World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 68 - Reuni dan Pertumpahan Darah (Bagian I)



"Ah, aku melakukannya..."


Tersadar dari amukan yang tidak terkendali, aku-- Ryuichi Akira mendapati seorang pria yang di katakan sebagai seorang direktur perusahaan besar terkapar bersimbah darah akibat serangan yang kulancarkan barusan.


Aku benar-benar tak dapat mengontrol diriku sendiri, sekejap saja maju dan menghajar orang bukan lah sesuatu yang biasa kulakukan. Akan tetapi, perkataannya barusan menarik minatku sekaligus membuatku gelap mata.


Ritual Darah Keperawanan dan Ritual Pengorbanan Darah.


Kalau begitu dia adalah salah satu pengikut dari sekte penyembah iblis itu, dan dia akan melakukan ritual dengan Kusakabe Naya sebagai tumbalnya.


Sejujurnya ini kesempatan yang sangat bagus, aku bisa mendapatkan beberapa informasi berharga darinya. Layaknya mengenai dua burung dengan sebuah batu.


Dan dilihat dari keberadaan orang ini, apa yang sudah kulakukan pada kelompok itu dua tahun yang lalu sepertinya tidak sepenuhnya mengakhiri eksistensi mereka dari muka bumi ini.


Semoga saja wanita cerewet itu kali ini tidak akan marah, aku melanggar janji ku padanya.


Aku mencoba mengamati sekilas tubuh Direktur yang terluka ini.


“Orang ini… Pendatang baru kah?”


Aku merasakan aura iblis yang menjijikan untukku, terasa sangat tipis dan lemah. Kurasa ia masih mencoba masuk ke fase kebangkitan.


Aku mempelajari ini dari seorang Pendeta yang mempelajari karakteristik Iblis yang pernah kutemui, manusia yang menyembah dan ingin menggunakan kekuatan iblis tanpa kontrak harus melalui beberapa fase.


Fase Kebangkitan, yaitu fase dimana para penganut membutuhkan Ritual Darah Keperawanan dan Ritual Pengorbanan Darah untuk tumbal kepada iblis sebagai media kebangkitan. Orang yang telah melalui fase kebangkitan di haruskan untuk terus memberikan tumbal secara rutin agar dapat menggunakan kekuatannya.


Fase Menengah, yaitu fase selanjutnya dimana para penganut yang telah mencapai tahap ini telah di akui oleh Iblis dan akan diberikan kekuatan tambahan tergantung orang nya. Akan tetapi baik fase ini maupun fase kebangkitan, ada batasan yang dimiliki tergantung dari orang nya. Aku menyebut ini Overheat.


Fase Akhir, adalah fase dimana penganut sudah membuang kemanusiaan nya dan menjadi Iblis itu sendiri. Mereka juga sudah bisa mengendalikan kekuatan nya secara penuh dan bebas tanpa batasan. Aku jadi ingat pernah bertemu dan berhadapan dengan beberapa eksekutif sekte ini yang sudah mencapai tahap ini, dan jujur saja mereka adalah lawan yang merepotkan untukku.


“Akira-kun, apa yang harus kita lakukan?”


“Tenang dulu, Asami-san. Jangan khawatir, aku sudah menghubungi temanku. Dia akan datang kesini.”


Jujur saja, aku mempunyai seorang teman di sini. Dan kurasa dialah orang yang pas untuk menangani masalah ini. Aku merasakan tatapan penasaran dari Asami Midori disebelahku. Berbicara soal Kusakabe Naya, saat ini dia sedang duduk terdiam di kursi dan tatapannya menatap tubuh Direktur itu. Kurasa dia hanya mengalami shock saja atas kejadian buruk yang hampir menimpanya.


“Kamu punya teman di kota ini?”


“Ya, ketimbang teman dia adalah orang yang secara tidak sengaja terlibat denganku di masa lalu. Kami biasa saling menghubungi untuk bertukar kabar, atau biasanya dia mencoba untuk menggodaku.”


Aku tidak bercanda soal kata terakhir itu, dan hal itu juga yang membuat segala urusan semakin runyam dan menjadi canggung. Terakhir kali diriku bertemu dia adalah dua tahun yang lalu, kuharap dia sudah berubah dan jadi sedikit lebih dewasa sebagai wanita.


“Terlebih lagi, semoga saja suaminya tidak lagi salah paham denganku”


Karena temanku akan segera tiba, waktunya untuk serius. Aku tidak perlu menahan diri kali ini.


Aku berjalan perlahan mendekati Kusakabe Naya yang masih terdiam.


“Hmm.. Kusakabe-sa--”


“Naya, kamu bisa memanggilku Naya. Karena kamu adik dari Venzo-kun, maka kubolehkan untuk memanggil nama depanku.”


Aku merasakan perasaan yang aneh dari nya. Alasan macam apa itu? Secara teknis aku ini bukanlah adik dari Ryuichi Venzo, aku hanyalah seseorang secara tiba-tiba di angkat oleh Iruka-san sebagai anaknya.


Tapi kupikir aku harus mulai terbiasa untuk di sebut sebagai adik dari seseorang yang bahkan belum kutemui secara langsung.


“Kamu tidak apa-apa kan?”


“Aku baik-baik saja. Hanya…”


“Kenapa?”


“Aku masih memikirkan tentang kejadian yang tadi.”


Aku melihat matanya mulai sembab pertanda akan jatuh air mata.


“Hiks hiks… Aku tidak mengerti, sekilas ku berpikir lebih baik mati saja tadi. Hiks...Venzo, pria yang kucintai pergi meninggalkanku, dan kupikir jika diriku mati maka aku bisa langsung menyusulnya ke alam baka. Hiks hiks… Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Hiks …”


Aku meraih tubuh Naya dan memeluknya, Naya tersentak dan berusaha menjauh akan tetapi tenagaku jauh lebih kuat untuk mencegah Naya menjauh.


“APA YANG KAMU LAKUKAN?!”


“Aku memang tidak pandai menghibur orang lain. Tapi ya, soal pemikiranmu barusan aku tidak akan menyalahkanmu. Sudah sewajarnya demikiran karena aku tahu Naya-san masih mencintai Venzo-san.”


Aku tidak bisa membiarkan Naya jatuh ke kegelapan sekarang, atau Venzo-san tidak akan tenang di atas sana dan kemudian menghantuiku.


“Coba kamu pikirkan, Naya-san. Jika seandainya dirimu mati saat ini, apakah Venzo-san akan bahagia melihatmu melakukan itu demi dirinya? Jawabannya adalah TIDAK! Venzo-san tidak akan senang melihat itu, dia selalu berharap kebahagiaan Naya-san walau saat ini ia sudah tidak ada di sampingmu.”


“Hiks… Be-benarkah itu?”


“Benar. Menurut Kitab Ero atau apalah itu namanya, Pria Ero Sejati akan sangat bahagia dan senang jika wanita yang ia cintai merasakan kebahagiaan.”


Ya, aku tak mengada-ngada sih. Venzo itu membuat sebuah kitab pedoman hidup yang tidak sengaja juga kutemukan dan kemudian aku membaca sembari mempelajarinya.


Maksudku, ayolah... Ryuichi Venzo ini orang macam apa sih?


Setelah beberapa saat, Naya sudah mulai tenang dan aku melepaskan pelukanku.


“Terima kasih, Akira-kun.”


“Sudah menjadi tugasku. Aku tidak bisa diam begitu saja melihat seorang wanita menangis.”


“Kamu sekarang mulai terasa seperti Venzo.”


“Venzo-san ya Venzo-san, dan Akira ya Akira. Aku lebih suka menjadi diriku sendiri.”


Asami berjalan kearah kami.


“Benar apa yang di katakan Naya, kamu seperti versi upgrade dari Venzo jika ia rajin berolahraga.”


“Ayolah… Hentikan itu.”


“Hahaha..”


Tidak lama kemudian, terdengan rintihan kesakitan dari arah Direktur itu


“Arrrgggghhhh... Tubuhku sakit semua. Apa yang sedang terjadi?”


“Ah… Kamu sudah sadar ya, Tuan Direktur yang terhormat.”


“KURANG AJAR KAMU, BERANINYA KA-- *BOUGH* SAKIIITTTTT!!!”


Aku berlari dan kemudian melayangkan pukulan pada mulutnya, yang membuatnya kembali kesakitan. Kupikir sudah saatnya menuju permasalahan utama.


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu, kuharap kamu menjawabnya dengan jujur.”


...


..


.


20 menit sebelumnya...


Di sebuah bangunan yang terletak di pusat kota Tokyo, dan bangunan tersebut merupakan markas Satuan Polisi Tokyo...


Di sebuah ruangan tertentu...


Seorang wanita berperawakan tinggi sekitar 168cm, berambut ungu lurus panjang sepundak dan mengenakan seragam polisi nya, bahkan dengan balutan seragam polisi nya tidak mengurangi kecantikan nya serta asetnya yang bisa dikatakan cukup untuk membuat setiap lelaki tergoda, saat ini sedang duduk terdiam sembari menatap Smartphonenya dengan seksama.


Dari: Akira-chanku yang tersayang 😘


Pesan: Aku menemukan salah satu anggota Hellwalkers, saat ini aku ada di rumah nya Kusakabe Naya.


Kau tak tahu Kusakabe Naya? Kupikir kamu butuh liburan dan tonton TV sana.


Aku minta bantuan untuk membereskan sisa nya di sini, aku akan melakukan Perburuanku.


P.S. : Kurangi kebiasaan merokok mu, itu kurang bagus buat kesehatan.


“Haaaaaaah~~~”


Wanita itu mendesah dengan sangat berat, seperti ada sesuatu beban yang sedang dia pikirkan.


“Dia melupakan janji nya padaku, tapi tidak apa. Tidak kusangka Hellwalkers akan kembali lagi setelah insiden dua tahun lalu.”


Wanita itu bangun dan bergerak menuju meja dan mengambil gelas berisi kopi. Ia kemudian menuangkan satu sendok gula dan mengaduknya secara perlahan, lalu meminumnya.


“Ya, mau bagaimana lagi. Pada akhirnya Akira-chan akan terus menjadi seorang Pembalas Dendam, dan sisi nya yang itu membuat nya terlihat sangat keren. Aku jadi semakin mencintainya. Ufufufufufu...”


...


..


.


“Aku harus melakukan sesuatu.”


Aku—Tachibana Hibana sedang di hadapkan dengan situasi yang cukup melelahkan.


Aku sangat senang sekali, karena pada akhirnya Akira masih mau menghubungiku. Aku senang karena dia masih ingat denganku.


Tapi di lain sisi, aku tidak bisa menutup rasa kesal dan amarahku...


...Hellwalkers...


Nama yang membuatku bernostalgia.


Dari pesan singkat yang di kirimkan Akira, aku tidak menyangka kalau tindakan gila Akira dua tahun yang lalu tidak berhasil menghabisi mereka semua. Padahal aku yakin sekali mereka telah meregang nyawa akibat tertimpa bangunan atau mungkin terkena ledakan berskala besar itu.


Ya rasanya aku tidak bisa terkejut akan fakta itu, mau bagaimanapun mereka adalah sekumpulan manusia biadab yang membuang kemanusiaan mereka demi kekuatan Iblis.


Tapi aku yakin fakta ini akan terasa berat untuk di terima oleh Akira, dimana ia sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalunya dan memulai kehidupan barunya.


“Ryuichi kah? Aku jadi teringat sebuah kejadian tertentu, Kisah Hilangnya 4 Pemuda SMA Shibuya Secara Misterius. Ryuichi Venzo, kan?”


Sepertinya sejak kejadian yang menimpa Ryuichi Venzo itu, Keluarga Ryuichi ingin sekali mengangkat seorang putra. Kudengar juga Kepala Keluarga Ryuichi saat ini yang merupakan ayah dari Ryuichi Venzo itu adalah kenalannya Akira, sehingga dia sekarang dirawat olehnya.


Ya, aku senang melihat dia kini menemukan Keluarga yang dia rindukan sejak lama.


Tapi--


*tok tok tok*


Tch. Menggangguku saja.


“Kuriyama Endo.”


“Masuk.”


Aku melihat seorang pemuda masuk keruanganku dengan sedikit terburu-buru, dan kini ia sedang berdiri di depanku. Kuriyama Endo, salah seorang bawahanku di Kepolisian yang kuakui sendiri kemampuan dan bakatnya dalam satuan. Kepribadiannya yang kalem dan tenang itu menjadi nilai plus untuk pekerjaan ini, akan tetapi rasanya aneh sekali melihat dia gelisah seperti ini.


“Ada apa, Kuriyama?”


“Kapten, gawat sekali!”


“Gawat kenapa? Lebih baik tenangkan dirimu.”


Kuriyama mengambil nafas panjang, lalu mengeluarkannya sembari mengatur tempo pernafasan nya.


“Kapten, kita baru saja menerima laporan dari seseorang bernama Kusakabe. Telah ter---”


“Stop. Aku sudah tau garis besarnya.”


Kurasa ini yang dimaksud Akira tadi, terlebih aku paham kenapa Kuriyama bisa sampai panik begini.


Kusakabe Naya, seorang pianis yang dikenal mempunyai sentuhan sihir dalam membuat musik indah dan sering sekali muncul baik di media online dan layar kaca karena segudang prestasinya. Berbicara soal Kusakabe Naya, ku teringat bahwa ia dikabarkan mempunyai hubungan dengan Ryuichi Venzo dan setelah Kisah 4 Pahlawan itu, Kusakabe Naya memilih untuk mengurung diri dan membatalkan sejumlah konser dan jadwal wawancaranya. Bayangkan saja, jika kejadian ini sampai tercium media aku yakin pasti akan menjadi berita utama.


“Kapten, kenapa wajah anda pucat begitu?”


“Ah, aku tidak apa. Jangan khawatir, Kuriyama.”


Aku harus tenang dan tidak gegabah. Tapi ya, apa urusan Hellwalkers dengan Kusakabe Naya dan aku heran kenapa Akira bisa cepat terlibat masalah macam ini sih.


“Kuriyama, ikut denganku. Kita ke TKP.”


“Siap, Kapten.”


“Bawalah beberapa senjata berat dan juga amunisinya.”


“Eh.. Kapten, apa kita akan terlibat baku tembak?”


“Ya!”


Lawan Iblis sialan itu tentu saja akan terjadi pertumpahan darah. Tapi, bagaimana caranya ku jelaskan masalah ini ke Kazama nantinya ya..


Ya pikirkan saja masalah itu nanti.


“Baik, kapten.”


Kazama meninggalkan ruanganku. Aku juga mulai bersiap-siap dimulai dengan merapihkan seragam polisiku, mengecek senjata api dan amunisi juga merupakan hal wajib. Ya, semua sudah siap.


Aku meninggalkan ruanganku, berjalan melewati lorong dan menuju lift. Saat akan memasuki lift, aku berpapasan dengan seseorang yang ku kenal.


“Kau mau pergi, Kapten Tachibana? Aku sudah mendengar nya dari Kuriyama-kun.”


“Iya, Bu Kepala Shina.”


Shina Fuyuki, seorang Polisi bergelar Kepala Kepolisian di Satuan Kepolisian Tokyo. Cantik, berkharisma dan cerdas merupakan gambaran yang layak untuknya bisa menduduki posisi ini. Jujur, aku sangat menghormatinya.


“Aku pun tidak bisa menutup mata akan kejadian ini, karena itu aku akan ikut denganmu.”


“Ibu serius?”


“Tentu. Aku sudah bersiap-siap.”


Bahkan kejadian ini bikin seorang Bu Shina sampai ikut turun tangan sudah menunjukkan betapa penting nya Kusakabe Naya ini. Tapi ya, ini kabar baik untukku, karena semakin banyak orang yang ikut maka semakin baik.


“Baik, Bu. Mohon bantuannya.”


“Senang sekali bisa bertugas denganmu, Kapten Tachibana.”


Kami berdua memasuki lift dan turun ke basemen, disana terlihat 10 orang telah bersiap dengan senjata lengkap dan memakai vest anti peluru.


Kuriyama maju kearah kami dan melapor.


“Lapor, Bu Kepala. Kami siap bergerak.”


“LAKSANAKAN!”


""""DIMENGERTI!”"""


Mereka semua mulai masuk kedalam mobil, aku menyusul masuk setelah Bu Shina masuk ke dalam mobil.


“Tunggu aku, Akira.”


…………..


………...


……….


…….


…...


Saat ini Aku—Ryuichi Akira sedang menatap dengan jijik kearah direktur yang kini terkapar akibat pukulanku barusan. Tapi sebelum membunuh orang ini, aku harus mendapatkan beberapa informasi yang kuperlukan. Tanpa basa basi ku mengahmpirinya dan memegang kerah pakaiannya.


“Jawab pertanyaanku, kamu anggota Hellwalkers kan?”


“Bajingan, apa yan--*BOUGH*”


“Berani sekali kau bicara seperti itu. Terlebih, beraninya kamu menjadikan Naya-san sebagai tumbal kebangkitan mu.”


Aku kembali lancarkan pukulan ke muka direktur ini, kuharap dia paham dengan posisi dia saat ini. Kuperhatikan baik Naya maupun Asami memiringkan kepala mereka karena tidak paham konteks pembicaraan kami dan hanya dapat diam memperhatikan, dia melanjutkan.


“HAHAHA. Tidak kusangka akan mendengarkan orang biasa sepertimu mengetahui soal Sekte itu. Memang benar, aku ingin menjadikan Kusakabe Naya sebagai tumbal kebangkitan. Aku ingin menjadi kuat untuk membalaskan semua orang yang merendahkanku kemarin, termasuk Keluarga Kusakabe dan juga semua yang berhubungan Ryuichi Venzo sialan itu akan kuhabisi.”


“Kamu justru makin menempatkan dirimu ke posisi yang makin rendah setelah melakukan ini, dasar bodoh. Terlebih, kebetulan sekali ya kamu bertemu denganku sekarang.”


Aku melepaskan pakaianku, menampakkan berbagai bekas luka yang kumiliki di depan nya. Baik Naya dan Asami sama kagetnya melihat bekas luka yang tidak wajar dimiliki orang seusiaku.


Semua luka ini adalah saksi dari jalan balas dendam yang kulewati.


Demi menebus dosaku.


Dosa karena menjadi lemah.


Kelemahan yang membuatku tidak dapat melindungi keluargaku, dan juga Akiko-nee.


“Aku tidak menyangka, tindakanku kepada kalian dua tahun lalu tidak berhasil membuat sekte kalian musnah sepenuhnya.”


“Dua tahun lalu.. Jangan bilang kau ini-"


“Benar, Suzuki Akira. Itulah namaku.”


“HAHAHAHAHAHAHAHA!”


Direktur itu kini tertawa keras yang bergema di seluruh rumah ini, yang membuat suasana semakin mencekam. Perlahan Naya dan Asami mundur sedikit menjauh.


“Midori-chan, aku tidak paham pembicaraan mereka.”


“Aku juga, tapi aku lebih tidak paham kenapa Direktur ini tertawa setelah mendengar nama tadi. Suzuki? Itu marga lama Akira kan. Apa itu Hellwalkers? Tumbal dan kebangkitan pun apa?”


Direktur itu kini melanjutkan.


“Aku tidak menyangka akan bertemu Suzuki Akira yang hebat ini. Kamu sangat di sanjung oleh eksekutif kami karena menjadi penghambat terbesar tujuan kami. Terlebih tindakanmu dua tahun lalu dengan menyusup kedalam markas pusat di saat kami sedang mengadakan pertemuan agung dan meledakkan nya dengan bom skala besar yang sukses membuat 85% anggota kami mati saat itu.”


“Tch. Kalian ini kayak kecoa ya. Susah dibasmi sepenuhnya.”


Fakta yang cukup mengejutkan. Aku tidak pernah berpikir kalau bom sebesar itu gagal membunuh mereka terlebih aku sudah memasang beberapa mekanisme mantra tertentu yang kupelajari dari seorang Biksu tertentu agar mereka tidak dapat melarikan diri. Aku yakin, 15% sisa anggota saat ini di isi oleh para eksekutif yang sudah masuk fase akhir sehingga mereka dapat dengan mudah melepas mantra itu.


“Dasar pembun--*BOUGH*”


“Kalianlah yang pembunuh.”


Di sebut sebagai pembunuh oleh sekelompok pembunuh keji seperti kalian yang tidak peduli dengan kehidupan korbannya dan rela melakukan apa saja demi mengejar kekuatan dari Iblis itu. Aku muak.


“Sekarang ada dimana mereka semua?”


“*COUGH COUGH* Kamu tidak perlu mencari mereka, mereka ada di mana mana. Bersembunyi di balik bayangan memperhatikanmu dan menanti untuk membunuhmu,”


“Begitu. Satu hal yang harus kuberitahu padamu. Namaku saat ini adalah Ryuichi Akira, adik dari Ryuichi Venzo yang mempermalukanmu. Sekarang, kau ingin menghabisiku?”


Direktur itu terbelalak dan merangkak perlahan mundur kebelakang.


“Menjauh dariku.”


“Maaf saja, sejak awal aku tidak akan membiarkan dirimu hidup.”


“MENJAUH DARIKU, SIALAN!”


Aku pun perlahan maju. direktur itu pun perlahan terus mundur sampai kemudian buntu karena dinding. Aku mengepal tangan dan mengarahkannya ke depan wajah Sang Direktur.


“Manusia terikat dengan karma, dan setiap karma selalu akan mendapat balasan.”


“T-Tidak...”


“Kau terikat dengan karma buruk sekte tersebut dan menanggung dosa mereka semua.”


“JANGAN MENDEKAT!”


“Semoga dosamu di ampuni oleh Sang Pencipta di atas sana.”


“JANGAN!!!!!!!”


“Mati.”


Aku mengayunkan pukulan dengan kekuatan penuhku dan menghantam kepala Direktur tersebut, dan berkat tekanan dari dinding di belakangnya kepala Direktur tersebut pecah dan darahnya berceceran ke segalah arah.


"Ah, betapa menyedihkannya diriku ini, Akiko-nee..."


Aku menatap hampa kearah langit-langit ruangan itu sembari mengingat senyuman kakakku tersayang yang kini tak lagi disisiku. Mataku terasa berair, dadaku sesak seperti terkena pukulan. Asami-san dan Naya-san mencoba memelukku karena mereka berdua tahu aku benar-benar mencoba menahan diriku untuk tidak memberikan rasa kasihan pada salah satu anggota sekte sesat yang menyembah iblis Satan.


Meskipun di satu sisi beban yang hinggap ditubuhku berkurang, namun kenyataannya aku tidak merasakan apapun. Yang kurasakan hanya kekecewaan karena saat ini kehidupanku telah berangsur normal. Balas dendam hanya untuk melampiaskan apa yang pernah kualami di masalalu...


""Akira-kun...""