World of Imagination Arc 1 - Destiny

World of Imagination Arc 1 - Destiny
Imagine 42 - Kegagalan, Malaikat Jatuh, dan Pertemanan



Kini, aku, Ryuichi Venzo, sedang berada di Kawasan Kubah Selatan Sanderio--dimana kawasan ini penuh dengan pasir. Entah akan jadi seperti apa lawan yang harus kuhadapi, sebagaimana misi ini adalah misi tingkat S--tipe misi dengan kesulitan tinggi bahkan lawan memiliki kemungkinan tidak bisa dikalahkan. Meskipun begitu, lawan selain yang ada di dalam misi pun menanti. Bagaimana aku dapat bertahan, usahaku akan menentukan.


Dengan berbekal imajinasi, aku mencoba berkonsentrasi untuk menggambarkan senjata seperti apa yang cocok untukku sembari melanjutkan perjalanan ke arah Perbatasan antara Sanderio City dan Sandsea Area.


Gada? Terlalu mencolok dan pastinya membutuhkan tenaga untuk mengayunkan. Palu besar apalagi. Tombak? Aku tak sejago itu memutar-mutar. Pistol? Sniper? Roket Peluncur? Aaaarrrrgghhh, hal ini saja membuatku pusing!


Sementara aku berpikir semacam itu, suara dentuman keras tiba-tiba saja terdengar disusul guncangan dari bawah tanah.


Apa ini?


Tak lama, beberapa orang berhamburan dari rumah mereka yang cukup dekat dari Sandsea Area, membuatku sadar bahwa aku telah sampai di Perbatasan.


"LARIII! SANDSTORM DRAGON MENGAMUUUK!!"


Keributan itu pun terjawab tatkala semburan pasir dalam jumlah besar terlihat tak jauh dari Perbatasan, dan sosok yang disebutkan itu muncul--


Dengan sisik berwarna pasir mengkilap, seluruh gigi taring yang mendominasi mulut besarnya, serta mata merah, dan bentuk tubuh sebesar dan sepanjang beberapa blok rumah, mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga.


GROOOOOAAAAA!!!


Dari sini, aku menyimpulkan bahwa waktu bisa berputar secepat kilat, dan kesempatan untuk mati pun semakin bertambah disini. Apa yang harus kulakukan?


Dari situlah, tubuhku bersinar terang ketika aku memikirkan senjata yang mudah kugunakan--Dua Bilah Pisau!


Sekejap saja, itu muncul di kedua tanganku. Dan dalam profilku sudah tertera--


[You have a Trial Weapon - Meele Weapon : Snake's Fang]


Lebih baik daripada tidak sama sekali!


Ketika ekornya mulai menghancurkan sejumlah rumah, aku malah mencoba untuk menyerang langsung.


Dan tak ayal, pisau yang kugunakan hancur ketika mengenai sisiknya.


"Sial!"


Bodohnya, aku menerima hantaman ekornya dan langsung terpental jauh.


Ketika hal itu terjadi, sekelebat benda gelap menutupi mataku, lalu berganti menjadi sebuah dunia yang menakutkan--dimana hanya ada satu tangga menjulang menuju kuil yang tertutupi oleh awan hitam.


Suara sosok pria bergaung disana, jelas ditujukan kepadaku. Aku mengenal suara ini!


Suara sosok Malaikat Jatuh yang disegel di dalam tubuhku...


[Kemarilah, sebelum waktumu habis, bocah...]


Ah, rupanya aku hilang kesadaran setelah terhantam ekor Sandstorm Dragon...


Aku pun mulai melangkah perlahan, namun semakin lama semakin cepat karena tubuhku terasa sangat ringan, bahkan terasa seperti bulu.


TAP, TAPTAP, TAPTAPTAP, TAPTAPTAPTAPTAPTAPTAP--FLASH!


Entah kenapa, aku bisa mencapai kuil kegelapan secepat kilat.


[Hooo, kekuatan baru yang lumayan...]


"Apa maksudmu?"


[Tak disangka, duniamu yang sekarang lebih menarik perhatianku...]


Menarik perhatiannya? Dia kan Malaikat Jatuh.


[Jangan percaya diri dulu, bocah. Alam semesta itu luas. Lagipula, kau masih mengetahui sebagian saja, pengetahuanmu hanyalah seujung kuku...]


"Lalu katakan, apa maumu memanggilku."


[Aku hanya ingin meminjamkanmu kekuatan, setelah melihat keadaanmu yang memprihatinkan saat ini. Hahaha...]


Ah, memang memprihatinkan...


Senyumnya semakin terlihat berbahaya ketika melihatku memikirkan hal itu. Sepertinya kau punya rencana busuk disini, Lucifer!


[Jadi kau berpikiran seperti itu? Aku menjawab tidak. Aku berspekulasi bahwa di duniamu yang sekarang, kontrak dengan makhluk dari dunia lain itu sangat mungkin--termasuk Seraphim, Archangel, Archdemon, Fallen Angel, Mythical Beast, Dewa-Dewi Mitologi, dan sebagainya...]


"Jadi kau tahu hal itu?"


[Aku mendengar apa yang kau pikirkan. Jadi kesempatan untuk bertemu bermacam-macam Dewa maupun Dewi pun tidak bisa terhindarkan... Lagipula, sudah lama sekali aku tidak merasa terganggu seperti ini...]


"Terganggu? Eh! Mengapa aku harus mengobrol denganmu disini, sialan? Misiku belum selesai!" Seruku mulai teringat akan diriku sendiri.


[Tak perlu tergesa-gesa... Lihatlah...]


Saat aku melihat apa yang ditunjuk Lucifer, yaitu sebuah cermin yang memperlihatkan keadaan sekitarku, aku melihat sosok Sandstorm Dragon sudah hilang darisana, meninggalkan jejak lintasan yang dalam dan berakhir tepat di Kawasan Sandsea Area.


Aku memandangnya dengan wajah heran, sedangkan Lucifer nampak memberitahukan sesuatu lewat ucapannya.


[Great Sword of King Solomon sudah menghilang... Ada seseorang yang mengambilnya...]


Sepertinya aku mengenal pedang tersebut, tapi dimana ya?


"Baiklah, saatnya aku kembali..."


Dan Lucifer merespon ucapanku dengan tertawa keras.


[Gahahahaha! Sungguh bodoh bocah ini! Dengan kekuatanmu yang sekecil itu, aku pastikan kau tidak akan bisa bertahan lama! Lebih baik bekerjasama denganku, dan akan kuberikan kau sedikit kekuatan untuk menopang tubuh lemahmu...]


[Untuk apa? Kau sudah menyegel pergerakanku... Mana mungkin aku dapat melakukan hal itu?]


"Memang kau punya hati?"


[Sialan kau, bocah! Aku ini juga makhluk!]


"Lalu, apa kau punya cinta pertama?"


Dia tidak menjawab, hanya membuang muka dariku. Sepertinya dia benar-benar memilikinya...


[Alexiel...]


"Ha?"


[Kembalilah saja, bocah sialan! Aku akan memmberikan kekuatan gratis untukmu!]


Setelah itu, dia berlalu dan aku kembali ke dalam kesadaranku lagi...


Perlahan membuka mata, syarafku merasakan sesuatu yang empuk dibelakang kepalaku--seperti sebuah bantal, tapi terasa sedikit kenyal...


"Unnngg..."


"Unngg?"


Ternyata, ada sosok yang memangku kepalaku--dia seorang gadis manis dengan sepasang antena di kepalanya, mata hijau safir yang memancarkan ketenangan hamparan rumput.


"K-Kau siapa?" tanyaku.


"Kau siapa?"


Eh? Kenapa kau bertanya balik?


Aku pun mencoba bangkit dan memastikan bahwa gadis ini sehat. Namun mataku terpaksa membuka lebar ketika mengetahui sosoknya--


Perut bersisik yang kulihat ketika tak sengaja menyingkap jubahnya keatas, menyadarkanku akan Sandstorm Dragon... DIA SANDSTORM DRAGON?!


"Hmm?" ungkapnya sambil memiringkan lehernya penuh tanya. Oi! Apa kau ingin jadi manusia?


Tidak, tidak... Nampaknya dia tak berbahaya dalam mode ini. Baiklah, saatnya serius.


"Uhum! Bagaimana kau bisa berubah menjadi manusia?"


Dia nampak bingung mendengarkan pertanyaanku, kemudian pertanyaan kugant menjadi sebuah gerakan isyarat untuk menerjemahkan pertanyaanku. Dimulai dari--menunjuk dirinya, lalu menyusutkan ukuran lewat isyarat, kemudian menunjuk diriku sendiri.


"Mengecil? Ingin berteman dengan manusia... Beradaptasi... Kesulitan..."


Ah, jadi begitu? Kuanggukkan kepalaku tanda mengerti akan maksudnya.


Jadi, dia ini ingin berteman dengan manusia, namun dia kesulitan untuk mengadaptasikan dirinya dikarenakan perubahannya yang tidak sempurna.


"Baiklah... Siapa namamu?"


"Nama?"


Bahkan dia tidak tahu namanya sendiri.


"Identitas?"


"Nggg... Sandstorm Dragon..."


Bukan itu! Yang ada kau malah diburu nantinya ketika orang-orang disekitar sini mendengar namamu!


"Tunggu sebentar."


Lebih baik aku memberinya nama daripada dia tetap seperti ini--menyebut dirinya Sandstorm Dragon dan kepalanya akan jadi hadiah untuk para Petualang...


"Hmmm... Sandstorm..."


Aku mencoba mengeluarkan Smartphoneku, lalu mencari nama yang pas, meskipun harus menerjemahkannya lewat GooGo Translator.


"Sandstorm... Aha! Ramalia!"


Ketika dia menangkap nama itu, dia pun bersorak sambil melompat kegirangan.


"Ramalia~! Ramalia~!"


Sepertinya ini sebuah latihan untuk memberi nama pada keturunanku nanti. Akupun bertanya padanya.


"Ramalia?"


"Hmm?"


"Maukah kau membantuku berlatih? Sebagai gantinya, aku akan mengajarkanmu bagaimana berteman dengan manusia..."


Meskipun kelihatannya dia tidak mengerti, namun dia mengangguk sambil tersenyum, pertanda dia setuju akan pendapatku.


"Umm! Namamu?" tanyanya sambil menunjukku.


"Ryuichi Venzo. Panggil saja Venzo." balasku tersenyum.


"Umm! Venzo~! Berlatih~!"


Ah, sepertinya kharismaku ini belum menghilang meskipun berpindah Planet. Buktinya gadis yang tadinya adalah makhluk pasir berbahaya kini malah mengikutiku. Kazura, Izano, Rinjou--kalian juga berjuanglah disana, agar kita bisa bertemu lagi dengan kekuatan yang mengejutkan!