
"Hooooaaaahhheeemmmm~~"
Aku mengucek mataku perlahan sembari bangun dari tempatku berbaring, saat secercah sinar mentari menyelinap lewat kelambu berwarna biru, jendela kamar kontrakan nomor 1.
"Baru bangun, Sensei?"
Teman dari kamar kontrakan nomor 3, Yamaguchi Izano, sudah berseragam sambil membawa sarapan dari kamarnya, berkata padaku dengan tersenyum.
"Yaaaaah, begitulah. Naskah ceritaku belum selesai, padahal para pembaca sudah menunggu sampai-sampai mereka mengomel memenuhi feedback akunku. Hoooaaaahhheeemmm...~"
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku kelelahan karena pertempuran kemarin malam. Bisa-bisa aku digantung ditempat.
Rasa kantuk yang berat masih menyelimutiku, aku menggaruk-garuk kepalaku sambil melangkah menuju kamar mandi setelah menjawab pertanyaan Izano.
Saat akan membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba sosok lelaki muncul dari sana, membuka pintu tepat kearahku. Tumbukan pun terjadi dan sukses membuatku terjatuh kebelakang dengan muka merah merekah.
Aku mengusap wajahku yang mendapatkan energi panas dari momentum yang dihasilkan antar benda dengan kontur yang rata. Sosok itu dengan santai malah tertawa sambil mengejekku.
"Wah, wah... Sepagi ini sudah berciuman dengan pintu kamar mandi? Sungguh mesum kau ini, Ero-Ecchi*! Hahahaha!"
"Berciuman pantatmu! Mana aku tahu kalau kau ada di dalam, Bakazura!?"
"Ahahaha, maaf. Aku meminjam kamar mandimu sebentar. Rinjou juga sudah siap, kemungkinan dia sedang membenahi komputer pemilik kontrakan."
Kami berempat adalah bagian dari Rumah Kontrakan SONY atau jika dijabarkan berarti Semotare Nashi Yusu*. Kontrakan berlantai 2 yang dikhususkan untuk para pemuda kesepian- sebenarnya sih, hanya pemiliknya saja yang kesepian.
Aku Ryuichi Venzo. Siswa kelas 3-A yang bersekolah di SMA Shibuya- Eh, apa tidak apa-apa jika aku menjelaskan lagi? Tapi, nampaknya memang tidak ada masalah...
Aku bersekolah di SMA Shibuya, sedangkan kami tinggal di Shinjuku. Bodoh kan? Tidak secepat itu. Alasanku bersekolah di SMA Shibuya, karena SMA tersebut menerima siswa-siswa dengan hobi yang aneh - sepertiku.
Disamping bersekolah, aku juga membuat karya tulis di sebuah website yang memang diperuntukkan untuk pengguna yang suka berkreasi atau sekedar menghibur dengan ide tulisnya. Yah, sebelumnya sih, aku lebih condong ke bakat musik. Tapi, karena kekurangan fasilitas dan juga kurangnya dukungan dari keluarga, akhirnya aku hanya bisa bermain musik dengan normal. Entah kenapa beberapa tahun ini aku lebih suka menulis, mungkin karena pengaruh dari anime yang kutonton...
Aku juga suka menonton anime, sampai membaca Light Novel dari anime tersebut, ya sejenis Date A Love, Highschool OxO, Catatan Akademi tentang Si Guru Brengsek dan lain sebagainya (maaf tidak kusebutkan, intinya aku hanya membaca genre yang sama dengan yang kusebutkan diatas). Mungkin dari situlah keinginanku untuk menulis mulai tumbuh. Padahal awalnya aku sangat tidak suka menulis, disamping jarimu akan terasa lelah dan kaku jika terlalu banyak menulis, kau juga memaksakan diri untuk memikirkan apa yang ingin kau tulis. Hobi yang merepotkan.
Tak lama kemudian, satu teman yang terakhir datang dengan beberapa perkakas kecil ditangannya, menyapa kami bertiga.
"Yo, semuanya!"
"Yo!"
Kazura menyapanya dengan santai. Aku menanyakannya sembari mengenakan seragam sekolah.
"Yo, Rinjou. Sudah selesai dengan pekerjaan rutinmu?"
"Seperti biasa, komputer Rentarou-san memiliki sedikit keluhan pada motherboardnya."
Dia adalah Kyuasagi Rinjou, entah asalnya darimana, dia tiba-tiba saja menemuiku tanpa alasan dan memintaku untuk mengangkatnya menjadi murid.
Masih menjadi misteri kenapa dia bisa mengetahui posisiku secara detail. Bukan sebuah kebetulan jika kau tanya.
Dia memiliki ketertarikan tinggi dalam teknologi modern, semacam program komputer maupun program untuk Smartphone, hingga dia bisa menciptakan sebuah program alarm dengan bentuk gadis kecil yang imut.
Dia mendedikasikan dirinya di kategori teknologi, ya wajar saja jika dia sangat ahli dalam ilmu tersebut, tidak sepertiku yang hanya dengar dari berita saja.
Ya, kami adalah satu grup yang berisikan pemuda dengan fetish yang berbeda. Bisa dibilang aku yang punya fetish paling banyak.
SMA Shibuya, SMA dengan kualitas yang bisa dibilang bintang 4 ini, memberikan fasilitas yang berkelas, tempat yang bersih, dan nyaman untuk siswa sepertiku.
Seketika setelah kami sampai di depan gedung SMA Shibuya, kami saling bertegur sapa antar siswa seperti biasa.
"Selamat pagi!"
"Selamat pagi..."
Begitulah aktivitas umum ketika kami saling berpapasan, karena saling bertegur sapa hanya memerlukan waktu sedikit juga memperdekat hubungan kami sebagai siswa satu sekolah.
Tak pandang kelas ataupun angkatan, kami berempat berusaha sesempat mungkin menyapa siapa saja yang kami temui ataupun satu jalur dengan kami.
Tak lama, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gedung. Dengan sosok pria berpakaian pelayan yang keluar dari kursi kemudi, lalu membuka pintu sisi yang lain.
Saat dia akan membukanya perlahan, Nampak sosok gadis keluar dengan mendorong pintu tersebut, membuat si pembuka terguling dari situ. Gadis tersebut terlihat sangat enerjik kemudian menyapa beberapa temannya yang kebetulan di dekat situ.
"Selamat pagi, semua~!"
"Selamat pagi, Naya-san~"
Dia adalah Kusakabe Naya, sosok gadis yang memiliki hobi sama denganku. Musik.
Mungkin hari ini aku perlu sembunyi, kalau tidak, dia bakal menggandengku layaknya kekasihnya. Aku jadi tidak enak dengan ketiga idiot yang sedang bersamaku ini.
"Hei, mau kemana kau?" Tanya Kazura yang berhasil menahan pergerakanku dengan menggenggam kerah seragam bagian belakang milikku.
"Itu... Sekarang sudah hampir jam masuk. Bagaimana kalau kita segera ke dalam gedung?" elakku sembari menunjukkan Smartphoneku padanya.
"Tapi, Sensei... Naya-senpai baru saja sampai lho..." tukas Izano yang sepertinya sadar jika aku ingin lari.
Tidak lama berselang, Naya menangkap pergerakan kami, karena saat itu, kami memang sedang berada di jalan lurus di halaman gedung SMA Shibuya. Wah, bahaya ini...
Tidak menunggu lama, dia langsung berlari diantara siswa-siswi yang berjalan santai, dan berhasil menangkap lenganku tanpa halangan.
"Selamat pagi, Ve-n-zo-kun~"
MUNYUUN~!
Dan terjadi lagi... tatapan membunuh para fans Naya pun menusukku, dari segala arah dan dari segala jarak. Apa aku harus menghabiskan masa mudaku dengan teror seperti ini?
"Yo... S-Selamat pagi, Naya..."
Aku pun membalasnya dengan nada gugup. Jangankan balas memeluk, menyentuhnya sekarang akan jadi ranjau buatku. Jadi, aku hanya membalas sapaannya saja, sekaligus membiarkan dia bermanja-manja di lenganku. Kazura sudah melepaskanku, Izano dan Rinjou mendesah pelan. Mereka nampaknya sudah memaklumi hal ini.
"Nee, nee, Venzo-kun..."
"Hmm?"
"Apakah kau belum berminat untuk mengikuti Klub?"
Itulah yang ditanyakan Naya hari ini. Memang, aku belum menjadi anggota klub apapun karena aku bosan. Yang kuikuti hanyalah Klub Pulang Sekolah saja. Kazura? Dia sudah menjadi anggota Klub Beladiri. Izano? Mungkin yang dia inginkan adalah fokus pada bidang akademinya. Rinjou tidak perlu ditanya lagi, dia hanyalah seorang Techno-Loli, jadi dia tidak memerlukan yang lain.
"Hmm, bagaimana kalau Klub Musik?" tawar Naya padaku.
Yah, aku juga sudah lama menginginkannya. Lagipula, tidak ada fasilitas yang diberikan di Kyoto. Jadi, mungkin tidak ada salahnya jika aku ikut Klub Musik.
Ketiga idiot menguping dengan seksama pembicaraan kami dari belakang. Kazura yang pertama kali menanggapi.
"Bagus jika seperti itu, daripada kau tidur setelah pulang sekolah... Jangan banyak mengkhayal dengan membuat waifu di Smartphonemu..." ejek Kazura.
"Sekali-kali kau disibukkan dengan Klub sampai sore itu tidak apa-apa, Sensei... Lagipula, aku juga ikut Klub Olimpiade kok." tambah Izano terlihat bersemangat. Ternyata kau ikut Klub juga? Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal, dasar murid sialan!
"Rupanya kalian berdua menyindirku..." tanggap Rinjou cepat saat memasukkan Smartphone ke dalam kantongnya.
Klub Musik? Ide bagus.
"Lagipula, sebelum liburan musim panas tiba, Klub Musik akan ikut festival di Akihabara lho..." Naya menyampaikannya seperti sedang memberiku kesempatan untuk menjadi terkenal sepertinya.
Yup, beberapa minggu lagi, musim panas akan tiba. Dan rupanya aku belum memutuskan kegiatan apa yang akan kulakukan selama itu. Menulis? Itu bisa dilakukan di hari biasa sih, jadi aku tidak terlalu sibuk.
"Jika kau mau, saat jam istirahat, kita akan bicara dengan ketuanya..."
"Ha? Kau ikut juga?"
"Tee-hee~"
Beberapa menit berselang, ketika hampir sampai di pintu masuk gedung SMA Shibuya, satu sosok gadis lagi menyapa kami – lebih tepatnya menyapaku.
"Selamat pagi, Senpai~"
Siapa lagi kalau bukan ketua Klub Tenis dan Anggota Klub Beladiri? Dia adalah Hanazawa Hana. Gadis dengan tubuh ramping dan mungil ini menjadi idola diantara sekian banyak siswa di SMA Shibuya, dari mulai kelas 1 sampai kelas 3, bahkan beberapa Anggota Klub pun mencoba mengungkapkan perasaan mereka.
Namun dengan halus dia menolak, yang parahnya adalah, dia memilih untuk dekat denganku yang biasa-biasa saja ini – maksudku aku hanya manusia biasa, tidak lebih dan tidak kurang, ingin menjalani kehidupan normal, meskipun dalam hatiku aku ingin menemukan apa yang bisa diharapkan dari eksistensiku di dunia ini.
"Selamat pagi, Hana..."
"Selamat pagi, Hana-chan~"
Namun, saat Naya mencoba mempererat dekapannya ke lenganku dengan dada lembutnya yang semakin mendesak, Hana menggembungkan pipinya.
"Moo~! Naya-senpai curang!"
"Maaf... Hehehe..."
Tak ingin kalah, dia mendekap lenganku yang lain. Jadi, kali ini, aku tak bisa kemana-mana lagi, selain mengikuti mereka. Trio idiot pun menepuk dahi mereka bersamaan melihat ini, dan semakin bertambah lagi tatapan membunuh dari fans mereka berdua.
"Aduh, aduh..." keluhku pelan.