World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 16 - Tanah Kelahiran Sensei



Aku Yamaguchi Izano. Aku adalah seorang siswa kelas 3-A di SMA Shibuya, yang bisa disebut sebagai Sekolah Elit di Jepang. Bukan hanya akademis semata yang dicari di sekolah ini, malah lebih menitikberatkan pada penerimaan siswa-siswi unik dengan hobi dan tujuan yang bermacam-macam.


Termasuk Engetsu Kazura-senpai, Kyuasagi Rinjou-senpai, dan yang paling unik dari kami bertiga adalah Ryuichi Venzo-sensei.


Oiya, meskipun aku sekelas dengan mereka, umurku terpaut 3 tahun lebih muda dari mereka dan dari kebanyakan siswa-siswi kelas 3 sekarang ini. Umurku 15 tahun.


Aku tinggal bersama mereka juga, termasuk Venzo-sensei. Alasanku memanggil Venzo dengan imbuhan -sensei adalah, meskipun dia tergolong pemuda yang mesum dengan tingkat yang sulit untuk dijelaskan, terkadang muncul kata-kata bijak darinya dan dia bisa memberikan saran-saran menakjubkan saat dia menjadi tempat curhat sahabatnya. Dan aku yang paling sering meminta pendapat padanya, terutama soal gadis.


Pengalaman yang sering dia ceritakan setelah dia mendengarkan masalahku selalu tepat seperti apa yang kualami saat itu, membuatku semakin menghormatinya sebagai orang yang lebih dewasa dariku. Dan juga, kata bijak yang masih kuingat hingga saat ini bisa membuatku menjalani kehidupan yang nyatanya keras adalah :


"Jangan takut untuk menjadi dirimu sendiri, karena dirimu yang berhak menilai tujuanmu dan memutuskan kemana kau akan pergi. Jadi, meskipun dunia ini memaksamu untuk berhenti, jangan berhenti. Jika kau sanggup, genggamlah dunia. Jangan biarkan dunia menggenggammu atau kau akan berakhir menjadi pecundang."


Tapi tetap saja, yang membuatku tetap setia menjadi muridnya adalah, ilmu yang dia berikan padaku, terutama soal ilmu Ero, karena aku memang terlalu polos sebelum aku mengenalnya lewat media sosial 3 tahun lalu dan memutuskan untuk mengikuti jalannya.


Suatu waktu, dia menjelaskan juga tentang definisi HERO padaku.


"Hei, nak."


"Ada apa, sensei?"


"Apa kau tahu definisi dari HERO?"


"Pahlawan maksudnya?"


"Tidak akan ada HERO tanpa H dan ERO. Kau mengerti maksudnya?"


Tidak akan ada HERO tanpa H dan ERO...


Jika dipikir-pikir, memang benar sih. Memang tanpa H dan ERO, HERO tidak akan terbentuk.


"Mungkin... dari segi kata?"


Dia duduk disampingku lalu menepuk pundakku pelan. Wajahnya pun tampak santai meskipun dia akan menjabarkan sesuatu yang belum kuketahui.


"Ada 2 macam gambaran disini. Yang pertama sudah kau jawab tadi. Kerja bagus, nak."


Dia memuji sambil mengacak-acak rambutku.


"Namun ada juga dari segi penciptaan..."


Setelah dia memberikan petunjuk tersebut, sebagai murid pertamanya, entah mengapa aku mengerti begitu saja apa maksud dari penciptaan itu.


Penciptaan HERO, kelahiran...


Sekilas ketika dia melanjutkan ucapannya, seperti dia sudah membaca pikiranku.


"Sudah kuduga jika kau akan langsung mengerti. HERO tidak akan pernah ada tanpa H dan ERO dari segi penciptaan, yang tak lain adalah, HERO pasti memiliki orangtua, entah itu yang masih hidup atau sudah tiada. Tanpa esensi dari ERO, bagaimana HERO dapat lahir dan muncul? Coba pikirkan dengan nalarmu, nak."


Sejenak aku terdiam, melakukan apa yang Sensei sarankan padaku.


Jika itu memang HERO, pastinya dia lahir dari kedua orangtuanya. Bukan sesama jenis tapi dua insan lawan jenis yang mengikat diri mereka dalam sebuah janji untuk hidup bersama yang disaksikan oleh orang terdekat mereka berdua. HERO yang tiba-tiba saja ada itu hanyalah khayalan. Meskipun ada, HERO isekai pun punya orangtua kan? Memangnya kau berharap apa? Dia jatuh dari langit seperti Hercules? Atau, dia muncul dari sebuah batu mulia yang retak begitu saja? Jelas tidak kan? Jadi apa yang disampaikan Sensei itu sangat masuk diakal.


"Ah, jadi itu maksudnya?"


Bukan tanpa alasan Sensei memodifikasi ungkapannya, tapi dengan penuh dedikasi tentang Ero dia menyusunnya sedemikian sederhana dan dapat ditelaah bahkan oleh pemuda dengan ilmu Ero yang masih amatir sepertiku. Sungguh guru yang benar-benar tidak perlu dipertanyakan lagi eksistensinya.


"Sederhana namun tepat sasaran bukan?"


"Seperti yang diharapkan dari seorang Venzo-sensei..."


Well, tidak ada salahnya jika aku memujinya seperti itu saat Sensei bertanya soal apa yang dijelaskannya tadi.


Liburan musim panas akhirnya datang. Kami bersiap-siap untuk meninggalkan rumah kontrakan kami dan berangkat menuju Kyoto. Tak lupa Rinjou-senpai membuka laptopnya dan mengecek karakter gamenya untuk sejenak. Venzo-sensei pun bertanya soal itu.


"Login hari ini ya, Rinjou?"


"Ah, aku ingin membeli kostum terbaru untuk karakterku."


"Yah, aku skip saja. Uangku menipis."


Setelah beberapa saat masuk ke dalam game yang cukup populer ini, tiba-tiba ekspresi Rinjou-senpai berubah drastis sambil berteriak keras.


"SIALAAAAAAAN! Kemana semua item dan kostum lamaku??? BANGSAAAATTT!!!"


Kazura-senpai yang selesai memasukkan pakaiannya ke dalam tas langsung menghampiri kami yang sedang bergerombol.


Dia memasang wajahnya pada kami, ekspresi murung dengan warna biru pucat.


"Karakterku habis dibajak orang asing..."


Venzo-sensei yang juga memainkan game yang sama terkejut bukan main.


"Hah? Kenapa bisa? Karaktermu yang sudah jadi itu kan? Inquisitor dengan nama TreeDiagram? Ceroboh sekali..."


Aku yang penasaran seberapa berharganya karakter dalam game yang bernama DragonRest itu juga ikut bertanya.


"Memangnya berapa yen yang kau perlukan untuk memperkuat karaktermu itu, Rinjou-senpai?"


"Hampir 20 ribu yen..."


"HAAAAAAH???"


20 ribu yen bagi kami tidaklah sedikit. Pantas saja kami terkejut mendengar penuturan Rinjou-senpai soal biaya yang dikeluarkannya demi mendapatkan karakter yang kuat tersebut.


Memang tidak perlu ditanyakan lagi, Rinjou-senpai adalah pemuda yang cukup cekatan jika membahas soal game. Dari game dengan genre MMORPG sampai game dengan genre dance digelutinya. Dia pun menggunakan game tersebut juga untuk berbisnis dan hasilnya cukup menjanjikan. Tapi kali ini dia sedang tidak beruntung karena karakter game yang dia kembangkan entah berapa lama-- mungkin lebih dari 2 tahun, baru saja dibajak dan beberapa item juga kostumnya menghilang. Aku tidak begitu mengerti soal game yang dimainkan Rinjou-senpai. Tapi, sebagai gamer di game yang berbeda, item yang terkadang diburu atau dicuri dari pemain lain biasanya adalah item-item mahal yang susah sekali didapatkan. Dan kehilangan item tersebut sama saja dengan kehilangan uang.


Sebenarnya, aku juga seorang gamer di game dengan nama Roman.


Venzo-sensei pun mencoba menanyakan kembali soal karakter game tersebut.


"Lalu, kau berhasil mengambil kembali karaktermu kan?"


"Memang berhasil, tapi gold yang kukumpulkan juga ikut lenyap bersama itemnya, karakterku juga ikut ditelanjangi dan hanya tersisa satu kostum bagian atas... Sial, sial, siaaaaaaaalll!!!"


Dari raut wajahnya, Rinjou-senpai terlihat kesal saat membahas kejadian yang baru saja dialaminya. Aku mengerti apa yang kau rasakan, Senpai. Ketika kerja kerasmu mengumpulkan keping demi keping gold, lembar demi lembar uang, lalu semua itu hilang dalam waktu singkat sebelum keringatmu terbayar...


Venzo-sensei berpikir keras lalu mulai berbicara kembali.


"Yah... aku mengerti rasanya, Rinjou. Lagipula, itu juga kesalahanmu mempercayai orang yang belum pernah kau temui sebelumnya kan? Itu adalah hal yang jelas-jelas menjadi peringatan ketika kau memasuki dunia game. Kau jelas tahu itu, tapi kau tetap memberikan informasi akun karaktermu itu..."


Aku dan Kazura-senpai yang mendengarkan juga setuju akan hal ini. Mempercayai orang yang belum dikenal sedikitpun itu memang sangat membahayakan. Resiko yang jelas menghantui siapapun. Tertipu. Memang itu yang menjadi akar masalah Rinjou-senpai hari ini. Aku sempat mendengar saat Venzo-sensei dan Rinjou-senpai sedang bermain bersama, Rinjou-senpai nampak mengenalkan seorang pemain pada Venzo-sensei. Dan sensei pun sempat memperingatkan Rinjou-senpai untuk berhati-hati karena orang di dunia maya itu bermacam-macam apalagi di dunia game. Penipu tidaklah sedikit, pemain yang akan melakukan apapun demi mendapatkan karakter game yang kelewat kuat pun menyembunyikan tipu muslihatnya agar yang dia inginkan terpenuhi. Bisa lewat percakapan yang baik, terkadang juga bisa menggunakan kedok karakter gadis yang dirias secantik dan seimut mungkin agar memikat lawan jenisnya-- meskipun yang memainkan karakternya adalah seorang laki-laki sih...


Nampaknya penulis sangat berpengalaman dalam hal ini, sehingga penjelasan yang disampaikan lewat diriku yang polos bisa sepanjang ini...


Penulis : Diam kau, nak. Ini sekedar info!


Venzo-sensei pun melanjutkan.


"Ya, bukan urusanku juga sih, tapi aku sebagai temanmu yang hidup satu atap denganmu jelas merasa kesal jika ada orang yang dengan sengaja membajak karaktermu lalu membotakinya secara sadis!"


"Tapi aneh sekali, kenapa aku bisa memberikan informasiku padanya tanpa berpikir dulu? Sebelumnya dia memang mengajakku untuk melakukan trading. Tapi dia terlihat berbasa-basi cukup lama saat aku bertanya soal itu, dan tanpa ragu, aku malah menyerahkan informasinya..."


Belum selesai sampai disitu, Kazura-senpai pun bersimpati pada Rinjou-senpai.


"Sebenarnya itu karena kebodohanmu sendiri, tapi aku ikut kesal mendengarnya. Lagipula, aku tidak terlalu tertarik dengan bisnis lewat game-- mungkin karena memang tidak pernah masuk ke dalam dunia seperti itu, jadi aku hanya bisa memberikan masukan padamu untuk bersabar saja menghadapi apa yang terjadi. Benar kan, Venzo?"


Kembali Sensei ikut berbicara dalam hal membenarkan pernyataan Kazura-senpai barusan.


"Yah, kurang lebih seperti itu. Resiko mempercayai pemain yang belum kau kenal sekarang sudah kau alami sendiri kan? Belajarlah untuk ragu di dunia game, maka kau akan selamat dari kekejamannya..."


Wah, nampaknya Sensei benar-benar pria yang penuh dengan kata-kata bijak apapun situasinya! Mau tidak mau aku setuju lagi. Memangnya ada alasan untukku tidak setuju pada kata-katanya? Hmm, mungkin kalau dia terlalu blak-blakan tentang kemesuman, ah, itu sulit ditentang juga. Dia kan sudah Ahli di bidang tersebut-- bukan hanya Ahli, dia itu benar-benar jelmaan Dewa Ero!


"Baiklah kalau kau bermain dengan cara seperti itu, aku akan membalasnya di lain waktu... Khukhukhu~"


Gawat, Rinjou-senpai masuk dalam mode menakutkannya... Ternyata Rinjou-senpai bisa menjadi menakutkan seperti ini ya? Pasti ajaran dari Venzo-sensei.


Mengurangi masalah agar aura Rinjou-senpai tidak menjadi semakin parah, aku mencoba mengingatkan mereka bertiga tentang rencana hari ini.


"Etto... Apakah kita jadi berangkat?"


Seketika mereka terkejut menyadari waktu mereka sudah terbuang banyak untuk membicarakan masalah satu orang.


"AH, SIALAN!"


Setelah seruan mereka bertiga berhenti, kami berempat bergegas membawa tas kami lalu keluar dari rumah kontrakan, tak lupa menguncinya dan memberikan kunci pada pemilik kontrakan.


Suara langkah lari kami terdengar disekitar kontrakan, menandakan perjalanan kami menuju Kyoto, tempat tinggal sekaligus tanah kelahiran Venzo-sensei, dimulai.