Zahida

Zahida
Rindu



Zahra tidak memberitahu keluarganya jika ia sedang hamil adiknya Aisyah. Arif pun tidak tahu perihal berita kehamilan adik iparnya. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dokter bedah jantung.


Setelah semua selesai makan malam, Zahra kembali ke kamarnya. Sedangkan Zahida tidak langsung pergi ke kamarnya karena ia ingin duduk di depan taman belakang yang terdapat Gazebo bersama Indah. Mengetahui keberadaan Zahida dan Indah, Arif berniat menghampirinya namun tiba- tiba benda pipihnya berbunyi.


”Assalamualaikum…” suara di seberang.


“Wa’alaikumsalam”.


“Dok…ada pasien kecelakaan butuh penanganan karena jantungnya bermasalah”.


“baiklah saya ke rumah sakit”


Mengambil kunci diatas nakas Arif berpapasan dengan Adam.


“Mau kemana mas?” tanya Adam


“ Ka rumah sakit, ada pasien butuh tindakan” jawab Arif.


“Hati – hati mas”.


“ Siap laksanakan pak Adam”.


Adam melihat tingkah kakak satu – satunya itu dengan geleng – geleng kepala dan tersenyum tipis. Arif memang tinggal bersama Adam namun Arif sering bermalam di rumah sakit. Karena Arif adalah satu – satunya saudara Adam pasca orang tuanya meninggal.


Arif mengurungkan niatnya menghampiri Zahida dan Indah. Ia langsung mengeluarkan mobilnya dari garasi dan meluncur ke rumah sakit terbesar di kota Bandung tempat Arif mengabdikan dirinya.


Sesampainya di rumah sakit, Arif bergelut dengan pasiennya hingga menjelang pagi.


Sementara di rumah bunda Fahri, Fahri tidak bisa tidur memikirkan istrinya. Bukan Kamila tapi Zahida. Ia terbiasa menjaga Zahida saat malam hari walaupun ia hanya duduk di sofa di samping tempat tidurnya. Selama menikah dengan Zahida, Fahri belum pernah seranjang dengan istri keduanya itu. Fahri begitu menyayangi Zahida, ia telah jatuh hati pada istrinya itu. Sedangkan dengan Kamila hatinya membeku, apapun yang dilakukan Kamila tidak satupun yang menyentuh hati Fahri.


Fahri melihat benda pipihnya, tangannya sangat ingin membuka aplikasi hijau untuk melakukan VC dengan Zahida. Tapi ia mempertimbangkan kembali. Ia takut menganggu istri keduanya itu karena mengingat kondisi Zahida yang masih belum pulih. Belum 48 jam Zahida meninggalkannya, ia sudah seperti laki – laki yang ditinggal kekasihnya.


“Indah..” batin Fahri.


Panggilan pertama hanya berdering


Panggilan kedua hanya berdering


Panggilan ketiga hanya berdering


“Kemana Indah, anak ini pasti tidak membawa Hp.?” batin Fahri.


“Nyonya, Mari masuk ke kamar, udaranya tidak baik untuk anda” pekik Indah.


“Ayo mbak…” jawab Zahida.


Mereka masuk ke kamar dan Indah melihat benda pipihnya di atas nakas menyala, tanda ada panggilan. Buru – buru ia segera mengambilnya setelah membantu zahida berbaring di atas ranjang.


“Tuan Fahri” batin Zahida.


“Nyonya….”


“Iya mbak”.


“Tuan menelfon, apa boleh saya mengangkatnya?” tanya Indah dengan lembut takut menyinggung nyonya mudanya.


“Iya mbak…diangkat saja” jawab Zahida.


Sebenarnya di hati Zahida, ia ingin mengetahui kabar dari suaminya namun ia tidak enak hati menanyakan kepada Indah. Ia hanya mengetahui kabar suaminya jika Indah bercerita tentang keadaan tuannya.


Tombol hijau digeser tangan Indah.


“Assalamualaikum…Tuan”


“Wa’alaikumsalam..”


“Iya tuan,”


“Berikan handphonenya pada nyonya!”


“Baik Tuan” jawab Indah.


“ Assalamualaikum…” ucap Fahri di seberang.


“Wa’alaikumsalam” jawab Zahida. Saat ini jantung Zahida berdetak sangat cepat dan ia sangat gugup karena benda pipih sudah dihadapannya.


“Ya Allah jantungku kenapa iki?” batin Zahida.


“Za….. mas merindukanmu” ucap Fahri tanpa malu. Padahal ketika bertemu ia tak pernah bisa mengutarakan isi hatinya secara blak – blakan.


“ iya mas”


“Bagaimana keadaanmu Za?”


“ Baik…”


“Za… mas sudah meminta Arif untuk membantu kesembuhanmu!”


“Za…..mas merindukanmu, bagaimana denganmu Za?”


Blush…wajah Zahida bersemu merah


Hayo…hayo…penasaran yah...bagaimana perasaan Zahida...


Hayuk like, komentar, dan vote...