Zahida

Zahida
Perintah yang menyulitkan



Sebelum keluar Mirna tanya kepada Ryan.


"Kenapa sih dengan tuh anak Yan, setiap kali kejadian yang berhubungan dengan istrinya, ia selalu marah - marah tidak jelas" gerutu Mirna.


Zahida mendengarkan percakapan kedua atasannya tersebut dengan tatapan heran. Pasalnya ini adalah pengalaman pertama ia bekerja di perusahaan besar.


Setelah makan siang semua orang bekerja sesuai dengan tugas masing - masing. Bagitupun dengan Zahida.


Tiba - tiba...


"Silahkan antar dokumen ini ke alamat ini! suara Fahri yang dingin dengan tatapan tajamnnya memandang Zahida yang terkejut. Karena baru kali ino Fahri berbicara langsung kepada Zahida.


"maaf pak, ini bukan tugas saya" jawab Zahida dengan bibir yang bergetar karena ketakutannya yang berlebih pada Fahri.


"Kamu mau saya pecat!!!


"Ta.. tapi... "


"Oke baiklah saya pe..... "


"I iya pak saya segera berangkat"


Zahida langsung menuju parkiran motor dan mengambil motornya, melajukan dengan kecepatan tinggi karena ia harus menyelesaikan tugas yang lain yang belum dia kerjakan sejak tadi pagi.


Tiba - tiba diperempatan jalan.


"Brak..... "


Zahida tertabrak oleh mobil dan terpental sejauh 3 meter. Kakinya mengeluarkan banyak darah. Dan Zahida tidak sadarkan diri.


Zahida dibawa kerumah sakit oleh pemilik mobil tersebut.


Di kantor Fahri.


"Kring.... kring.... kring" telepon kantor berbunyi di meja Mirna.


***


"Wa'alaikumsalam"


***


"Iya benar"


***


"Innalillahi.... "


***


"Baik saya akan segera kesana"


Setelah menerima telepon dari rumah sakit, Mirna segera ke ruangan Ryan.


"Brak.... "


"Mir, please deh ketuk pintu dulu kalau mau masuk" ucap Ryan yang kaget melihat Mirna masuk dengan wajah yang tidak dapat diartikan. Di Ruangan Ryan juga ada Fahri. Mereka membicarakan tentang kinerja karyawan beberapa bulan belakangan ini.


"Apa.... " ucap Ryan dan Fahri bersamaan.


"Ayo"


"Ya Allah bagaimana keadaan gadis itu, aku yang bertanggujawab atas semuanya" batin Fahri.


"Zahida kok bisa kecelakaan saat jam kerja, dia ijin keluar yan? " tqbya Mirna pada Ryan.


"Iya... dia ngantar dokumen"


"Dokumen apa? "


"Maaf" ucap Fahri lirih namun tidak terdengar oleh kedua sahabatnya tersebut.


"Dokumen apa sih dan siapa yang menyuruhnya? tanya Mirna dengan menatap Ryan dan Fahri bergantian.


"Aku" jawab Fahri.


"Kamu....?."


"Kenapa si Ri, kamu itu seperti tidak suka sama Zahida, sampai kamu menyuruh tugas yang bukan tugasnya. "


"Mengantar dokumen kan bisa kurir Ri" ucap Ryan.


"Kalau terjadi apa - apa kamu yang tanggung jawab Ri" ucap Mirna penuh penekanan.


Fahri POV


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa berinteraksi dengan gadis itu? " gumam Fahri di dalam ruang kerjanya.


Sejak kedatangan Zahida di kantor yang sudah lebih 2 minggu ini, Fahri merasakan hal yang berbeda. Ia tertarik pada Zahida semenjak ia menabraknya saat Zahida berjalan tergesa - gesa di loby kantor miliknya.


Hal itu tidak ia rasakan ketika ia bertemu dengan istrinya Kamila. Istri yang sudah setahun menemaninya. Dan ia masih enggan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai suami karena ia belum memberikan hatinya pada Kamila.


Ia hanya korban dari balas budi ayahnya kepada ayah Kamila yang saat itu menolong ayahnya ketika pingsan di lift yang rusak.


Sedangkan dengan Zahida, ia merasakan dadanya berdetak kencang setiap melihatnya. Ia selalu memikirkan bagaimana cara agar bisa betinteraksi dengan Zahida tanpa membuat orang lain curiga akan perasaannya pada Zahida.


Fahri duduk sambil memegang dagunya dengan jari telunjuknya. Fahri pun melihat beberapa dokumen. Dan ia tersenyum simpul menarik bibir atasnya. Fahri mengambil dokumen dan langsung beranjak dari kursinya.


Fahri berjalan menuju ruangan Zahida beranda. Fahri melihat Zahida sangat sibuk sampai kedatangannya tidak dihiraukan oleh Zahida. Fahri melempar dokuemn tepat di depan Zahida.


Silahkan antar dokumen ini ke alamat ini! suara Fahri yang dingin dengan tatapan tajamnnya memandang Zahida yang terkejut. Karena baru kali ino Fahri berbicara langsung kepada Zahida.


"maaf pak, ini bukan tugas saya" jawab Zahida dengan bibir yang bergetar karena ketakutannya yang berlebih pada Fahri.


"Kamu mau saya pecat!!!


"Ta.. tapi... "


"Oke baiklah saya pe..... "


"I iya pak saya segera berangkat".