
"Haaaah~ Akhirnya selesai juga... Lelahnya~"
Itulah keluhanku setelah menyelesaikan sesi latihan karena otot betisku terasa kaku.
"Baiklah, kita bisa istirahat untuk hari ini karena besok kita harus tampil maksimal..."
Kenji bertutur setelah melepaskan beberapa kabel dari amplifier studio ruang Klub Musik. Iori dan Yui pun merapikan alat yang mereka gunakan agar terkesan rapi saat orang lain akan memakainya.
Tak terkecuali Naya yang setelah selesai dengan electric piano milik Klub Musik, langsung mengejutkanku dengan minuman kaleng dingin menempel di pipiku.
"Sudahlah, kita sudah melakukan yang terbaik, kan? Ini, minumlah."
Klub Musik memang memiliki cukup banyak pemasukan dari hasil perlombaan juga dana dari Kepala Sekolah. Namun yang memberikan pemasukan terbanyak adalah Naya. Jadi, Klub Musik memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lain. Contohnya, Klub Musik memiliki 2 ruang Klub, salah satu ruang digunakan untuk studio dan satu lagi untuk ruang utama tempat berkumpul dan berdiskusi oleh para anggota.
Untuk internet, kami memiliki koneksi sendiri maupun akses koneksi dari pusat sekolah yang jangkauannya ada di area sekolah saja. Meskipun sekolah ini memiliki luas sekitar 780 meter persegi, koneksi tanpa kabel milik sekolah tetap bisa diakses sampai ke sudut sekolah pun. Mungkin teknologi wifinya terlalu hebat, dan pastinya mahal. Tidak perlu diragukan dari sekolah ini.
Sejenak kami beristirahat di sofa ruang studio Klub setelah membereskan alat-alatnya. Meskipun sirkulasi udara yang dihasilkan AC masih aktif, aku membuka pintu studio untuk memberikan udara alami dari luar untuk menetralkan bagian sintetisnya.
Berkat handuk kecil dari Naya yang memang disiapkan padaku, kepalaku sejuk hanya dengan menyekanya. Aromanya menenangkan...
Benar-benar aroma khas Naya...
"Wah, wah, semakin perhatian saja pianis satu ini pada kapten kita..." celetuk Kenji setelah selesai meminum minuman kaleng rasa es kopi miliknya.
"Kapten kita memang memiliki kharisma yang menakutkan!" tambah Iori sambil terkekeh.
"Memang sebesar itu ya?" tanyaku keheranan.
"Bisa terlihat dari caramu memainkan Drum, ketukan yang seimbang dan sinkron dengan permainan kami, tidak ada salahnya jika kau menjadi seorang kapten."
Intuisi Yui mengatakannya seperti itu. Jadi, memang benar hal itu ya?
"Benar kan~? Itulah mengapa aku bisa dekat dengannya yang dapat mengadaptasikan dirinya dengan kita~"
Sambil memelukku manja, dia mengatakan apa yang ingin dia katakan. Baiklah, baiklah. Aku mengalah saja.
Hari pun terlewat hingga cahaya senja menembus celah jendela ruang Klub. Kami pun bergegas untuk berpisah ke tempat masing-masing menuju rumah.
"Jangan lupa untuk besok, Kapten! Kita berkumpul disini setelah agenda pengumuman dari Kepala Sekolah selesai, lalu berangkat ke Akihabara." kata Iori mengingatkanku. Akupun hanya mengangguk sembari melambaikan tanganku lalu berucap "Iya, iya..."
Iori, Kenji dan Yui pulang bersama setelah berpamitan padaku dan juga Naya. Soal itu, Naya masih berhenti untuk menungguku pulang.
"Naya?"
Aku menemukannya sedang melamun, saat aku memanggil namanya, dia nampak terkejut.
"Ah, maaf!"
"Dasar... Apalagi yang kau pikirkan?"
Tatapan matanya sedang memancarkan kesedihan berarti, yang sepertinya ini masalah yang cukup serius.
"Aku merasa... Liburan musim panas ini akan menjadi perpisahan..." tuturnya.
"Perpisahan? Maksudmu?"
"Mungkin ini hanya perasaanku saja, bahwa, kau akan pergi jauh nanti..."
Mendengar itu, sontak dadaku terasa sesak, entah kenapa firasat Naya sudah mulai mempengaruhi diriku. Aku pun mengutarakan pendapatku sendiri.
"Yah, aku akan tetap disini. Aku berjanji. Lagipula, jika aku pulang ke Kyoto, aku pasti akan mengirimkan alamatku padamu agar kau dapat mengunjungiku. Sederhana, kan? Atau aku akan mengunjungimu sesekali."
Meskipun aku menjelaskannya, raut wajah Naya tak berubah sedikitpun, malah yang ada, matanya berair dan mulai membasahi pipinya.
"Are? K-Kenapa aku merasa sangat sedih?"
Kini, Naya dalam mode rapuhnya, dia adalah seorang gadis normal. Meskipun tergolong aktif dan selalu ceria, saat bersamaku, dia bisa menjadi dirinya sendiri yang jujur pada perasaannya.
Dari situ aku pun bisa merasakan apa yang dirasakannya, bagaimana jika kita berdua memang akan berpisah. Waktu terus berjalan dan tak kenal kompromi terhadap apa yang akan terjadi. Maka dari itulah, ketika dihadapkan dengan perpisahan, dua insan yang memiliki hubungan sangat dekat pasti akan merasakan perasaan kami saat ini.
"Sudah, sudah. Kau masih bisa merasakanku, bukan?"
Dia menenggelamkan wajahnya di dadaku, tak ingin aku melihat wajahnya yang penuh dengan kesedihan.
Managernya pun datang dengan mobil pribadi, lalu menghentikannya didekat kami.
"Ada apa dengan Naya-san?" tanyanya saat membuka jendela pintu mobil.
"Dia hanya ingin sedikit waktu bersamaku..."
Dia hanya mengangguk saat mendengarkan jawabanku, seperti dia mengerti akan situasinya tanpa khawatir. Yah, aku sudah menyelamatkannya dari pertunangan paksaan lewat duel melawan Calon Direktur Perusahaan Tokyo dan berhasil mengubah pemikiran ayahnya. Jadi, wajar saja jika aku bisa menjaga Naya sampai saat ini.
"Biarkan aku ikut mengantarnya pulang..." pintaku pada Managernya.
"Masuklah."
Begitu ada izin dari manager, aku masuk ke dalam mobil bersama Naya yang masih belum mau melepaskanku.
...
Sementara itu...
...
Sebuah laporan terlampir tentang alat pemindah objek muncul di depan hologram seorang pria paruh baya dengan rambut putih panjang dan berkacamata yang sedang duduk di ruangannya. Matanya nampak menatap kesana-kemari menjelajahi dokumen tersebut. Tak lama, sebuah jendela hologram dengan gambar bergerak muncul di sudut atas hologram, berbicara padanya.
[Kazama-kouchou, Alatnya akan siap dalam 7 tahun. Apakah itu cukup?]
Sang pemilik nama mengetukkan jari telunjuknya berulang kali di permukaan meja, lalu menyampaikan.
"Tenang saja. Itu sudah lebih dari cukup, Professor Misaka. Biarkan mereka menikmati satu minggu kehidupan mereka di Bumi sebelum pihak kita memanggil paksa mereka kemari. Oh, sungguh kejahatan galaksi, jika pergerakan kita diketahui oleh Bumi, kita bakal kena ancaman dari mereka~"
Kazama mendesah pelan memikirkan hal tersebut. Misaka kemudian memberitahu tentang alat yang disebutkan tadi.
[Dengan teknologi kita yang 100 kali lipat lebih canggih, pergerakan kita tidak akan terdeteksi oleh Bumi.]
"Jika begitu, aku serahkan sisanya pada kalian, Professor Misaka. Jangan biarkan Hiroshi mengambil mereka dahulu, karena mereka..."
Sejenak Kazama memotong ucapannya. Mengerti akan situasinya, Misaka langsung menyambungnya.
[Laporan telah selesai. Saya permisi.]
"Ah, baiklah. Terimakasih atas laporannya. Kerja bagus."
Hologram pun memudar, bersamaan dengan komunikasi mereka berdua. Disamping Kazama, ada empat gadis dengan pakaian ala maid sigap menjaga sosok mata empat pimpinan tempat tersebut.
"Ruruberry 01, tolong ambilkan potongan prasasti peninggalan leluhur kita."
"Siap, Kazama-sama~"
Dengan gerakan yang imut, salah satu miad berpenampilan seperti penyihir cilik dengan tongkat bertahta bentuk hati dan rambut ala twintail memutar-mutar tongkatnya sembari mengucapkan mantra.
"Ruru-Ruru Magic Wand, katakan padaku apa yang tersimpan disana~"
Setelah mantra selesai, dimensi ditangan yang ditunjuk tongkatnya terdistorsi, memunculkan sebuah batu lempengan yang telah tertoreh sesuatu seperti sebuah tulisan.
Huruf yang sulit dimengerti, namun jika diterjemahkan seperti ini :
-Ryuichi Venzo, Engetsu Kazura, Yamaguchi Izano, Kyuasagi Rinjou adalah kunci dari Imagination System. Panggil paksa mereka atau seseorang-
Kata tersebut berakhir disana, memunculkan pertanyaan di kepala yang membacanya...