Zahida

Zahida
Sebenarnya dia adikku



hai teman - teman... maaf baru up lagi. Bagi yang nungguin maafin yups. Jangan lupa tinggalkan jejak untuk Author yang masih jauh dari kata sempurna ini.


selamat membaca...


Keesokan harinya Ryan dan Mirna menuju Bandung.


Ryan sudah menugaskan beberapa orang sejak 2 bulan lalu.


Sesampainya di Bandung, Ryan dan Mirna melakukan misi mereka dengan mencari tahu tentang Zahida.


"ini tuan, data dan informasi ada di dalam berkas ini.!


Ryan menerima dan membuka berkasnya. Dibaca satu persatu kalimat demi kalimat. Informasi di baca setiap halaman dengan seksama sesekali mengedipkan mata.


Di ruangan besar milik Fahri, Ryan menatap luar jendela. Terlihat suasana kota Bandung yang asri.


"Mir... dia adikku, dia adalah Maya. Aku. mencarinya bertahun - tahun dan ternyata dia ada di dekatku Mir. Mir, aku senang akhirnya menemukan dia sebagai adikku." kalimat demi kalmat dilontarkan Ryan dengan wajah sendunya.


Mirna yang sedari tadi hanya mendengarkan sepupunya sekaligus sahabatnya tak kalah sendu dengan Ryan. Mirna tahu bagaimana perjuangan Ryan dan Fahri untuk menemukan adik sepupunya itu.


Dokumen informasi Zahida sudah beralih ke tangan Mirna. Ekspresi ketika membaca dokumen itupun berbeda dalam beberapa detik kemudian berbeda lagi ke sekian detik lagi.


"Wah gila ya... sampai segitunya lo si ayah Zahida memperlakukan Zahida." suara Mirna dengan hebohnya membuyarkan lamunan Ryan.


"Kita kembali ke Surabaya dan menyelesaikan semuanya" titah Ryan dengan beranjak.


"Ayooooooo let's goooo"


Keluar dari gedung besar salah satu cabang perusahaan milik keluarga Fahrj, Ryan dan Mirna. Mereka berjalan santai namun tiba - tiba seseorang datang menghentikan mereka.


"Dek.... "


Suara itu mengejutkan Mirna.


"Mir ku tunggu di mobil, selesaikan masalahmu dengan Rama, jangan lari dari masalah"


"Baiklah"


Mirna berbalik, dan saat ini ia berhadapan dengannya. Seseorang yang selama ini ia rindukan, seseorang yang namamya selalu ia sebut dalam setiap doanya. Mata Mirna sudah berkaca - kaca. Pertengkaran sebulan lalu sekilas muncul di ingatannya. Pertengkaran yang membuat ia dan Rama tidak berkomunikasi selama sebulan. Padahal rencana pernikahan yang sudah 80% namun semunya pupus karena kesalahan yang belum tentu kebenarannya.


FLASHBACK ON


Rutinitas pasangan calon suami istri ini ialah vc setelah melaksanakan kewajuban shubuh.


Entah dimulai dari perempuan ataupun laki - lakii yang mendahului melakukan panggilan video. Pagi ini setelah sholat Shubuh, Mirna mengambil benda pipihya di atas nakas. Menekan icon hijau dilayar benda pipihnya. Beberapa kali panggilan namun seseorang diseberang belum juga mengangkatnya.


Panggilan kesekian kali barulah muncul wajah laki -laki yang akan menjadi pemimpinnya dunia akhirat.


"Assalamualaikum.... "


"Wa'alaikumsalam... "


"Mas.... dari mana? "


"Hem.... maaf tidak tahu adek VC"


"Oke"


Beberapa detik kemudian, seorang wanita datang menghampiri dengan pakaian minim.


"Mas... ayo dong... lama banget" suara perempuan iti dan gerakannya terlihat di layar Mirna.


Seketika wajah Mirna menegang, berbagai pikirna negatif berkeliaran dipikirannya. Dan matanya mulai lancang mengeluarkan embun - embun kesedihan.


"Dek... dengarkan penjelasanku, dia..... " ucapan Rama terhenti saat vc diputus sepihak oleh Mirna.


Rama sangat panik ketika melihat wajah Mirn yang sydah berkaca - kaca , ia menyalahkan Bella. Sebenarnya Bella adalah adik sepupunya dari keluarga papanya yang baru datang dari Asutralia.


Sejak kejadian itu, Mirna sudah tidak mau lagi melanjutkan rencana pernikahannya dengan Rama. Bagi Mirna sebuah penghianatan tidak akan bisa jera. Sekali berkhianat pasti akan diulangi kembali.


"Flashback Off"


"Ada apalagi mas? kurasa kita sudah tidak ada urusan jadi Mirna mohon, tolong pergi daru hidupku. pinta Mirna dengan menungkupkan tangannya diatas dadanya.


"Dek... mas mau menjelaskan semuanya, semua tidak seperti yang adek pikirkan"


"Maaf saya tergesa - gesa" Mirna berjalan melewati Rama.


Namun baru beberapa langkah, Rama sudah menarik tangan Mirna. Dan memeluknya dengan erat. Mirna sudah mencoba melepaskan tapi Rama semakin erat memeluknya.


Setelah Mirna diam barulah ia mulai bicara.


"Dia adik sepupuku dari Australia. Dia Bella, apa kamu tidak ingat? Dia kan sekelas denganmu dulu di SD. Kebetulan dia di Bandung magang di perusahaanku selama sebulan. Dan dia tinggal bersama mas, mas tidak tega jika ia harus sewa kamar kos selama di Bandung karena masih ada mas disana, kakak sepupunya"


Penjelasan yang panjang dari Rama perlahan menghentikan isakan tangis Mirna. Miran mendongakkan wajahnya dengan mata yang amsih sembab mencari kebohongan di mata Rama. Namun yang dicari tidak ada.


"Maafkan mas, maaf jika Bella membuat kita salah paham seperti ini, maafkan mas".


"Mir.. maafkan saja... dia tidak salah" tiba - tiba suara Ryan dengn langkahnya mendekat.


"Eh... jangan peluk - peluk masih belum halal bro, maen peluk aja"


"Eh iya... maaf" Rama menguraikan pelukannya dan menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.


"Ih katanya suruh nyelesaikan masalah, ini maen datang aja"


"Lapar Mir, kalau aku kena mag, kamu dimarahi bunda sama mamah gimana"


"Mboh sak karepmu (terserah kamu) "


"Ram... ayo makan siang dulu, Mirna sepertinya puasa"


"Rama sudah mengekor Ryan menuju parkiran"


"Woooi..... jangan ditinggal.... " Mirna agak berlari mengejar Ryan dan Rama.


Ryan memilih restoran yang ada saungnya dengan pemandangan kolam ikan yang luas mengesankan ketenangan. Sengaja Ryan memilih restoran seperti ini untuk mendamaikan Mirna dan Rama.


"Yan, bukannya ini masih jam 11, makan siang kan sejam lagi." celentuk Ryan.


"Hahahahaha"


"Dasar kampret, pasti kamh ngerjain aku" batin Mirna.


"Gimana Ram, sydah selesai masalahnya? " tanya Ryan.


"Sepertinya sudah selesai"


"Belum" sahut Mirna.


Rama melihat Mirna " Dek"


"Maaf...luka ini masih menganga"


"Idiiih... kayak apaan pakek menganga... gaya kamua kayak pemain sinetron aja"


"Dek... maaf, Bella..... "


Tiba - tiba Bella datang dengan temannya menghampiri meja mereka.


"Kak Rama... makan di sini juga?"


"Bella.... " ucap Rama kaget.


"Eh kakak ada meeting? maaf Bella undur diri kalau begitu. Bella dan temanta berbalik dan "Oh iya kak, mama sama tante nanti malam ke Bandung, kakak pulang cepet ya jangan lupa beli makanan yang enak enak, kasihanilah adekmu ini... setiap hari cuma makan makanan lokal" kemudian Bella melanjutkan langkahnya ke saung yang berada agak jauh.


"Ram... dia Bella? "tanya Ryan.


"Iya... "


"Pantesan Mirna cemburu, asline beeeeh cantik broooo"


"Yaaaan...... " bentak Mirna.


"Mir.. .kamu sudah lihat jika Bella siapa, jadi udah jangan pakai menganga lagi, obat menganga kan sudah ada. "


"Tuan kangmas Rama tercinta"


"Apaan sih Yan"


"Ram.. maafkan Mirna ya, mungkin sifatnya masih kekanakan, tapi maklumilah, dia besar bersama kami, aku dan Ryan.


"Iya... aku ikhlas menerima sifatnya Yan".


"Ya wes nek ngunu, langsung KUA yo? (Ya sudah kalay begitu langsung ke KUA ya? "


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman - teman.... 😁😁😁😃