
Berbekal hasil latihan yang sudah dirasa kompak, aku, Ryuichi Venzo, bersama dengan Kusakabe Naya, Kawaguchi Iori, Kirishima Yui, dan juga Zetsuka Kenji berangkat dari Shibuya menuju tempat kami tampil, yaitu Pusat Kebudayaan terbesar Jepang, Akihabara. Tempat dimana seluruh kegiatan yang berbau anime, acara cosplay, penjualan manga maupun doujinshi besar seringkali diselenggarakan.
Sembari membunuh waktu, aku yang duduk di kursi belakang mobil keluarga milik Naya yang dikemudikan Managernya teringat akan sesuatu. Naya yang ada disampingku pun menatap heran ketika aku sedang menepuk kepalaku.
"Ada apa, Venzo?"
"Sial, hari ini aku lupa login!"
Buru-buru aku mengecek Smartphoneku dan ternyata benar, event game yang kumainkan ini rupanya sudah dimulai.
Selain menulis, aku juga sering memainkan game, entah itu game konsol maupun game aplikasi smartphone. Game yang kumainkan saat ini berjenis MMORPG yang berarti kita berlagak seperti sosok karakter utama yang mengumpulkan pasukan melalui draw atau gacha jika menggunakan bahasa kerennya, lalu membuat party, mengumpulkan senjata, dan melawan boss di setiap chapternya maupun edisi khusus.
Dan hari ini, event musim panas dengan berbagai macam bonus saat melakukan draw crystal juga keuntungan lain diberikan, seperti special quest, raid boss, dan lain sebagainya.
...Grandblast Fantasy, itulah nama gamenya. Memang game ini sangat populer sekarang hingga hampir sekian juta orang yang memainkannya. Tidak hanya gaya permainan yang mengacu pada kemampuan kita saat mengatur susunan party, weapon, dan juga summon yang didapat dari hasil drop raid boss maupun gacha sekaligus upgrade dan uncap, tapi juga segi cerita per karakter yang terkesan berkesinambungan dari awal sampai akhir, segi grafik, karakter unik dengan bermacam-macam skill, hingga hal yang membahas tentang waifu maupun husbando, segalanya ada disini.
Cukup untuk penjelasannya, jika kalian ingin melihatnya sendiri, download sendiri!
Akhirnya, setelah 1 jam perjalanan melewati arus lalu lintas kota yang tertata rapi, kami sampai di Akihabara. Mengemasi barang-barang yang kami bawa, kami bergegas menuju belakang panggung yang didirikan di perempatan utama besar Akihabara yang mulai dipadati penonton sekedar lewat maupun menantikan festival musik pertengahan musim panas ini.
Mengakhiri permainanku di Smartphone dan meninggalkan tugasku sebagai kapten party, aku kembalike duniaku sendiri, mempersiapkan tempo musik yang akan kami mainkan. Kazura, Izano, dan Rinjou mungkin akan menonton, karena aku sudah memberitahu mereka dan merekapun mengetahui akan ada festival yang kuikuti jadi aku bakal pulang terlambat.
Suasana terasa menekan disini, karena tak hanya dari Klub Musik SMA Shibuya saja, namun peserta dari SMA lain cukup banyak yang ikut, karena festival ini memperebutkan hadiah yng cukup besar, juga piala serta juaranya akan diundang dalam festival musim panas tahunan Akihabara sebelum hari wisata SMA Shibuya ke Okinawa nanti, sebagai bintang tamu.
"Hey, hey, apakah kau Kusakabe Naya si Pianis dengan Sentuhan Sihir itu?"
Salah seorang peserta dari sekolah lain datang sekedar menyapa Naya yang tidak bosan-bosannya menempel padaku.
"Ah, aku hanya pianis biasa saja."
"Tidak, tidak. Aku benar-benar mengagumi teknik permainan pianomu, Naya-san. Bolehkah aku minta tanda tangan?"
"Boleh."
Dan begitulah, muncul peserta lain yang datang seterusnya untuk sekedar mengobrol juga meminta tanda tangan. Memang itu adalah suatu kewajaran, berhubung Naya adalah seorang pianis yang sering tampil di acara televisi bertema musik.
Lalu salah seorang mulai mempertanyakan posisiku yang memang duduk disampingnya sedari tadi yang hanya diam melihat kegiatan Naya sedang dikerumuni banyak peserta saingan band kami.
"Er... Naya-san, siapa pemuda yang ada disebelahmu?"
Tanpa memberikan alasan berbelit-belit, dia menjawabnya sembari tersenyum. Jawaban yang jelas-jelas memancing hawa permusuhan para peserta yang mengerumuninya dan meminta tanda tangan atau sekedar bertanya, yang kebanyakan adalah laki-laki.
"Oh? Dia pendampingku~"
"P-Pendamping dalam hal apa, N-Naya-san?" tanyanya lagi, dan kali ini, sudah terdeteksi warna merah yang mulai mendominasi warna kepalanya beserta rambut yang mulai menolak hukum gaya gravitasi. Tidak hanya satu orang, laki-laki yang akan membunuhku mulai bertambah! Jangan menjawabnya seperti itu, Naya! Kau ingin aku dipotong-potong?!
"Bagaimana ya~?"
Dia berdiri sejenak, lalu berjalan mengelilingi para peserta tersebut sambil menahan bibirnya dengan telunjuk, seperti sedang memikirkan sebuah jawaban. Seketika saat Naya memperlebar jarak, beberapa peserta memegangi pundak dan kepalaku seperti seorang tersangka yang akan diinterogasi dengan metode menyakitkan. Oi! Percayalah bahwa maksud Naya dengan pendamping itu aku hanya bodyguard, jangan menganggapku sebagai pendamping hidup kalau kalian nantinya akan menjadikanku makanan singa setelah mendapatkan klarifikasi Naya!
"Ah, maaf, ini urusan pribadi... Tee-hee~"
Itulah jawaban yang didapatkan para peserta yang merupakan penggemarnya dari Naya sembari memasangkan wajah imutnya. Tubuh ideal, rambut panjang sekaligus wajah ceria dan secerah mentari pagi itu jika sedang melakukan gerakan imut memang cocok, bahkan membuat penggemarnya terkulai.
"Naya-saaaan~!" teriak mereka nampak terpuaskan meskipun belum mendapat klarifikasi sesungguhnya.
Dengan mata berapi-api, mereka mulai berkemauan besar mengatakan apa yang akan dilakukannya.
"Naya-san, aku tidak akan kalah dengan teman dekatmu ini! Aku pasti akan menjadi yang terbaik!"
"Aku juga, lihat performaku nanti, Naya-san!"
"Hei, aku juga tidak akan kalah dengan kalian!"
"Aku pasti akan mengalahkanmu dan kalian juga!"
Mulailah keributan antar penggemar yang kemudian melonggarkan hawa membunuh mereka padaku. Fiuh, nampaknya situasi sedang berbalik seperti boomerang... Saatnya bernafas lega-
"Hei, kau, teman dekat Naya-san! Aku tidak akan kalah darimu!"
"Aku juga!"
"Aku akan melakukan yang terbaik demi mendapatkan perhatian Naya-san!"
"Aku ambil bagian! Lihat saja kemampuanku, teman dekat Naya-san!"
Hanya dengan melihat para penggemar Naya yang ribut-ribut soal ingin diperhatikan Naya, membuat anggota Klub Musik cengengesan menahan tawa mereka. Ayolah! Apa kalian terhibur dengan kerepotanku ini?
Bersamaan dengan itu, Naya membalas antusiasme mereka.
"Mohon bantuannya ya di festival ini? Selamat berjuang~"
Lalu, Naya mendekatiku, dan mengatakan sesuatu.
"Tapi, jika kalian ingin dekat denganku, kalian harus tahu apa yang kalian belum miliki dari pemuda ini. Ryuichi Venzo..."
Dengan kelembutannya, jemari telunjuknya yang lentik mulai berdansa diwajahku dan berhenti dengan mengangkat daguku menggunakan jari telunjuknya yang ramping.
"Tidak, aku harap, semua laki-laki yang ingin mengenalku, setidaknya mengetahui bagaimana caranya menghargai seorang gadis~"
Senyumnya yang terasa hangat di dalam dadaku mengejutkan para penggemarnya. Mungkin mereka tidak pernah melihat senyuman Naya yang setulus ini di televisi, berhubung dia hanya muncul saat wawancara maupun saat memainkan piano.
"Waaaaaaah!"
Sepertinya aku bakal didatangi kerepotan yang luar biasa, karena para penggemarnya mulai mengincarku dengan harapan memiliki ilmu untuk mendekati Kusakabe Naya...
[Mohon perhatian kepada para peserta Festival Musik Sekolah Akihabara, acara akan dimulai sebentar lagi... Silahkan menempati tempat duduk peserta yang disediakan panitia untuk menunggu urutan nomor penampilan.]
Layaknya pemandu wisata, Naya mengarahkan para peserta yang menjadi penggemarnya untuk kembali ke tempat duduk.
Menunggu cukup lama, akhirnya festival musik yang diadakan di Akihabara ini dimulai. Untuk peserta pertama, mereka membawakan lagu bergenre hip-hop. Sebagian besar penonton ikut menggerakkan tubuhnya saat mendengar alunan musik yang dimodifikasi ulang.
Begitu pula dengan peserta kedua, membawakan lagu bergenre rock, dan sempat menjadi soundtrack anime yang pernah kulihat sebelumnya. Jelas peserta ini mendapatkan banyak penonton yang menikmati lagu mereka. Lalu, peserta keempat... beberapa peserta yang kami lihat mengejek kami muncul diatas panggung sambil menyampaikan sesuatu.
Setelah menyampaikan hal itu, kami mendengar sebuah lagu sulit karangan band daerah eropa dimainkan. Permainan gitar, drum dan bassnya sangat merata, khususnya di bagian solo. Ternyata mereka tak sekedar berisik saja.
"B-Bagaimana ini...?"
Yui berteriak sambil memasang wajah gelisah. Yang lainnya terlihat gusar, karena takut jika melupakan tempo yang sudah kami hapal sebelumnya.
Dengan tegas aku memberitahu mereka agar tetap tenang.
"Jangan khawatir. Kita pasti bisa."
"Baiklah, kita sambut peserta kelima, Imagination Creator!"
Nama grup kami sudah disebutkan pembawa acara, jadi mau tak mau kami harus siap diatas panggung.
Semua sudah mengarah pada posisinya. Aku masih menyetel ulang peralatan drum dan memasang double pedal milikku di samping pedal hip-hop drum, sementara itu Naya juga mencoba satu dua kunci pada keyboard. Sebelum bermain, pembawa acara menanyakan beberapa pertanyaan pada kami.
"Baiklah, kita bertanya pada drummer- Venzo?!"
Ternyata aku baru sadar, pembawa acaranya adalah ketua kelasku, Asami Midori. Aku menyapanya saat masih memasang pedal drum.
"Oh, Midori? Kau tidak melihat daftar peserta ya kalau aku ikut?"
"K-Kesampingkan itu. Kau bermain drum kan? Lagu apa yang akan kalian mainkan?"
"Hmmm... Tanyakan saja pada vokalisnya. Tapi yang pasti, kami akan bermain dengan maksimal!"
Akhirnya, kami selesai melakukan check sound. Suara bass, gitar elektrik , dan drum terdengar siap dimainkan.
"Baiklah, daripada berlama-lama, kita dengarkan saja. Inilah dia, persembahan dari Imagination Creator!"
Sambutan Midori untuk kami menandakan kami harus memulai pertunjukan. Kenji menengok kearahku untuk memulai pembukaan tempo dengan memukul hip-hop sebanyak 4 kali.
"Yosh, kita mulai!"
Destiny is calling you, passing through the edge of heart
We're not a loss anymore, look up your future, OH YEAAAAAAH!!
Serentak musik kami terdengar keras dan enerjik namun tetap saling bertautan antar bagian. Semua penonton yang melihat permainan kami langsung menerjang kearah panggung sambil melompat-lompat seirama dengan tempo permainan musik kami.
Sorak-sorai terdengar meneriaki kami. Aku tetap bermain dengan stamina yang kumiliki, menginjak kedua pedal bass drum dengan cepat dan beruntun sambil memukul snare dan hip-hop lalu 3 cymbal secara bergantian dan berputar, menghasilkan suara yang mengiringi permainan melodi antara gitar elektrik yang dimainkan Iori dan Keyboard yang dimainkan Naya dengan skill yang tinggi.
Mou mayou koto nado nai
Nayami tsudzukeru koto mo nai
Miageta sono toki, subete ni kidzuita
Ima made no ayamachi wo
Jibun wo miushinaisou ni naru koto nante, mou nai hazu
Jada hitotsu no onaji hoshi wo miteru
Destiny is calling you, passing through your edge of heart
We're not a loss anymore, and look up your future
And surely, we'll unite once again
We're filled with power
Don't lose the past
Gone with the steel
Kembali ke awal reff, aku kembali memainkan pembukanya dengan tempo cepat.
Tapi semuanya bermain secara maksimal, Naya bermain dengan enerjik dan gerakan tangannya dengan cepat menekan beberapa nada sulit dan Iori menyambungnya drngan permainan melodi rumit namun terdengar senada seperti not utama dengan gaya fingerstylenya.
Ima ni mou kaesou datta hikari yo, mou ichido michibike
Tada hitotsu no onaji hoshi wo miteru
Destiny is calling you, but you don't believe it
Keeper of the resurrection is standing alone
And surely, we'll unite once again with strong faith
Live to survive, live for my life
Just like... Those stars!
Akhirnya, dengan penutup yang sempurna, mengakhiri penampilan kami membawakan sebuah lagu dari band jepang yang cukup terkenal. Tepuk tangan riuh para penonton membuat kami puas telah membawakan lagu yang bergenre power metal ini.
Aku menyeka keringat setelah beberapa menit berjuang agar tempoku tidak melambat. Naya tersenyum padaku sambil mengacungkan jempolnya. Dari kejauhan kulihat Izano, Kazura, dan Rinjou bertepuk tangan setelah mendengarkan performa maksimal dari grup band Imagination Creator. Tapi tak hanya mereka bertiga, nampak Hana melompat-lompat dari tempat penonton sambil berteriak, "Senpai, Senpai! Kau keren sekaliiii~!!!"