
Setelah selesai dengan urusan Klub Musik, aku, Ryuichi Venzo, kembali bersama Naya ke kelas, disambut langsung oleh Asami Midori, Ketua Kelas yang berbahaya ketika dia menjadi serius.
"Jadi, bagaimana dengan pekerjaan rumahmu, Ryuichi Venzo-san?"
Wajahnya menampakkan tanda ketidaksenangan. Sepertinya buku tersebut tertinggal di rumah kontrakan.
"Bagaimana ya menjelaskannya?"
Naya juga nampak diam tidak bisa membantu apapun bahkan di depan asami Midori. Cukup aku saja yang mengurus hal ini.
Kazura, Izano, dan Rinjou pun tidak ada tanggapan juga siswa-siswi lain. Alasannya karena Asami Midori memang menakutkan. Memangnya siapa yang mau kena suplex di sekolah? Sekali kalian ketahuan tidak mengumpulkan tugas, kalian bakal mendapatkan apa yang Midori kuasai. German Suplex.
"Ada kejelasan?"
"Aku sudah mengerjakannya, tapi bukunya tertinggal di-"
ZAP!
Tanpa basa-basi, Midori sudah berpindah dibelakangku secepat kilat, melingkarkan lengannya ke perutku dengan rapat, lalu mengangkat tubuhku tanpa ampun.
"Penjelasan lanjutan ditolak!"
WHAM!
Akhirnya, aku pasrah dengan kenyataan kepalaku menghantam lantai akibat bantingan yang dilakukan Midori dan hanya memerlukan waktu 3.5 detik. Tubuhku kecil, jadi tidak ada kesulitan berarti hanya untuk membantingku.
Pada saat yang bersamaan, Kazura, Izano, dan Rinjou menepuk dahi mereka. Nampaknya aku bakal masuk ke Ruang Kesehatan...
Saat masuk ke alam bawah sadarku sendiri setelah mendapatkan hantaman keras di kepala, aku mulai merasakan keanehan--mungkin hal terbaik menurutku...
Kenapa aku berada di ranjang?!
Ranjang yang identik dengan ranjang pengantin untuk malam pertama, ditambah dengan suasana romantis karena cahayanya hanya mengandalkan nyala lilin yang ada beberapa saja, plus interior yang keunguan--Sebentar! Wewangian apa ini?
Aku bangkit dari ranjang tersebut dan sadar jika aku sedang telanjang bulat.
"Apa-apaan ini? Memangnya di alam bawah sadarku aku selalu telanjang begini?"
Dengan lemah aku menepuk dahiku menyesal.
"Ah, mungkin karena aku terlalu mesum, beginilah jadinya... Telanjang tanpa pasangan itu rasanya seperti makan hologram... Hambar..."
Sedang menertawakan sembari mengutuk diri sendiri, suara percikan air terdengar di sebuah ruangan... Ada orang lain ya?
Suara tersebut berganti menjadi nyanyian yang merdu dari seorang wanita. Jika aku mengira-ngira dari suaranya, dia jelas lebih tua dariku...
"S-Siapa itu?" tanyaku gugup pada sumber suara.
Ketika suaraku tertangkap, sosok tersebut mematikan showernya, sekejap keluar dari ruang mandi tersebut.
Sungguh mengejutkan!
Dengan gaun transparan dia mengeringkan rambutnya dengan beberapa kali kibasan, dan sisa air mengalir lembut di tubuhnya.
Rambut blonde, mata biru, tubuh yang menggoda, itulah yang tertangkap oleh mataku.
[Ah, akhirnya kau datang juga, Pangeran~]
Pangeran? Siapa dia sebenarnya? Sungguh, aku tidak mengerti situasinya!
[Ups, akan kujelaskan di atas ranjang...]
Dengan sekali sentuhan jari lentiknya, dia berhasil mendorongku di ranjang. Nampaknya ini akan berlangsung lama sekali...
Jarinya menari-nari diatas tubuhku layaknya penari balet, dengan lembut dia mengecup dahiku.
"E-Eh? Untuk apa itu barusan?" tanyaku yang masih menunggu respon serius darinya, karena yang kutahu, dia hanya mencoba untuk menggodaku.
[Kepalamu sempat membentur lantai kan? Aku mengecupnya untuk menyembuhkanmu, Pangeran~]
Dia menjawab sembari tersenyum... Senyumannya bahkan hampir meruntuhkan pertahananku sebagai lelaki sejati, kau tahu? Itu membuat mukaku memanas...
[Nampaknya ingatanmu masih belum pulih, Pangeran. Untuk itu, bolehkah aku memperkenalkan diriku?]
Setelah menjelaskan situasinya, dia bangkit dari tubuhku. Dengan seksama aku mendengarkannya, mungkin saja ini akan menjadi pencerahan bagus.
[Aku adalah Aphrodite...]
"Ah, aku mengenal nama itu, nama dari Mitologi Yunani yang me-"
Sejenak aku memberikan jeda pada penjelasanku sendiri, tak percaya dengan yang dikatakannya. Alasannya adalah...
Mana mungkin Dewi yang mewakili Cinta, Nafsu, dan Kelahiran bisa bersemayam di dalam tubuhku???
[Akulah yang memilihmu, Pangeran...]
Memilihku? Memangnya ada yang spesial dariku?
"Sebentar... Jadi, apa yang kualami selama ini, Naya dan Hana yang menjadi sangat dekat denganku..."
[Tepat sekali~ Aku memiliki aura khusus untuk menarik perhatian lawan jenis dari manusia yang kupilih~]
Ternyata ini sebabnya? Nampaknya memang tidak mungkin juga jika aku bisa diperhatikan Naya dan Hana semudah ini tanpa bantuannya.
[Sesungguhnya bukan hanya itu alasanku memilihmu...] lanjutnya, namun kini raut wajahnya berubah menjadi murung.
"Lalu, apakah ada alasan lain?"
Aku perlu penjelasan lain lagi.
[Di dalam tubuhmu, ada sosok malaikat jatuh yang disegel 10 tahun yang lalu...]
10 tahun yang lalu? Aku tidak ingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu-
Kecupan hangat Aphrodite kearah bibirku kemudian memutar kembali apa yang terjadi 10 tahun yang lalu di Kyoto.
Kyoto, Jepang
10 Tahun Sebelumnya...
Langit yang tadinya begitu indah, malam yang penuh dengan hiasan bintang dan bulan sabit, tanpa diketahui alasannya berubah menjadi merah semerah darah. Dari langit merah tersebut, muncul ratusan sosok bersayap dengan membawa tongkat dan dua tanduk di kepalanya.
Iblis turun dari langit dalam waktu sekian menit, menyisakan teriakan mencekam dari para penduduk yang dibantai.
[Manusia, makhluk rapuh dan lemah namun menginginkan dominasi... Aku tidak percaya ini...]
Salah satu yang masih mengibaskan ketiga pasang sayapnya di langit bergumam bosan ketika menatap banyak manusia yang mati dalam sekali tebasan.
[Sungguh Malaikat Jatuh yang angkuh... Bukankah begitu, Lucifer?]
Sosok lain disebelahnya, dengan 10 sayap hitam menyindir sosok tadi.
[Itu kebenaran, Azazel...]
[Baiklah, baiklah...]
Beberapa alat tempur mulai bermunculan, membombardir dari pusat kota, namun kebanyakan dari mereka adalah iblis, jadi mereka kebal terhadap peledak normal.
[Cih, membosankan...]
Sekejap mata, saat sosok yang dipanggil Lucifer itu menunjuk kearah suara berisik tersebut, dan muncul distorsi di Pusat Kota, menghisap semua mesin penghancur yang dikerahkan pemerintah untuk melenyapkan para Iblis.
[Oi, lihatlah... Ada tamu yang menarik rupanya disini...]
Dari kilatan tersebut, terlihat beberapa orang dengan seragam khusus, dengan bersenjatakan Pistol dan sebilah Pedang Putih.
[Pasti orang-orang lemah lagi...] ucap Lucifer yang masih bosan.
"Pergilah kalian, Malaikat Jatuh! Ini bukan wilayah kalian! Atau kami, Klan Nakamura, yang akan mengusir kalian!" seru salah satu pria dari kelompok tersebut.
[Klan Nakamura?]
Sebuah suara terdengar di telinga Azazel, seperti komunikasi jarak jauh lewat pikiran, lebih mudahnya disebut telepati.
'Azazel-sama, ini gawat!'
[Apa yang terjadi?]
'Kami diserang beberapa orang yang mengaku dari Klan Nakamura, mereka dibekali Senjata Tuhan dan berhasil mengalahkan Komandan Astaroth! Apa yang harus kami lakukan?'
[Si bodoh itu... Perintahkan seluruh pasukan untuk mundur! Kita tidak bisa mengorbankan Komandan Pasukan lagi...]
'Baik, Azazel-sama!'
Setelah mengakhiri laporan dari salah satu iblis, Azazel berbisik pada Lucifer.
[Nampaknya mereka tidak bisa dianggap remeh, Lucifer...]
[Apa yang perlu kita takutkan dari mereka?]
[Mereka berhasil membunuh Astaroth dengan senjata tuhan...]
[Apa?!]
Nampak Lucifer terkejut saat mendengar beritanya, namun raut wajah tersebut berubah dengan cepat menjadi tawa kepuasan.
[Bhahahahahaha! Menarik sekali... Menarik! Ini akan menjadi hiburan yang berkualitas untukku!]
Kelompok Klan Nakamura mulai bersiaga, salah satu wanita dalam kelompok tersebut memberikan perintah.
"Kalian serang Azazel, biar aku yang mengurus Lucifer!"
"Baik, Meika-san!"
Mereka memecah kelompok, lalu mulai melaksanakan tugasnya. Meika mulai berduel dengan Lucifer.
Lucifer nampak tidak ingin mengecewakan lawannya dengan menaikkan aura hitamnya.
[Sepertinya kau lebih hebat dan kuat dari mereka... Baiklah, aku akan melayanimu!]
Sebilah pedang hitam muncul di tangan Lucifer. Meika melesat cepat kearah Lucifer dengan menapak udara.
Lucifer berhasil menangkis serangan Meika, namun tidak berhenti sampai disitu. Meika menembakkan beberapa peluru silver, membuat Lucifer sedikit kewalahan.
sementara itu, Azazel di tempat yang tidak jauh dari Lucifer hampir tertusuk Pedang Suci, namun berhasil mengelak dengan mengorbankan dua sayapnya.
[Sial... Mereka lebih buruk dari yang kubayangkan! Lucifer, kita mundur sekarang!]
Namun Lucifer tidak mengindahkan peringatan tersebut dan tetap menyerang Meika bahkan kini serangannya lebih kuat.
Dengan segenap kekuatan, Meika memberikan mantra pada Pedangnya, lalu kembali memberikan komando pada anggotanya yang selesai memukul mundur Azazel.
"Kalian runtuhkan pertahanan Lucifer, sementara aku akan menyiapkan mantra segelnya!"
"Dimengerti!"
Kini, Lucifer mulai terdesak dengan serangan yang lebih banyak. Dengan terpaksa, Lucifer menggunakan puluhan bola energi hitam untuk menyerang beberapa anggota Klan Nakamura.
[Sialan... Matilah kalian semua!]
Bola energi tersebut seketika berubah menjadi laser dan menembus tubuh penyerangnya. Beberapa anggota yang berada di jarak dekat tumbang begitu saja dengan tubuh berlubang.
"Guhah!"
"Ughoh!"
Salah satu anggota berhasil menembakkan beberapa peluru ke sayap Lucifer, membuatnya kehilangan keseimbangan.
[Brengsek... Peluru Suci!]
"Meika-san! Sudah saatnya!"
Ketika cahaya pada Pedang Suci Meika menguat, Meika memberikan serangan utama pada Lucifer.
"Wahai Cahaya yang menghapus kegelapan, Wahai Malaikat yang menjaga surga, Wahai Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta beserta kehendaknya, dengan ini aku memohon, Segel Malaikat Jatuh yang tersesat ini!"
Sebuah segel muncul di ujung Pedang Suci, dan tanpa halangan menancap di dada Lucifer.
[Gah! Manusia sialan! K-Kau menggunakan seluruh kekuatanmu hanya untuk ini?]
Lucifer menghempaskan Meika dengan sayapnya, dan membuat Meika terbanting di tanah dengan keras.
Entah kenapa, saat itu Venzo ada disana.
"I-Ibu...?"
Venzo kecil nampak ingin menangis menatap Ibunya yang tergolek lemas dengan luka yang parah. Darah segar keluar dari bibirnya.
"V-Venzo... Anakku... Kemarilah..."
"Huaaaaaaaa!!!"
Venzo menangis keras lalu berlari untuk sekedar memeluk Ibunya yang sekarat.
"Ibu tidak apa-apa, nak... Ibu akan pulih begitu dirawat di Rumah Sakit..."
Sementara itu, Lucifer masih terkunci pergerakannya oleh segel Meika.
[Lepaskan segel merepotkan ini, wanita sialan!]
Lucifer mencoba memecahkan segel tersebut dengan aura hitamnya, namun tidak ada respon sama sekali. Aura hitamnya terhapus begitu segel bereaksi.
Segel Klan Nakamura membutuhkan tempat untuk mengaktifkan seluruh segel yang berwujud Penjara Cahaya berbentuk Prisma. Yaitu tubuh manusia hidup untuk mengurungnya, mengikatnya dengan jiwa yang kuat, hanya dengan begitu Segel Abadi mampu aktif dalam waktu yang lama.
Merasa Segel mulai meredup, Meika tidak ada pilihan lain. Meika menyentuh tubuh Venzo kecil dengan jarinya yang bercahaya, dan menuliskan beberapa huruf sihir.
"Maafkan aku, Venzo... Mungkin dengan ini, kau bisa menjadi lebih kuat dan bertanggung jawab..."
Sebuah Lubang Cahaya muncul dari tulisan tersebut, menyeret tubuh Lucifer dengan menghisapnya.
[Apa ini? Kau ingin menyegelku pada tubuh anak kecil itu? Tidak bisa! Aku tidak terima ini!]
Lucifer mengibaskan sayapnya, namun tertahan oleh efek Peluru Suci yang masih bersarang di sayapnya.
[Tidak... Aku tidak terima ini! Aku akan mengutukmu, Klan Nakamuraaaaaaa!]
Dalam waktu beberapa puluh detik, Lucifer lenyap dalam Lubang Cahaya yang menghisapnya, menyisakan keheningan disana. Seluruh pasukan yang dipimpinnya tumbang, sisanya ditarik mundur bersama Azazel. Langit pun kembali normal, namun tidak dengan bangunan yang hancur dan para korban Insiden malam itu. Venzo pingsan setelah menerima segel tersebut, dan Meika masih tergolek lemas.
Saat itu, turunlah sosok wanita cantik dengan gau n putih, membelai rambut Venzo.
[Dengan Cinta, aku memilihmu untuk menjaga siapapun yang kau cintai, Wahai Pangeranku~]
Setelah selesai dengan kata-katanya, dia menghilang di dekat Venzo dan Meika, berubah sebagai cahaya biru yang menyelimuti tubuh kedua orang tersebut.