
Zahida belum menyahut ucapan Fahri. Ia hanya diam, dengan mata yang mulai mengembun di sisi ujung kelopak matanya. Indah yang melihat itu jadi tak enak hati, khawatir akan menganggu kesehatan Zahida. Setelah kecelakaan memang secara psikis, keadaan Zahida lemah. Berbeda dengan keadaannya sebelum musibah itu menimpanya.
“Za…Za….jawab saya” ucap Fahri naik satu oktaf karena mersa dirinya diacuhkan Zahida.
Mendengar itu hati Zahida menciut, akhirnya muncul suara dari bibirnya. “I Iya tuan, sa saya baik – baik saja”
“Saya bukan atasanmu Za, bersikaplah seperti seorang istri buka bawahan saya” pekik Fahri kembali menampakkan wajah datarnya seperti saat Zahida pertama kali bertemu dengannya.
Fahri sengaja memasang wajah garang, hal itu dengan alas an istrinya sudah mengacuhkannya dan ia mau sedikit mengerjai istrinya tersebut. Tidak apa – apalah jika ada sedikit perdebatan piker Fahri.
“I Iya mas” lirih Zahida mengatakannya namun suaranya masih terdengar di benda pipih milik Fahri.
“jangan sekali kali membantah saya, saya tidak suka” pekik Fahri dengan nada datarnya serupa dengan wajahnya.
“apa – apaan dia ini, dia yang telepon, dia yang marah, dasar bos galak. Eh diakan sudah jadi……” batin Zahida
“ jangan mengumpat saya “ pekik Fahri.
Satu embun lolos dan itu sangat terlihat oleh Indah, Buru – buru Indah merebut benda pipihnya dari tangan Zahida dan sedikit berlari keluar kamar.
“Permisi nyonya”
Zahida menjawab dengan anggukan dan setelah Indah pergi, ia sesenggukan di kamar.
“Kenapa aku menikah dengan dia, dia hanya kasihan padaku, dia hanya menjadikanku sebagai pelampiasan karena kecewa dnegan dokter Kamila. Ya Allah kuatkan aku” ucap Zahida di kursi rodanya ke arah jendela.
“ Za..za…za…” teriak Fahri di seberang.
“Tu…tuan maaf ini saya Indah” sahut Indah
“loh kok kamu Ndah?”
“Tuan tolong, jangan bersikap seperti itu pada nyonya muda”
“Kenapa?”
“Saya khawatir psikis nyonya tidak sekuat dulu”
Tampak Fahri berfikir dan “ Baiklah hubungi saya jika ada apa-apa”
“ baik tuan”
“ Indah, saya percayakan Zahida didalam pengawasan kamu dan Arif. Dia adalah dokter bedah jantung” pekik Fahri.
“Jadi dia dokter, makanya wayahnya seperti tidak asing” batin Indah.
“Iya tuan, tuan saya ke nyonya dulu, saya tutup tuan”
“Baiklah”.
“Za….” Ucap Zahra dengan lembut dan mengusap punggung Zahida seakan memberi kekuatan agar Zahida sabar.
“Mbak….hikz…hikz…hikz”
Tidak tega melihat adiknya menangis, ia langsung memeluk Zahida. Dia sesenggukan di dada Zahra. Ketika Indah akan masuk kamar, indah melihat itu, mengurungkan niatnya untuk masuk. Indah mengeluarkan benda pipihnya dan segera merekam itu. Ia akan mengirimkan rekaman itu kepada tuannya.
“Za….Tuan Fahri sudah menceritakan kepada mbak dan mas Adam. Dia sungguh mencintai dan menyayangi kamu Za…Jangan pernah berfikir kamu hanya dijadikan pelampiasannya saja. Itu tidak benar Za” ucap Zahra lembut.
Zahida mendongakkan wajahnya “ benarkah mbak?”
“Iya Za….”
“ Tapi bagaimana dengan istrinya, dokter Kamila”
“ Mereka akan bercerai”.
“ Karena aku mbak?”
“Tidak Za….mereka memang punya niat berpisah?”
“ Meraka?”
“Tidak mbak…terakhir kali dokter Kamila mengatakan jika ia ingin selalu bersama pak Fahri”
“ Hei…dia bukan bos kamu Za, dia suami kamu, jangan panggil pak”
“Tatap mata mbak, sebenarnya bagaimana perasaanmu pada tuan Fahri”
“A a aku…aku hanya merasakan detak jantungku berdetak sangat kencang jika berada didekatnya dan ada rasa seperti ada yang hilang di sini ketika Za ke sini” ucap Zahida.
“ kamu telah jatuh cinta padanya Za” jawab Zahra sambil tersenyum.
“mungkin mbak, jangan bilang ya mbak”
“ Tenang saja Za” jawab Zahra sambil tersenyum.
“ternyata benar dugaanku” batin Indah
Zahra pun keluar kamar dan tidak sengaja melihat Indah mengirimkan pesan video namu n tidak terkihat ditujukan kepada siapa.
“ Mbak Zahra….” Ucap Indah terkejut.
Zahra hanya tersenyum “ maaf ya telah mengagetkanmu”
Indah kemudian masuk kamar dan melihat Zahida mengusap pipinya yang basah.
Teman teman bantuan author ya...like, komentar dan vote nya. by by by 🤗🤗🤗🤗🤗