekerja di perusahaan ini, ia hanya mengambil jadwal mengajar hanya pada sore saja.


"Cantik dan pintar" batin Fahri.


"Demikian presentasi dari saya dan terimakasih." ucap Zahida mengakhiri presentasinya.


"Bagaimana Tuan Fahri dan dewan direksi lainnya?" tanya pak Ryan.


Hening


Hening


Hening


"Silahkan anda memperkenalkan diri anda dengan bahasa inggris dan satu bahasa asing lainnya" ucap Fahri memecah keheningan.


"Hello! My name is Aliya Nizrina Zahida. I am 22 years old. I graduated from UN***, majoring Bisnis Management two week ago.


I have a have ever worked for..."


"Cukup" ucap Fahri. Fahri juga memberikan kode kepada Ryan bahwa ia Zahida diterima diperusahaannya.


"Baiklah kamu kami terima" ucap Pak Ryan.


"Alhamdulillah... tapi maaf apakah saya boleh bertanya?" ucap Zahida menatap semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Ya ..katakan Zahida" ucap pak Ryan.


"Bolehkah saya ke kantor dengan memakai jilbal seperti ini" tanya Zahida.


"Maksudnya?" tanya Fahri.


"Yang panjang dan lebar seperti ini" jawab Zahida gugup.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu nona? Apakah anda masuk perusahaan ini melihat pegawai wanita berpakaian seksi? "ucap salah satu dewan direksi yang tak lain adalah paman Fahri.


"Karena saya hanya punya jilbab yang besar seperti ini, lainnya saya tidak punya" jawab Zahida gugup.


Mendengar jawaban Zahida membuat hampir semua orang tertawa. Tapi tidak dengan Fahri. Ia hanya diam tanpa ekspresi apapun di wajahnya.


"Silahkan anda mengenakan pakaian sesuka anda nona asalkan tidak melanggar norma kesopanan dan hukum di negara kita." ucap Fahri.


"Fahri pemilik perusahaan memang sudah terkenal dikalangan pebisnis dan karyawan dalam perusahaannya jika ia tidak terlalu mempermasalahkan penampilan orang lain. Yang penting baginya adalah keahlian dari pegawainya.


Pak Ryan kemudian melakukan tugasnya kepada Zahida. Ia menunjukkan meja dan kursi yang akan ditempati Zahida dan memberitahu jika ia akan menjadi asisten dari pak Ryan.


Dalam hati pak Ryan bahagia karena ia mendapatkan partner kerja karena pekerjaannya sedikit berkurang. Ia melihat Zahida juga sebagai gadis yang pintar. Terbukti dari biodata dan ijazah yang ia tunjukkan ketika ia melamar kerja. Di lain sisi Pak Ryan seakan menemukan sosok adiknya yang telah lama hilang sejak balita. Wajahnya mirip dengan wajah ibunya.


Di Ruang Meeting.


"Pak Fahri, apakah kita tidak salah menempatkan gadis tadi sebagai asisten manager HRD?" tanya pak Anton salah satu dewan direksi yang tak lain adalah adik dari papanya.


"Saya rasa tidak pak, karena ia gadis yang pintar" ucap Fahri dengan kalimat formal karena ia akan melakukan itu selama di kantor. Ia ingin pekerjaannya profesional walaupun di perusahaannya ia bekerja dengan beberapa kerabat keluarganya.


"Baiklah kalau itu keputusan anda" ucap pak Anton.


Di ruangan pak Ryan, Zahida duduk di depan pak Ryan.


"Zahida, maaf bolehkah saya bertanya padamy?"


"I iya pak..." jawab Zahida.


"Apa kamu memiliki orang tua?"


"deg"


Hati Zahida bergejolak, beberapa ingatan tentang ibunya yang meninggal dan ayahnya yang menikah kembali bertebaran di pikirannya.


"Sa sa saya punya pak, ayah saya di luar kota dan ibu saya telah meninggal" ucap Zahida.


"Hem...."


"Zahida kamu mirip seperti mama saya, tadi saya sempat berfikir jika kamu adalah adik saya yang telah hilang 21 tahun yang lalu" ucap pak Ryan dengan nada sedih.


"Begitu ya pak, anggap saja saya adik bapak hehe" ucap Zahida sambil tersenyum memperlihatkan giginya dengan menunjukkan dua jari telunjuk dan tengah.


"Kamu benar - benar lucu" ucap pak Ryan.


"Jadi saya mulai berkerja hari ini pak?" tnya Zahida.


"Ya"


"Oke pak"


Pak Ryan terlihat menghubungi Mirna. Mirna adalah wakil HRD yang lama, sekarang diangkat menjadi manajer marketing. Zahida diminta untuk belajar kepada Mirna. Dan Mirna dengan senang hati mengajari Zahida.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Seminggu Zahida telah bekerja di perusahaan dan ia dengan cekatan menyelesaikan tugasnya. Pak Ryan pun merasa ia menemukan adiknya, sehingga ia sangat memperhatikan Zahida. Dan perhatiannya diartikan berbeda oleh sebagian orang termasuk Fahri. Fahri yang merasa menyukai Zahida tak mampu mendekati gadis itu karna ia telah menikah dengan Amira.


Siang hari..


"Mirna...panggilkan Zahida ke ruangan saya, dan kamu juga ikut" titah pak Ryan di telepon.


"Siap bos" jawab Mirna.


"Zahida...ayo kita dipanggil pak Ryan" ucap Mirna pada Zahida. Ruangan Zahida dan Mirna memang berdekatan jadi tidak sulit untuk memanggil Zahida.


"Ada apa ya mbak?" tanya Zahida.


"Entahlah" jawab Mirna sambil meninggikan kedua pundaknya.


"Assalamualaikum..."


"Masuk"


Setelah mereka masuk.


"Duduk"


"I iya pak"


"Yan...ngapain sih nyuruh kami kesini, kami mau istirahat dan makan siang, kamu menganggu waktu kami" ucap Mirna.


Zahida yang melihat Mirna berbicara seperti itu melongo.


"kamu gak usah heran Zahida, nih orang sepupuku, Ryan Mahardika"


"Oh iya mbak"


"Ayo makan"


"Haaaah" ucap Zahida.


"Tumben kamu nraktir, biasanya juga aku yang belikan" ucap Mirna.


"aku kangen Tasya, makanya kalian kusuruh kesini, Mir kamu sadar gak kalau wajah Zahida sama dengan Tasya". ucap Ryan.


"Bentar...eh iya ya...kayak tante wajah Zahida ..apa jangan jangan Zahida ...." kalimat Mirna menggantung.


"Enak pak...mbak..." ucap Zahida yang sudah mulai makan makanan di depannya.


"Eh...kamu main nyosor aja" kata Mirna.


"Enak mbak...lumayan ditraktir makan, sering - sering makan kayak gini" ucap Zahida sambil senyum senyum sendiri.


" Eh kayak orang gak pernah makan aja kamu"


"Enak mbak"


"ehem..."


"Oh iya pak, makasih ya"


"Iya dek"


Mereka makan bertiga diselingi canda tawa.


Jangan lupa like, vote dan komentarnya.