Zahida

Zahida
Lelah



Kegiatan Fahri dan Zahida berlanjut hingga 2 jam lamanya. Mereka melewatkan sarapam dan tentu saja Fahri terlambat datang ke kantor. Fahri memutuskan untuk cuti kerja hari ini.


Tiba - tiba...


"Tok... tok... tok... "


"Fahri..... Za.... " pekik bunda dari luar kamar.


"Iya bun... kami. akan segera turun, bunda makan duluan saja" jawab Fahri dari dala. kamar.


Sang bunda turun tangga dengan senyum mengembang dari bibirnya.


"Bik... saya mau ke rumah adik saya, tolong nanti jika Fahri maupun Zahida bertanya keberadaan saya, jawab itu ya bik"


"Nggih Nyonya"


Bagaimana keadaan di dalam...??? pastinya Fahri sudah menduga akan terjadi hal ini. 😬😬😬


Fahri sudah mandi dan Zahida pun demikian. Dan Fahri sudah berganti dengan kaos oblong dan celana santainya. Sedangkan Zahida masih sibuk mengganti sprei yang telah berserakan dan ada noda darahnya tersebut. Fahri yang sejak tadi matanya mengekor aktivitas Zahida tersenyum simpul.


"Ya Allah sakit sekali" batin Zahida.


Zahida kesulitan untuk berjalan, mau meminta tolong kepada Fahri rasanya tidaklah mungkin. Ia teramat malu dengan kejadian beberapa jam yang lalu.


"Za....sini mas bantu, kamu duduk saja mengeringkan rambut, terimakasih Za" ucap Fahri yang telah memeluk Zahida dari belakang.


"I iya mas" jawab Zahida dengan gugup.


"Za... hari ini saya tidak ke kantor"


"Ya Allah.... sangat melelahkan... sekarang ditambah mas Fahri tidak ke kantor" batin Zahida.


"Jangan mikir yang macam - macam." ucap Fahri sambil menyentil kening Zahida.


"Mas Fahri tahu apa yang Za pikirkan?"


"Tahu.... kamu pasti berfikiran... "


"Sudah jangan dilanjutkan mas"


"Ayo kita makan, Za sangat lapar"


Berjalan beberapa langkah seperti berjalan ribuan kilometer, terasa sangat melelahkan, menyakitkan, itulab perasaan Za saat ini.


"Mas... apa boleh Za kembali ke kamar saja" kata Za pada Fahri. Baru beberapa langkah ia berjalan, dan melihat anak tangga yabg begitu banyak terasa seperti akan melewati jurang yang curam.


Fahri menghentikan langkahnya, berbelok ke Za dan diangkat Za kembali ke dalam kamar.


"Kita makan di sini" pekik Fahri.


Zahra hanya diam saja, ia gugup dengan perlakuan Fahri. Dan mereka sarapan di kamar dengan tenang.


"Mas.... Za boleh tidur lagi?" tanya Za dengan hati - hati.


"Hem... baru selesai makan, tunggu 30 menit ya, biar lambungnya bekerja maksimal dulu"


"Iya mas"


Hening menyeruak dalam kamar. Sejujurnya Za sangatlah gugup namun ia mampu mengatasinya.


"Za... kalau di kamar tidak usah memakai hijab" ucapan Fahri tiba - tiba.


"I iya mas"


"Nanti sore kamu ikut saya ya"


Tanpa bertanya kemana akan pergi, Za langsung mengiyakan ajakan Fahri.


Satu jam kemudian, Zahida sudah terlelap padahal jarum jam berada pada angka 10. Fahri menatap istrinya "Kamu sangat sederhana Za".


Fahri keluar kamar dan menuju ruang kerjanya. Memeriksa email yang masuk dari Ryan maupun Mirna adalah hal pertama yang ia lakukan. Bergelut dengan pekerjaan hingga tengah hari membuatnya lelah dan mengantuk. Tak ayal, ketika Fahri berniat merebahkan badannya di sofa, ia tertidur hingga 2 jam lamanya. Sedangkan Zahida mulai kebingungan mencari keberadaan Fahri. Sudah puluhan kali jari lentiknya menggeser icon hijau dengan nama duaminya belum juga mendapat jawaban.


"Padahal ingin sholat jamaah tapi sepertinay mas Fahri sangat sibuk sampai tidak bisa mengangkat teleponku" gumam Zahida.


Zahida memutuskan untuk melakukan kewajibannya sebagai umat manusia sendiri.


Hai guys..... maap author upnya tidak rajin seperti dulu. Karena pekerjaan di dunia nyata yang super duper padat.


Jangan lupa penyemangat author ya... like, komen dan votenya. bye bye bye 😬😬😬🤗🤗🤗🤗