
"Ehem... "
Ketiga orang tersebut seketika menoleh pada orang di depan pintu.
"Eh si bos, masuk bos, mau makan bareng? tapi kami udah mau selesai lo" ucap Ryan.
Fahri masuk tanpa permisi dan langaung duduk di samping Ryan.
"Enak ya kalian makan siang bareng, sedangkan aku makan sendiri di ruangan" ucap Fahri dengan datar sambil memakan lauk Ryan di atas meja.
"Waduh si bos main comot aja, nih ikan tinggal segini masih aja tega ngambil" ucap Ryan.
Zahida terlihat kaget dengan kedatangan bosnya tersebut.
"Hahaha" suara Fahri menggelegar hampir seluruh ruangan Ryan.
Zahida yang sedari tadi mendengarkan perbincangan atasannya itupun bingung, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Fahri yang selama ini terkenal dingin ternyata sosok yang humoris jika bertemu dengan pegawainya. Tapi ada yang mengganjal dihatinya, mengapa Fahri sangat akrab dengan Mirna dan juga Ryan.
"Em... pak Ryan, Mbak Mirna saya kembali dulu"
"Mau kemana Zahida, sini aja dulu, santai aja nih pak bos ada di sini"
"Biarlah dia pergi" celentuk Fahri.
Mendengar ucapan Fahri, Zahida merasa tidak enak hati akhirnya memilih untuk keluar ruangan karena ia canggung dengan atasannya tersebut yang sedari awal memang dingin dan cuek terhadapnya. Berbeda sikap dengan Ryan dan Mirna yang sudah menyambutnya.
Ryan, Mirna, dan Fahri memang adalah sahabat sejak sekolah dasar, mereka juga masih saudara walaupun saudara sepupu. Jadi Fahri jika bertemu Ryan dan Mirna sudah seperti bertemu kawan.
Sesudah keluar ruangan Zahida segera ke masjid gedung lantai paling atas untuk melaksanakan kewajibannya.
"Itu anak kenapa makan disini?" tanya Fahri pada Mirna dan Ryan.
"Ri... kamu ingat Tasya? " ucap Ryan.
"Iya"
"Aku rasa Zahida mirip dengan Tasya, walaupun Tasya hilang sejak umur 2 tahun tapi wajah Zahida seperti mama saat muda, aku merasa dia seperti adikku jika ia dekat denganku"
"Itu akal akalan kamu kan biar dekat sama tuh anak? " tanya Fahri kemudian.
"Coba liat wajahnya Ri"
"Hem.... "
"Oh ya bagaimana kabar Kamila? " tanya Fahti pada Fahri.
"Baik" jawab Fahri singkat.
"Udah mulai menyukainya?" tanya Ryan.
"Hem... aku tidak tahu, yang pasti sekarang dia adalah istri yang baik. Kamila mengerjakan semua tugasnya dengan sangat baik, tapi aku tidak tahu dengan hati ini kenapa belum bisa memberikan untuknya" jawab Fahri dengan tatapan kosong.
"Maaf nona, anda mencari siapa?" tanya Zahida ramah pada orang di depan pintu.
"Hem.... maaf saya tidak mencari siapa - siapa, saya hanya titip ini berikan kepada pimpinan anda" sambil menangis Kamila keluar dari kantornya.
"Nona itu sangat cantik" batin Zahida.
"Tok... tok... tok..."
"Masuk"
"Deg.... "
"Fahri... " ucap Ryan
"Hem... " jawab Fahri
"Jangan - jangan itu istrimu"
"Dia tidak tahu alamat kantor ini, dia tidak mungkin kesini" ucap Fahri.
"Ini titipan dari nona tadi, permisi" ucap Zahida
"Zahida aku ikut.... " ucap Mirna.
Mirna pergi tanpa persetujuan Ryan dan Fahri. Ia tahu jika ia tidak pergi maka ia akan terkena dampak dari kemarahan Fahri.
"Berhenti.... " ucap Fahri.
Zahida dan Mirna menghentikan langkahnya.
"Hai kamu nona Zahida, jelaskan padaku bagaimana ciri - ciri wanita tadi? " ucap Fahri dengan datar dan terdengar sedang menahan amarahnya.
" Ma maaf pak, saya kurang jelas karena nona tadi tiba - tiba pergi dengan cepat" ucap Zahida dengan suara bergetar.
Fahri mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya dan menggeser beberapa foto.
"Apakah ini orangnya? " tanya Fahri dengan tatapan tajam.
Perasaan Zahida campur aduk, ia takut dengan tatapan Fahri atasannya tersebut.
"Ya Allah... tatapannya seperti orang mau menerkam mangsa" batin Zahida.
"I iya pak, beliau ini orangnya. " ucap Zahida dengan bergetar.
"Ya sudah kalau begitu" ucap Fahri dan ia langsung beranjak keluar ruangan.
Namun beberapa langkah, Fahri berhenti dan menoleh pada Zahida "Lain kali kalau ada orang yang akan masuk, kami bilang jangan diam saja" bentak Fahri.
"Pak Ryan, Mbak Mirna Zahida takut... " ucap Zahida sambil duduk dengan memeluk kedua lututnya, wajahnya disembunyikan pada lututnya.
"Hikz.... hikz.... hikz.... "
"Deg"
"Zahida kamu seperti Tasya jika ketakutan" batin Ryan.
"Bangunlah Zahida, Fahri sudah pergi dan jangan takut dengan manusia, takutlah pada Tuhan yang menciptakan kita".
"Ayo Zahida kita keluar" ajak Mirna.
Sebelum keluar Mirna tanya kepada Ryan.
"Kenapa sih dengan tuh anak Yan, setiap kali kejadian yang berhubungan dengan istrinya, ia selalu marah - marah tidak jelas" gerutu Mirna.
Teman - teman author minta dukungannya ya
like, vote, komentarnya.