World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 08 - Deja Vu dan Sepenggal Cerita Di Tempat Lain



Suasana itu benar-benar tidak asing, ketika aku masuk ke dalam keributan yang dibuat oleh sang anak dari Kepala Sekolah SMA Shibuya, Ryuuji Kojiro. Tapi sekejap hal itu berganti dengan kebodohan yang kubuat karena menjadi sasaran dari bantingan yang dilakukan adik kelasku yang ternyata adalah anggota dari Ekstrakurikuler Seni Beladiri Karate. Yah, mungkin sedikit ilmu yang kudapatkan, sebuah bantingan sederhana yang memanfaatkan kekuatan lawan.


Rasanya seperti tersambar petir, aku, Ryuichi Venzo, merasakan ada flashback yang terjadi mirip dengan keributan di kafetaria siang tadi. Orang awam biasa menyebutnya Deja Vu.


Kini kaki kami menapaki trotoar disekitar jalan raya Distrik Shinjuku, setelah turun dari kereta di Stasiun Utama Shinjuku. Sore ini, kami tidak memiliki kegiatan khusus, jadi kami langsung saja pulang ke rumah kontrakan kami.


"Hei, Kazura..."


"Hmm?"


"Apakah wajar, seseorang mengalami Deja Vu?"


Mata malasnya menatap langit, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu, sedangkan Izano terlihat bengong melihat Kazura.


Sebentar kemudian, Kazura menjawab.


"Itu wajar..."


Aku bernafas lega mendengarnya. Jujur saja, baru kali ini aku mengalami Deja Vu, seperti aku pernah melakukannya. Jika Kazura menganggapnya wajar, berarti dia sudah berpengalaman.


"Itu wajar? Mungkin. Tergantung seberapa banyak kau mengalaminya." sambung Rinjou.


"Maksudmu?"


"Jika Deja Vu yang kau alami terlalu banyak, dapat disimpulkan kau pernah mengulang hidupmu. Ada 2 teori jika kau mengalami lebih dari sekali Deja Vu. Yang pertama adalah Future Reincarnation Technology Theory, dan yang kedua adalah Time Travel Theory. Teori kedua hanya memiliki keberhasilan sebesar 2,5% karena membuat sebuah Mesin Waktu itu terbilang sangat sulit, apalagi Time Travel Theory adalah teori yang menyalahi hukum alam semesta meskipun sebenarnya masih memungkinkan untuk dilakukan."


Dan, mendengar pendapat Rinjou yang terbilang sudah dianggap terlalu tinggi untuk seorang pelajar, ketiga orang disekitarnya termasuk diriku sendiri memandangnya heran. Ternyata meski hanya berkutat pada Smartphone, tapi daya pikirnya luas juga ya?


"Ada apa dengan tatapan kalian itu? Kalian kira aku ini hanya seorang pengguna Smartphone yang dibodohi sosial media?"


Jawabanku sederhana atas pertanyaan Rinjou.


"Tidak, kau itu seorang pengguna Smartphone yang kecanduan adegan Yuri para gadis Loli..."


Seketika itu, dua orang lain yang mendengarnya menahan tawa sebisa mereka. Aku tahu apa isi Smartphone yang setiap hari dipelototinya itu, jadi aku mengerti apa yang jadi fetishnya.


"Tsk, lalu, kenapa dua iblis seperti kalian juga tertawa?" keluhnya kesal sembari menatap tajam Kazura dan Izano yang langsung mengalihkan pandangan mereka.


"Tidak ada, Profesor..." balas keduanya bersamaan, lalu kembali menahan tawa.


"Bukan! Panggil aku Sang Jenius, Hououin Kyouma!" serunya seperti seorang Chunni. Hah, nampaknya dia sedang kambuh, hingga ucapan tokoh utama dalam anime yang membahas lompatan waktu ditirunya.


"Harusnya aku yang mengatakan itu, Suppa Hacka!" balasku yang ikut masuk dalam mode Chunni.


"Bukan Suppa Hacka, tapi Super Hacker!" balasnya melanjutkan permainan yang dimulainya ini.


...


Di sebuah tempat yang sangat jauh dari Bumi, beberapa orang berseragam sedang mempersiapkan sesuatu di ruang yang penuh dengan kapsul, komputer, kabel, dan lain sebagainya...


Diantara mereka, berdiri salah satu wanita berkacamata sedang menelaah data yang ada di hologram yang tampil di atas tangannya. Matanya menatap datar data-data yang muncul, namun tak memungkiri rasa ketertarikannya terhadap apa yang ditemukannya.


'Sepertinya mereka calon yang bagus... Aku harap Kepala Akademi dapat menerima hasilnya...' gumamnya sedikit menyunggingkan senyum kepuasan.


Disamping itu, di sebuah ruangan yang nampak seperti ruang rapat berteknologi tinggi, 4 gadis berseragam dengan ikat lengan bertuliskan "Disciplinary Division" sedang membicarakan masalah umum di akademi.


Salah satunya sedang membawa nampan berisi 4 cangkir teh, sambil tersenyum membagikannya pada anggota lain.


"Silahkan~!"


Wajah khasnya terlihat jika dia menikmati hari-hari bersama ketiga gadis yang saat ini satu ruangan bersamanya.


Gadis yang sudah mendapatkan secangkir teh hangat di depannya, perlahan mengangkat cangkir tersebut dengan elegan, lalu mulai menyeruputnya di tengah pengerjaan laporan sebuah berkas yang cukup banyak menumpuk di hologram miliknya.


Dari aroma uap teh yang tercium, dia dapat merasakan sensasi nikmat yang ada dalam teh tersebut, wajahnya memerah dan sorot mata yang nakal mencerminkan kepuasannya.


"Aaahh~ Aroma hangat ini~"


Dicecapnya perlahan campuran dari air hangat, sebongkah gula pasir, dan juga ekstrak daun teh... Perasaannya kini semakin terpuaskan. Senyumnya berubah menjadi normal.


Dengan ekspresi sedikit malu-malu, dia menjawab.


"I-Itu... Ibu Venzo-kun yang mengajariku membuatnya..."


Seketika ide jahil terlintas dipikiran gadis yang bertanya tadi.


"Ara~? Pemuda yang sering kau bicarakan itu kan~?"


"Eh? T-Tapi dia masih di Bumi saat ini... Uuuhh~ Tidak baik membicarakannya sekarang..."


"Apakah dia kekasihmu? Nee, nee... Sudahkah kalian melakukannya?"


"K-Kami belum melakukannya, Yuna-chan~!"


"Heh? Padahal Planet ini memerlukan keturunan yang hebat lho..."


"Aku tahu itu..."


Gadis yang dipanggil Yuna itu kemudian menerawang langit-langit ruangan, sembari bergumam pelan.


"Enaknya, aku jadi ingin memiliki kekasih yang seperti itu, yang akan melindungiku dengan sepenuh hatinya..."


Gadis dengan tatapan datar kemudian masuk ke dalam pembicaraan, setelah mendengar gumaman Yuna, masih dalam pengerjaan berkas laporan pada hologramnya sendiri.


"Tumben sekali kau berpikiran seperti itu, Sadistic Princess..."


"Moo~! Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Miyuu-chan~"


Gadis loli dengan rambut biru lautnya, lalu menatap tajam kearah Yuna, mencoba mendeteksi sesuatu.


"Apakah kamu sedang sakit?"


"Bukan begitu~! Aku kan gadis normal~! Huh!"


"Kebiasaan sadismu itu tidak normal..."


"Moo~!"


Kesal, Yuna menggembungkan pipinya, jika pemuda normal melihat ini, mereka akan semakin iseng untuk menjahili gadis yang memiliki Codename Sadistic Princess ini. Karena mode kesalnya ini sangatlah imut.


Gadis terakhir menutup buku tebalnya sedikit keras sembari menegur yang lain.


"Bisakah kalian tenang sedikit?"


Yuna merubah ekspresinya begitu saja saat mendengar teguran gadis yang sedang sibuk membaca buku ini, lalu menggodanya.


"Lalu, bagaimana dengan Demonic Rose Princess ini? Apakah kau sudah memiliki kekasih~? Oh iya, gadis galak sepertimu mana mungkin ada yang berani mendekat~? Fufufu~"


Urat di kepala gadis yang disebut Demonic Rose Princess ini muncul. Rambutnya mulai terangkat keatas dan melayang-layang. Dengan aura merah memancar menjadi latar kemarahannya, nampak jelas sosok wajah besar iblis merah menambah auranya semakin kuat.


"Oi, Yuna, ucapkan itu sekali lagi..."


"Ups~ Aku keceplosan~ Hihihi~"


"Kemarilah, Yuna..."


"Iyaaaaaan~ Haruka-chan ingin menghukumkuuuu~ Tolong aku, Ruru-chaaaan~~"


Kejar-kejaran tak terelakkan antara Haruka dan Yuna. Ruru bingung harus berbuat apa, dia hanya mengeluh dengan ulah anggotanya yang kini semakin ribut.


"Uuuuhhh... Semakin ramai..."


Writer's Note :


Future Reincarnation Technology Theory : Sebuah teori tentang reinkarnasi yang sengaja dibuat untuk memperbaiki kesalahan dalam sebuah lintas kehidupan seseorang dengan mengirimkan subjek berupa manusia buatan ataupun tiruan dari si pembuat, dan dilakukan berulang-ulang hingga kesalahan tersebut berhasil diperbaiki.